Permintaan Tinggi, Petani Palas Tanam Padi Varietas Ketan Putih
LAMPUNG — Kebutuhan akan kuliner berbahan ketan memberikan peluang bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Palas di antaranya Desa Kalirejo, Desa Rejomulyo hingga wilayah lain membuat sebagian petani tetap mempertahankan budidaya padi varietas ketan.
Sumarni (59) warga Desa Rejomulyo Kecamatan Palas menyebut kebutuhan akan beras ketan sangat kental filosofinya dalam budaya dan tradisi Suku Jawa termasuk yang merantau ke wilayah Lampung Selatan.
Wanita asal Blora Jawa Tengah tersebut bahkan mengaku tak heran banyak dusun dan desa mengambil nama dari Yogyakarta, Kalirejo, Blora di wilayah Kecamatan Palas mayoritas berprofesi sebagai petani dan pengrajin batu bata dan genteng.
Sebagai petani,Sumarni menyebut dengan memiliki lahan seluas satu hektar sebagian lahan yang dimiliki olehnya sengaja ditanam dua varietas padi yang berbeda di antaranya varietas IR 64 jumbo dengan bibit unggul sebanyak 20 kilogram dan sebanyak 5 kilogram varietas ketan putih.
Jenis padi ketan putih diakuinya dominan ditanam petani dengan prediksi saat masyarakat akan menggelar pesta atau hajatan pernikahan anak,khitanan kerap dilakukan sesudah lebaran haji atau dikenal dengan bulan besar.
“Kami menanam lima kilogram dengan hasil panen masa tanam sebelumnya bisa memperoleh sebanyak tiga kuintal yang akan digiling untuk kebutuhan saudara yang akan melangsungkan hajatan dengan kebutuhan ketan sangat banyak,” beber Sumarni saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses perontokan padi dengan sistem manual di lahan sawah miliknya, Senin (6/11/2017)
Penanaman varietas ketan putih diakui lebih dominan ditanam petani dibanding ketan hitam dan kalaupun menanam jumlahnya tak sebanyak varietas ketan putih yang tingkat kebutuhannya lenih tinggi.
Kebutuhan akan ketan putih diakuinya banyak digunakan sebagai bahan pembuatan kue tradisional diantaranya jadah, ketan,serta berbagai kue tradisional lain dengan ciri khas beras ketan lebih lengket melekat dibanding beras biasa.
Sifat lengket dan merekat erat tersebut menjadi salah satu alasan dalam suku Jawa banyak menggunakan ketan terutama dalam pembuatan kue seserahan saat pernikahan dengan tujuan mempererat dua keluarga selain itu mempererat silaturahmi saat berlangsungnya hajatan.
Lebih dari itu penanaman padi varietas ketan yang jarang dibudidayakan oleh petani membuat Sumarni memiliki pelanggan tetap terutama produsen kue tradisional rumahan.
Ditanam dalam jumlah terbatas dibandingkan varietas IR 64 jumbo diakui Sumarni membuat harga beras ketan putih di tingkat petani bisa berkisar Rp14.000 hingga Rp15.000. Bahkan di tingkat pengecer bisa bertengger pada harga Rp17.000 per kilogram.

Harga tersebut diakuinya jauh berbeda dengan varietas beras IR 64 jumbo yang dijual saat ini dengan kisaran harga Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.
Meski harga gabah berbagai varietas di antaranya Ciherang,IR 64 semula hanya seharga Rp4.500 per kilogram kini menjadi Rp5.000 per kilogram atau Rp500.000 per kuintal namun diakui Sumarni jarang pengepul gabah membeli ketan dalam jumlah banyak. Distribusi penjualan ketan putih diakuinya hanya terbatas pada pemilik tanaman ketan dengan pengepul dalam wujud sudah berupa beras.
“Karena jarang ada penjualan gabah skala besar untuk varietas ketan putih makanya harganya tinggi dan jarang juga petani membudidayakannya bahkan puluhan petani bisa dihitung hanya beberapa yang menanam ketan,”ungkap Sumarni.
Kebutuhan yang tinggi dan penanaman yang sedikit tersebut diakuinya membuat harga lebih mahal bahkan dengan hasil sebanyak 200 kilogram pasca digiling dengan harga jual Rp15.000 per kilogram ia bisa mendapatkan hasil sekitar Rp3juta.
Penanaman ketan putih diakuinya kerap ditanam oleh petani yang sudah berpengalaman karena jika tidak bisa membedakan tanaman padi ketan dan padi biasa hampir sama dibandingkan ketan hitam.
Dukungan pasokan air irigasi yang lancar dan sekaligus gangguan hama burung dan wereng yang minim diakui Sumarni dan sejumlah petani lain membuat hasil panen pada akhir tahun ini cukup lumayan meski sempat diterjang musim kemarau.
Meski belum merata sebagian petani mulai melakukan pemanenan dengan cara tradisional tanpa menggunakan mesin combine harvester atau perontok padi yang sudah umum dilakukan di Palas.
