Anak ‘Zaman Now’ Kian Minati Seni

JAKARTA – Pameran seni tampaknya semakin diminati anak muda ‘zaman now’. Pameran Seni ‘Jakarta Biennale 2017’, yang berlangsung dari 5 November hingga 10 Desember nanti, cukup banyak dikunjungi anak muda.

Karya-karyanya menyajikan spot menarik yang membuat mereka menjadikan sebagai obyek narsis untuk berfoto selfie. Meski kadang tak sepenuhnya mengerti arti dan maksud karya yang dipamerkan, tapi kalau benar-benar tidak mengerti tinggal tanya pada volunteer exhibition guide yang selalu siap menjelaskan karya yang dipamerkan.

Menyaksikan Jakarta Biennale sungguh tak akan rugi, justru memperkaya khazanah kebudayaan. “Jakarta Biennale 2017 merupakan acara seni kontemporer akbar yang terdiri tiga program, yaitu unjuk karya, retrospeksi dan performance,“ kata Ayu Fitriani Hasibuan, volunteer exhibition guide ‘Jakarta Biennale 2017’ kepada Cendana News, di Gudang Sarinah Ekosistem (GSE), Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (4/12/2017).

Lebih lanjut, dara manis yang begitu sangat ramah itu menerangkan tugas dirinya sebagai volunteer exhibition guide yang meng-guide para pengunjung pameran. “Agar tahu arti dan maksud karya yang dipamerkan,“ terang Ayu.

Menurut Ayu, tanggapan masyarakat terhadap Jakarta Biennale 2017 antusias banget. “Apalagi masuknya gratis,“ ungkapnya.

Sebagai anak muda, Ayu melihat dari sisi anak muda. “Mereka dapat spot untuk foto-foto selfie, narsis”, katanya.

Ketika ditanya, apakah mereka pada anak muda zaman now itu memahami karya yang dipamerkan? Dengan tenang, Ayu memberikan jawaban, karena dari setiap sudut karya ada caption yang cukup jelas, jadi saya pikir mereka paham, meski tidak sepenuhnya mengerti arti dan maksud karya yang dipamerkan.

“Makanya, tugas kita sebagai volunteer exhibition guide, ketika ada yang tanya, kita langsung selalu siap menjelaskan. Tapi, kalau tidak ada yang tanya, kita anggap mereka tahu dari membaca caption yang kita gunakan”, kata Ayu.

Karya-karya Jakarta Biennale 2017 yang banyak diminati masayarakat, antara lain berupa patung atau lukisan. “Karena karyanya lebih mudah dipahami. Patung Soekarno karya perupa Dolorosa Sinaga, lukisan karya Gede Mahendra Yasa dan Semsar Siahaan”, katanya.

Apalagi, berkaitan dengan tema jiwa yang mengeksplorasi identitas, sejarah kesenian, sistem kepercayaan hingga ujung batas-batas kebebasan. “Jiwa di sini bisa dimaknai sebagai semangat yang terwujud dalam setiap unsur kesenian, ranah imajinasi dan penciptaan dalam ruang dan waktu. Jiwa sebagai semangat berarti jiwa sebagai identitas dan salah satu upaya menghadirkan identitas ini adalah melihat kembali sejarah dan mencoba melihat kembali kisah-kisah yang terlupakan”, paparnya.

Ayu berharap, pameran seperti Jakarta Biennale yang rutin diadakan dua tahun sekali tetap diadakan. “Karena positif banget. Mahasiswa-mahasiswa seni bisa tahu banyak dengan menyaksikan pameran seni ini yang bisa dijadikan referensi untuk tugas kuliah”, harapnya.

Ada pun untuk masyarakat umum yang tertarik menyaksikan pameran seni ini, meski hanya sebatas narsis untuk selfie-selfie. “Tapi, paling tidak dengan menyaksikan pameran seni menjadi mengerti perkembangan seni kontemporer. Menyaksikan Jakarta Biennale sungguh tak akan rugi, justru memperkaya khazanah kebudayaan kita”, tandasnya.

Selain di Gudang Sarinah Ekosistem, Pameran Seni ‘Jakarta Biennale 2017’ yang mengusung tema ‘Jiwa’ ini juga digelar di Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Institut Français d’Indonésie, Thamrin.

Lihat juga...