MOGADISHU – Komite Somalia menyebut lebih dari 500 orang tewas akibat serangan berupa ledakan bom yang terjai di Mogadishu pada Oktober lalu. Jumlah tersebut merupakan hasil dari penyelidikan yang dilakukan terhadap serangan mematikan tersebut.
Sebelumnya dalam dua ledakan bom truk pada 14 Oktober lalu hanya disebutkan adanya korban meninggal 358 orang. Sebuah bom truk meledak di luar sebuah hotel ramai di persimpangan K5, yang berdekatan dengan kantor pemerintah, restoran dan toko. Ledakan kedua terjadi di distrik Medina dua jam kemudian. (baca : https://www.cendananews.com/2017/10/hotel-di-mogadishu-diserang-bom-mobil.html)
Dampak dari ledakan bom truk itu sangat parah karena terjadi di dekat tangki bahan bakar yang menyebabkan adanya peningkatan besaran api dan yang membakar tubuh korban secara keseluruhan sehingga mereka tidak dapat dikenali. Hasil penyelidikan di 20 Oktober, pemerintah mengatakan bahwa jumlah korban mencapai 358 jiwa.
Setelah peristiwa itu, pemerintah membentuk komite, yang dikenal sebagai Komite Penyelamatan Zobe, untuk menghitung jumlah korban tewas secara lebih tepat. Upaya dilakukan dengan mencari keterangan melalui sanak saudara korban, yang kemungkinan berada di tempat itu saat ledakan terjadi.
“Sejauh ini kami sudah memastikan bahwa 512 orang meninggal dalam ledakan bulan lalu dan 316 lainnya mengalami luka akibat ledakan,” kata Ketua Komite Penyelamatan Zobe, Abdullahi Mohamed Shirwac, Kamis (30/11/2017).
Serangan bom tersebut merupakan kejadian paling mematikan sejak kelompok al Shabaab memulai pemberontakannya pada 2007. Al Shabaab tidak mengaku bertanggung jawab terhadap ledakan tersebut. Namun dari cara dan jenis serangan, dengan menggunakan bom truk berdaya ledak besar, serangan tersebut banyak dilakukan oleh kelompok teroris yang terhubung dengan jaringan al Qaida.
Al Shabaab melakukan serangan secara umum di ibu kota dan bagian wilayah lainnya. Meski kelompok tersebut mengatakan bahwa pihaknya hanya menyasar pemerintah dan pasukan keamanan. Sebelumnya mereka telah meledakkan bom besar di area umum yang ramai.
Mereka terkadang tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan bom berdaya ledak besar, yang memicu kepanikan warga, seperti, bom bunuh diri pada 2009 dalam upacara wisuda kelulusan mahasiswa kedokteran. (Ant)