Tekuni Pembuatan Telur Asin, Nasmiati Bantu Perekonomian Keluarga

LAMPUNG — Dengan menekuni pembuatan telur asin, Nasmiati (40), warga Desa Bandan Hurip kecamatan Palas kabupaten Lampung Selatan mampu menghasilkan uang Rp500.000 sekali penjualan dan dapat membantu perekonomian keluarga.

Bersama anaknya, Ipang (14) yang duduk di bangku sekolah MTS Blangah kecamatan Sragi ia mampu membuat 500 butir telur asin per pekannya. Telur tersebut dijual di warung-warung yang ada di beberapa kecamatan yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.

Harga telur asin rebus yang dibuatnya dijual kepada pemilik warung dengan harga Rp2.500 perbutir. Saat menjual telur asin dengan rata rata 200 butir atau dengan hasil sekitar 500.000 sekali penjualan ia juga mengaku kerap mendapat pesanan dalam jumlah banyak terutama menjelang hari raya Idul Fitri.

Menjelang arus mudik dan arus balik liburan hari raya Idul Fitri sebagai oleh-oleh dan sajian pada sejumlah rumah makan serta warung kuliner yang menyertakan menu telur asin bebek.

Nasmiati menyebut kegemaran masyarakat pecinta kuliner akan telur asin diakuinya cukup memberi dampak positif baginya karena dengan harga beli telur asin mentah proses pengolahan telur asin bisa meningkatkan nilai jual sekaligus mengawetkan telur yang bisa disimpan selama hampir sekitar 20 hari.

“Pengasinan telur bebek diakuinya sekaligus menghilangkan rasa amis khas telur bebek jika diolah secara digoreng,” terangnya saat berbincang dengan Cendana News.

Pasokan telur bebek dengan ciri khas cangkang atau kulit hijau tersebut pada bulan November hingga Desember cukup melimpah. Selain dari hasil ternak sendiri, ia juga membeli dari peternak lain dengan harga Rp1.200 per butir selanjutnya diproses menjadi telur asin secara tradisional.

“Sebelum dibuat terlebih dahulu disortir berukuran seragam agar proses pengasinan bisa maksimal sekaligus memeriksa kondisi cangkang agar tidak dalam kondisi retak atau pecah,” terang Nasmiati yang sudah menekuni pembuatan telur asin bebek sejak lima tahun silam dengan cara tradisional menggunakan abu gosok dari hasil pembakaran jerami dilengkapi dengan garam.

Nasmiatun dibantu sang anak membuat telur asin bebek dengan abu gosok dan garam [Foto: Henk Widi]
Proses awal pembuatan dimulai dengan pembersihan telur melalui pencucian. Selanjutnya proses penyiapan abu gosok dan garam dilakukan dengan perbandingan 2:1 dengan satu bak atau ember abu gosok maka disiapkan sebanyak setengah ember garam dapur yang ditakar sedemikian rupa agar proses pengasinan bisa berjalan dengan sempurna.

Setelah direndam dalam adonan abu gosok dan garam selama satu jam sekaligus mendinginkan telur usai direbus proses selanjutnya proses membaluri telur dengan ketebalan mencapai satu sentimeter. Adonan yang merata menjadi kunci agar semua telur asin hingga mencapai kuningnya. Setelah dibaluri abu gosok cukup merata proses penyusunan pada kotak kayu khusus dilakukan selanjutnya wadah ditutup rapat dan didiamkan selama 14 hari.

“Karena pembuatan telur asin ini menyesuaikan dengan tingkat permintaan selama dua pekan menunggu telur asin jadi saya berkeliling menjual telur asin menggunakan sepeda motor ke ratusan warung kuliner di beberapa kecamatan di antaranya Palas, Sragi, Penengahan hingga Kalianda,” beber Nasmiati.

Upaya menjaga kualitas bahan kuliner telur asin yang dibuat secara tradisional, menurut suami Nasmiati, Warid yang juga peternak, makanan bebek harus alami di lahan persawahan, bukan diberi pakan buatan.

“Telur hasil bebek penggembalaan memiliki warna kuning telur yang lebih cerah dan renyah dan banyak disukai pelanggan,” sambungnya.

Telur bebek yang telah dibuat kerap dipesan oleh pemilik warung kuliner soto ayam, mie ayam bakso serta sejumlah warung yang menjadikan telur bebek asin sebagai tambahan lauk sekaligus bisa dijadikan camilan ringan. Selain digunakan sebagai camilan atau lauk makan telur asin tersebut juga kerap dijadikan campuran menu sayur lodeh oleh sebagian ibu rumah tangga yang menyiapkan masakan untuk keluarga.

Lihat juga...