Sistem Ekonomi Pancasila di Tengah Kultur Liberalisasi Ekonomi
TEGAL – Kuliah umum dengan narasumber Dr. Subiakto Tjakrawerdaja yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Pancasakti, Lembaga Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pancasakti Tegal (UPS), bekerjasama dengan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri), itu memang sangat menarik, tak hanya untuk mahasiswa maupun masyarakat dari Tegal, tapi juga dari daerah sekitarnya, Brebes.
Termasuk di antaranya, Indah, dosen Universitas Muhadi Setiabudi Brebes. Perempuan yang berjilbab itu tampak begitu antusias dan sangat kritis. Dia memang tak hanya menghayati Ekonomi Pancasila, tapi juga dapat mengimplementasikan Ekonomi Pancasila dalam menjalankan bisnis kosmetik yang juga berbasis tesisnya.
Indah, dosen Universitas Muhadi Setiabudi Brebes, salah seorang peserta, mengatakan bahwa kuliah umum mengenai ekonomi Pancasila sangat menarik di tengah polemik multi tafsir Pancasila di era liberalisasi ekonomi saat ini. “Saya sangat senang bisa berkesempatan untuk mengikuti kuliah umum ini, “ kata Indah kepada Cendana News, seusai mengikuti Kuliah Umum di Fakultas Hukum, UPS, Jalan Halmahera Tegal, Rabu (22/11/2017).
Lebih lanjut, Indah menerangkan, “Ekonomi Pancasila adalah sebuah sistem ekonomi kerakyatan yang mengutamakan sikap gotong royong membangun kehidupan bermasyarakat yang sejahtera bersama.”
Menurut Indah, Pancasila merupakan nilai-nilai sisi kemanusiaan, maka sangat mudah dijadikan multi tafsir bagi penguasa. Pancasila digadang-gadang sebagai azas namun praktiknya jauh dari nilai-nilai yang ada. “Pada hari ini kita saksikan bersama bagaimana BUMN dijual, jalan dijual, pulau dijual dan bahkan pantai pun dijual (baca reklamasi). Tentu ini kebijakan yang sangat tidak bijaksana, namun apa daya rakyat sekarang tidak bisa melabeli kebijakan ini sebagai anti Pancasila,“ kritiknya.

Membangun ekonomi Pancasila tentu perlu kembali ke akar historis. Pancasila sebagai azas yang lima. Ketika diperas maka menjadi tiga sila pertama. Diperas lagi maka menjadi sila pertama: manusia yang berketuhanan Maha Esa. Artinya, manusia hidup membangun bangsa harus menjadi manusia yang bermartabat, sesuai fitrah yakni manusia ciptaan Tuhan.
“Oleh karenanya, tidak patut ia egois dalam membangun ekonomi karena nanti terjerumus dalam sikap individualis kapitalis. Manusia berketuhanan Yang Maha Esa pula tidak menyamaratakan. Artinya berkeadilan sesuai kadar manusia, hajat hidup orang banyak. Maka dikelola bersama bukan dimiliki swasta maupun individu sehingga bisa diperjualbelikan sesuka keinginan,“ paparnya panjang lebar.
Mengenai usaha kosmetik yang ditekuni, Indah berharap, menjadi estafet agroindustri Indonesia. Karena Indonesia kaya akan sumberdaya pertanian yang sangat mudah diperbaharui, maka kita perlu menguasai teknologi pascapanen atau pengolahan. “Kosmetik ke depan yang berkelanjutan adalah kosmetik yang berteknologi kepada alam, back to nature dan itulah peran besar kita di dalam bangsa agraris,“ tandasnya.