Kemah Bahari Kenalkan Potensi Laut NTT
MAUMERE – Untuk memperkenalkan mahasiswa soal kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere setiap tahun melaksanakan kegiatan Kemah Bahari dengan mengambil lokasi di pesisir pantai.
“Kegiatan ini melibatkan semua mahasiswa dari tingkat awal sampai tingkat akhir. Dalam kesempatan tersebut dilaksanakan pengenalan fakultas perikanan, bahari dan wawasan kelautan dalam sebuah kegiatan dan seminar,” sebut Barnabas Pablo W.B, S.Pi., M.Si., Senin (4/12/2017).

Saat ditemui Cendana News, wakil dekan Fakultas Ilmu Kelautan Perikanan Unipa Maumere ini menyebutkan, dalam kegiatan ini juga melibatkan pembicara dari Dinas Kelautan dan Perikanan, SAR Maumere, Lanal Maumere, Dinas Pariwisata, Dinas Sosial serta Angkatan Darat dari Kodim 1603 Sikka berkaitan dengan pendidikan karakter.
“Tempat penyelenggaraan selalu berpindah-pindah, baik di pantai selatan maupun pantai utara kabupaten Sikka dan agenda berikutnya kami akan adakan di pulau-pulau yang ada di perairan kabupaten Sikka,” jelasnya.
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa lama. Sebab, wawasan itu selalu berkembang dan mahasiswa lama juga dilibatkan untuk membimbing mahasiswa baru dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari.
Yohanes Minggo, S.Pi., M.Si., Sekretaris Program Studi Sumber Daya Akuatik Fakultas Perikanan, menambahkan, potensi sektor kelautan dan perikanan di NTT khususnya kabupaten Sikka sangat menjanjikan, namun belum banyak anak muda yang menimba ilmu di fakultas perikanan serta bekerja di sektor kelautan dan perikanan.
“Sumber daya perikanan kita di NTT melimpah, namun bagaimana mengelolanya agar bisa berkelanjutan, ini yang belum maksimal. Untuk itu perlu banyak anak-anak muda yang menempuh pendidikan di fakultas kelautan dan perikanan agar bisa membagikan ilmu tersebut kepada pegiat di sektor kelautan dan perikanan,” tegasnya.
Ikan yang diekspor ke Jepang sebut, Bosco, sapaannya, banyak yang berasal dari NTT dan Indonesia timur. Tetapi, alat tangkap dan armada masih minim. Masyarakat nelayan di NTT masih belum menggunakan alat-alat tangkap modern seperti Set Net yang digunakan menangkap ikan Pelagis.
“Ini menjadi pekerjaan rumah juga buat pemerintah daerah termasuk kami untuk memberikan penyuluhan dan pengenalan alat tangkap modern. Dengan menggunakan alat tangkap modern dan armada yang mumpuni, tentu akan meningkatkan hasil tangkapan dan otomatis meningkatkan kesejahteraan nelayan,” tegasnya.
Sejak terbentuk fakultas ilmu kelautan dan perikanan pada 2005, dengan jumlah mahasiswa awal 15, papar Bosco, jumlah mahasiswa terus meningkat hingga tahun 2016 dan 2017 mencapai 40 mahasiswa. Jumlah dosen 8 orang S2 dan satu orang dosen sekaligus menjabat rektor yang sedang menyelesaikan studi S3.
Fakultas Perikanan Unipa bekerja sama dengan fakultas ilmu kelautan dari berbagi kampus di NTT membentuk sebuah wadah yang dinamakan Uni Consorsium for Sustainable Fishery. Ada 7 kampus terlibat yakni Universitas Artha Wacana, universitas Muhamadiyah Kupang, Undana, Politani Kupang, Institut Kejuruan dan Teknologi Larantuka dan Universitas Tribuana Kalabahi.
“Konsorsium ini sudah bekerja sama dengan The Nature Conservation dan telah melakukan pemetaan leuser Sunda, yakni pemetaan migrasi Lumba-Lumba dari Bali sampai Maluku Tenggara,” jelasnya.
Bosco juga menambahkan, pihaknya juga melaksanakan penanaman mangrove bekerja sama dengan LSM Wetland serta membuat perencanaan desa pesisir tangguh serta pemetaan kondisi dan kesehatan padang lamun dan mangrove di perairan dan wilayah pesisir pantai di wilayah kabupaten Sikka.
“Dengan sarana dan prasarana minim, kami terus melakukan berbagai terobosan dan kegiatan ilmiah lainnya, guna meningkatkan kualitas lulusan Unipa. Saya berharap, anak-anak muda kita harus mulai terjun ke sektor kelautan, sebab potensi pendapatan termasuk sangat menjanjikan,” bebernya.