Komoditas Buah Lokal Sokong Ekonomi Warga Ketapang
LAMPUNG — Sejumlah buah lokal memasuki masa panen menjadi berkah bagi Ento (40) dan sang putera Murdi (14), warga dusun Bangun Dana desa Bangun Rejo kecamatan Ketapang.
Mereka mulai memanen buah sawo dari sekitar sepuluh pohon sawo yang ditanamnya hasil bantuan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Lampung Selatan.
Tanaman sawo berusia enam tahun milik Ento merupakan jenis buah sawo lokal yang bertajuk lebih rendah setinggi hanya tiga meter. Lebih rendah daripada buah sawo alam yang bisa mencapai ketinggian lima meter bahkan maksimal sepuluh meter.
Menurut Ento tanaman sawo mendukung ekonomi keluarganya. Sawo tidak mengenal musim bahkan berbuah sepanjang waktu saat buah yang sudah tua dipanen maka tunas bunga baru akan bermunculan demikian seterusnya.
Dalam setahun ia bisa memanen sawo dalam jumlah banyak terutama puncak panen November hingga Desember. Ia bahkan memanen dua pohon terakhir dengan jumlah 200 kilogram, setelah memanen buah sawo dari beberapa pohon sebelumnya dengan rata rata perpohon menghasilkan 100 kilogram.
“Pekerjaan utama saya sebagai petani jagung yang sedang memasuki masa pemupukan kedua selesai dilakukan setelah itu saya bisa mengurusi hasil kebun salah satunya memanen buah sawo dibantu anak saya lumayan bisa untuk menambah penghasilan keluarga,” ujar Ento kepada Cendana News, Selasa (5/12/2017)
Hasil satu pohon sawo dengan rata rata 100 kilogram setelah dicuci dan dibersihkan sekaligus disortir sesuai dengan permintaan pedagang buah dengan harga Rp5.000 per kilogram.
Dia berhasil mendapatkan Rp500.000 per pohon atau sekitar Rp5 juta untuk sepuluh pohon, yang dipanen secara berkala setiap tiga bulan sekali.
Sebagai tanaman perkebunan yang menghasilkan Ento menyebut mengembangkan tanaman sawo miliknya dengan cara mencangkok. Sementara perawatan dilakukan dengan cara pemupukan dan pemangkasan batang tidak produktif untuk menghasilkan tunas baru yang bisa merangsang pembuahan sawo.
Pemanfaatan pupuk kandang dan pupuk kimia serta penanganan hama menggunakan pestisida diakuinya dilakukan untuk mempertahankan buah lokal yang terbukti memberi penghasilan bagi keluarganya tersebut.
“Di kebun kami memiliki sepuluh tanaman sawo namun di pekarangan belakang kami memiliki dua pohon sawo sehingga menambah produksi buah sawo yang saya miliki untuk menambah penghasilan,” ujar Ento.
Salah satu petani lain yang memiliki lahan kebun buah lokal adalah Sukiman (45). Ia adalah pemilik puluhan pohon buah Mangga Indramayu. Seperti tahun sebelumnya buah mangga miliknya dibeli oleh pedagang buah dengan sistem tebas seharga Rp500.000 per pohon, dengan harga perkilogram buah mangga indramayu seharga Rp7.000 per kilogram.
Ia menyebut pada musim buah mangga indramayu sebanyak delapan pohon buah mangga indramayu tersebut sudah dipesan oleh pedagang dengan sistem borongan seharga Rp2 juta.
“Karena mangga merupakan buah yang harus cepat dijual maka saya jual secara borongan kepada pedagang buah sebagian digunakan untuk oleh oleh keluarga yang datang ke sini saat libur Natal nanti,” beber Sukiman.
Ia menyebut musim buah pada tahun ini saat pasokan buah membanjir membuat harga anjlok namun ia masih mendapatkan hasil yang lumayan dari penjualan buah lokal mangga miliknya meski proses penanaman dilakukan dengan cara tradisional bersama jenis tanaman lain diantaranya kelengkeng dan pepaya.
Pedagang buah di Penengahan, Ismi menyebut pasokan buah yang melimpah di wilayah tersebut membuat harga sejumlah buah lokal tengah menurun. Dia memberi contoh mangga Indramayu semula Rp8.000 menjadi Rp7.000 per kilogram, semangka Rp6.000 kini menjadi Rp4.000 per kilogram, sawo semula seharga Rp7.000 kini menjadi Rp6.000 per kilogram.
Selain buah lokal yang melimpah pedagang buah tersebut mengaku melimpahnya buah impor seperti jeruk Mandarin, apel Amerika dan anggur Australia membuat pilihan buah yang dibeli lebih beragam.
“Beruntung saya memiliki pelanggan pedagang es buah dan jus buah sehingga selain konsumen langsung masih ada pedagang lain yang bisa membeli buah sebagai bahan baku pembuatan kuliner,” tutup Ismi.
Selain konsumen perseorangan,penjual es buah, jus buah, tradisi hajatan yang mulai marak membuat permintaan buah lokal cukup meningkat untuk kebutuhan pembuatan acar buah serta buah meja untuk cuci mulut sesudah makan seperti melon, semangka dan beberapa buah lain.
