Pentas Wayang Beber Lakon ‘Ki Brayut’ Ajak Peduli Lingkungan (1)

BANTUL — Dulu bantaran sungai yang berada di lingkungan Desa Brajan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, terkesan kumuh dan kotor. Namun pemandangan seperti itu, kini sudah tak ditemukan lagi.

Ada sebuah jejak perjuangan panjang di balik bersihnya bantaran sungai tersebut. Setiap pekan sekali pada hari Minggu selama lima tahun terakhir, bantaran sungai itu dibersihkan.

Bermula dari kepindahan tempat tinggal seorang seniman lukis yang peduli dengan lingkungan di desanya di mana ia tinggal, Desa Brajan. Sang seniman itu adalah Edi Sarwono. Ia membangun rumah di bantaran sungai yang belum ada satu rumah pun berdiri.

Baca: Gubernur Jateng: Wayang Media Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan

Di tempat Edi tinggal, saat itu banyak orang yang membuang sampah di bantaran sungai tersebut. Akhirnya Edi turun tangan sendiri. Setiap minggu membersihkan selama lima tahun terakhir ini sampai bantaran sungai itu bersih seperti sekarang.

Lingkungan yang bersih tersebut, seakan mengundang keberkahan. Orang-orang mulai membangun rumah, hingga menjadi satu permukiman yang nyaman.

Tak sampai di situ, Edi masih terus membersihkan sungai itu sampai sekarang, bahkan ia menghidupkan suasana spiritual masyarakat setempat dengan menggelar budaya terutama yang berkaitan dengan lingkungan.

Kegiatan gelar budaya tersebut berdampak positif terhadap kesadaran masyarakat sekitar, bahwa mereka hidup itu berdampingan dengan alam dan harus melestarikan keasrian sungai.

Baca: Ada Tokoh Pewayangan dalam Operasi Zebra Candi di Karanganyar

Adapun beberapa seni budaya yang mulai dihidupkan Edi Sarwono adalah macapatan, memutar film tentang lingkungan dan nanggap Wayang Beber di sekitar permukiman.

“Saya ingin menggelar wayang, tapi wayang apa kira-kira masih bertanya-tanya. Kemudian saya memutuskan untuk menggelar wayang beber,” kata Edi, Sabtu (18/11/2017) malam.

Menurut Edi, Wayang Beber ini sudah termasuk langka. Karena itulah ia memutuskan untuk menggelarnya.

Tonton: WAYANG KARDUS, UPAYA JENAKA BUMIKAN PANCASILA

Edi kemudian menggandeng dosen karawitan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Ki Tejo Bagus Sunaryo sebagai dalang dan Ki Taufiq Hermawan, jebolan kriya ISI Yogyakarta sebagai desainer dan pembuat wayang.

Maka malam itu, Jumat (17/11/2017), tergelarlah wayang beber di Desa Branjan di bantaran Sungai Bedog, dimulai sekira pukul 21.00 hingga 22.40 WIB. Pementasan berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam.

Rahayu Nur Hayati, peminat budaya dan wayang. -Foto: Ist

Rahayu Nur Hayati, seorang pengunjung yang menonton pertunjukkan wayang beber mengambil lakon “Ki Brayut” dengan dalang Ki Tejo Bagus Sunaryo, itu menyebutkan wayang ini termasuk sangat langka dan hampir punah. Di Indonesia, mungkin hanya ada di Wonosari, Gunungkidul, dan Pacitan.

Wayang beber adalah jenis pertunjukan yang menggunakan media kain (mori) yang berisi lukisan para tokoh sekaligus cerita.

“Wayang beber adalah cerita wayang yang disajikan di beberapa lembar kain, normalnya dua. Biasanya wayang beber itu ada tujuh sesi cerita,” imbuhnya.

Baca: Potensi Ekonomi Kerajinan Wayang Masih Terbuka Luas

Penyebutan wayang beber itu sendiri karena dalam pementasannya si dalang harus membeber atau membuka gulungan kain dalam mementaskan lakon-lakonnya.

Dari penelusuran Cendana News, wayang beber ini rupanya telah ada dan jauh lebih tua dari wayang kulit. Wayang beber sudah ada sejak zaman Kerajaan Kedia (1200-an). Ada juga yang menyebutkan, pertama kali dibuat Prabu Bratana dari Kerajaan Majapahit pada 1361.

Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang tertua dari sekitaran 80 jenis dalam kebudayaan Indonesia. Selain itu, telah mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia. Pada 7 November 2003, telah diakui sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Wayang beber saat ini kurang dikenal dan sudah sangat jarang dipentaskan. Bila menelisik pada zaman dulu, pertunjukan wayang beber menjadi tontonan yang paling sering digelar.

Lihat juga...