KUTACANE – Sejumlah petani mengaku resah, meski kelangkaan pupuk bersubsidi, terutama jenis urea mulai teratasi dalam sepekan terakhir di Kabupaten Aceh Tenggara.
“Yang kami khawatirkan, ini (pupuk) cuma bersifat sementara. Sebab selama ini pengawasan oleh pemerintah daerah lemah,” ungkap petani, Sahibin (45), di Semadam, Aceh Tenggara, Sabtu (4/11/2017).
Menurutnya, pemerintah kabupaten setempat mengaku telah melibatkan berbagai elemen seperti lembaga swadaya masyarakat untuk mengawasi rantai perdangangan pupuk bersubsidi. Mulai dari tingkat distributor hingga ke tingkat pengencer, terutama di pedesaan, tetapi faktanya petani kesulitan dalam zat penyubur tanaman itu.
Padahal, di saat yang sama, daerah dataran tinggi berbatasan dengan Kabupaten Karo, Sumatera Utara tersebut sedang memasuki puncak musim tanam seperti padi dan jagung.
“Untuk sepekan terakhir, bisa dibilang aman. Tetapi, setelah ini kita tidak tahu. Mungkin saja pupuk bersubsidi ini disalurkan ke pihak yang tidak tepat,” terangnya.
Malin Maha (41), petani asal Babussalam mengklaim, lebih 70 persen masyarakat di kabupaten berjuluk ‘Bumi Sepakat Segenep’ ini berprofesi sebagai petani. Bukan tidak mungkin, karena langkanya pupuk bersubsidi di pasaran, maka dikhawatirkan akan mengancam keberhasilan panen.
“Kesulitan dirasakan oleh para petani, tapi pemangku kepentingan terkesan diam. Kita sangat berharap, lain kali pemerintah dan legislatif peka dengan kekhawatiran petani seperti kami ini,” tuturnya.
Bupati Aceh Tenggara, Raidin Pinim, pertengahan bulan lalu telah meminta penambahan kuota pupuk urea bersubsidi 1.000 ton untuk disalurkan dalam waktu dekat ini.
Pihaknya juga kepada aparat terkait seperti Komisi Pengawasan Pupuk dan Pertisida (KP3), dan masyarakat setempat untuk penyaluran pupuk urea bersubsidi tersebut.
“Harus diawasi pendistribusian pupuk bersubsidi terutama di pedesaan. Mulai dari tingkat distributor sampai ke tingkat pengencer, agar petani Agara (Aceh Tenggara) tidak terancam gagal panen,” tegas Raidin. (Ant)