Nelayan Bintan Sulit Melaut Akibat Musim Angin Utara

BINTAN — Nelayan tradisional di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, sulit melaut akibat gelombang laut tinggi pada musim angin utara.

Abdul Razak (42), salah seorang nelayan di Desa Teluk Bakau, Bintan, Minggu (3/12/2017), mengatakan nelayan juga sulit mendapatkan ikan pada musim angin utara, karena arus laut cukup kuat yang disertai angin kencang.

“Sekarang susah dapatkan ikan, walaupun kami memancing di tempat karang,” katanya.

Razak merupakan nelayan yang hanya mengandalkan pancingan untuk mendapatkan ikan. Selama musim angin utara ia hanya turun ke laut pada saat gelombang tidak tinggi.

Sementara kalau cuaca buruk, ia hanya memperbaiki perahu yabg bersandar di pelabuhan di dekat kediamannya.

“Kalau cuaca bagus, saya pergi melaut. Pergi pagi, pulang malam,” ujarnya.

Kebiasaan ini hanya dilakukannya pada saat musim angin utara. Sementara pada saat cuaca baik, Razak melaut hingga empat hari.

Pada saat cuaca bagus, ia mengincar ikan tenggiri. Harga ikan tenggiri tinggi, 1 kg Rp100.000. Karena itu, pendapatannya bisa mencapai jutaan rupiah selama 3-4 hari melaut.

“Ikan kami jual ke penampung. Kadang hasil tangkapan ikan sampai Rp10 juta kalau cuaca bagus,” katanya.

Irlan, salah seorang nelayan tradional di Bintan juga mengalami nasib yang sama. Ia tidak melaut selama musim angin utara karena gelombang laut tinggi.

“Kami berhemat di rumah karena tidak melaut,” ucapnya.

Saat gelombang laut dan arus tenang, Irlan melepas bubuh ikan di tengah laut. Setiap hari ia memantau bubuh tersebut.

“Seminggu sekali kami tarik bubuh itu. Hasilnya lumayan,” tuturnya.

Sementara itu, sejumlah nelayan di Bintan juga memiliki pekerjaan lainnya, seperti penyediakan tempat penginapan untuk wisatawan di pulau tertentu. Pendapatan mereka dari usaha ini cukup besar, terutama pada saat hari libur.

“Kalau lagi ramai sehari bisa Rp2 juta-Rp3 juta,” ucap Usman, salah seorang nelayan yang juga pemilik tempat penginapan di dekat Pulau Beralas Bakau.[Ant]

Lihat juga...