Operasi Militer di Rakhine Didukung, Suu Kyi Kunjungi China
YANGON – Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi akan menggelar kunjungan ke Beijing, China. Kunjungan yang dilakukan itu disebut-sebut menjadi bagian dari upaya untuk memperoleh dukungan di tengah kecaman mengenai Rohingya.
Berita rencana kunjungan Suu Kyi ke China muncul setelah Presiden China Xi Jinping dan pemimpin militer China menyambut petinggi tentara Myanmar Min Aung Hlaing yang melakukan kunjungan pada pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut China berjanji akan lebih mempererat kerja sama dengan Myanmar.
Sebelumnya, China mengaku mendukung apa yang pejabat Myanmar sebut untuk krisis di Rohingya sebagai operasi melawan pemberontakan di Rakhine. Operasi militer yang dilakukan adalah tindakan sah. Media di Myanmar menyebut, bahwa peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi segera berangkat untuk menghadiri Forum Komunis yang diprakarsai oleh para pemimpin politik dunia di Beijing.
Sementara itu Juru bicara Suu Kyi, Zaw Htay tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan mengenai rencana kunjungan ke China tersebut. Namun pertemuan akan dimulai pada Kamis (30/11/2017) dan akan berlangsung hingga 3 Desember.
Sementara itu di tengah sorotan dunia internasional ke persoalan Rohingya, pada pekan ini Paus Fransiskus akan melakukan kunjungan pertamanya ke negara dengan penduduk mayoritas beragama Buddha tersebut. Sebelumnya Paus Fransiskus berbicara tentang perlakuan terhadap pengikut minoritas Muslim yang ditolak untuk berkewarganegaraan Myanmar.
Pernyataan tesebut membuat beberapa umat Kristen khawatir akan memunculkan tanggapan balasan dari Myanmar. Sementara itu banyak orang di Myanmar menolak menyebut penduduk daerah Rakhine tersebut sebagai Rohingya. Mereka memilih memanggilnya Bengal, untuk menyiratkan keberadaan suku kecil di Myanmar tersebut termasuk warga negara tetangganya, Bangladesh.
Paus Fransiskus mendarat di Yangon pada Senin (27/11/2017) untuk memulai kunjungan di negara yang tengah dituding oleh PBB telah melakukan pembersihan etnis terhadap kelompok minoritas Muslim Rohingya. Paus juga akan mengunjungi Bangladesh, yang menjadi tuan rumah bagi 620.000 pengungsi Rohingya asal negara bagian Rakhine, Myanmar.
Penduduk Rohingya melarikan diri dari negaranya akibat gelombang kekerasan operasi militer yang disebut oleh Amnesti Internasional sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Amnesti Internasional menuding pihak militer Myanmar telah melakukan pemerkosaan, pembunuhan, penyiksaan, dan pengusiran terhadap kelompok Rohingya. Dan pihak militer Myanmar membantah tudingan tersebut.
Sementara itu di Myanmar, hanya ada 700.000 orang yang resmi beragama Katolik Roma dari jumlah populasi keseluruhan yang mencapai 51 juta jiwa (atau kurang dari 1,5 persen). Ribuan di antara mereka telah membeli tiket kereta dan bus menuju Yangon, yang merupakan kota utama negara tersebut, untuk bisa melihat pemimpin agama mereka. (Ant)