Musim Hujan, Ujian Kesabaran Para Perajin Batu Bata
LAMPUNG – Musim penghujan bagi sebagian petani yang akan bercocok tanam padi, jagung serta komoditas pertanian lain menjadi masa yang ditunggu bagi wilayah lahan pertanian tadah hujan.
Namun, kondisi terbalik justru dirasakan oleh para perajin batu bata dan genteng yang memiliki usaha dengan mengandalkan sinar matahari untuk proses pengeringan secara alami.
Aristo (30), salah satu perajin batu bata di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, saat ditemui Cendana News, menyebut tibanya musim hujan bisa memiliki dampak menguntungkan dengan tersedianya pasokan air untuk sumur sebagai keperluan mandi, mencuci dan minum. Namun, sebagai pemilik usaha kecil pembuatan batu bata, hujan merupakan ujian kesabaran dalam proses pembuatan batu bata.
“Sebagian besar masyarakat, khususnya petani, akan sangat bersyukur karena hujan menjadi saat yang ditunggu. Namun, bagi kami pembuat batu bata, hujan menjadi waktu yang sangat menghambat proses pembuatan batu bata, mulai dari pengolahan hingga pembakaran,” terang Aristo, Kamis (16/11/2017).

Menurutnya, pembakaran batu bata akan mengurangi batu bata dalam kondisi mentah, meski ia belum memiliki pembeli. Keberadaan tobong (lokasi pembakaran batu bata) yang dibuat di dalam sebuah bangunan membuatnya tak perlu khawatir saat hujan turun.
Meski demikian, ia masih was-was dengan sebagian besar batu bata miliknya yang belum dibakar, dengan kondisi hujan terus-menerus melanda wilayah tersebut berimbas proses pengeringan batu bata secara alami menggunakan sinar matahari terhambat selama berhari hari.
Pada kondisi normal pascadilakukan pencetakan secara manual, dalam satu hari batu bata akan kering bahkan dibolak-balik selama dua kali selanjutnya disimpan dalam tobong sembari dianginkan sebelum dibakar.

“Saat hujan tiba, dipastikan pengeringan batu bata membutuhkan waktu sekitar sepekan dan batu bata yang saya bakar hari ini simpanan batu bata kering bulan sebelumnya”, terang Aristo.
Hujan juga diakui perajin batu bata lain, Somad (50), menghambat proses sirkulasi produksi batu bata dari pencetakan, penjemuran, penyimpanan hingga pembakaran yang membutuhkan waktu lebih lama.
Saat hujan, Somad mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pembelian plastik bening penutup batu bata yang dijemur dengan harga plastik per meter mencapai Rp1.000, sementara kebutuhan plastik bisa mencapai 500 meter.
Kebutuhan akan plastik tersebut tetap dibeli mengantisipasi kerugian lebih besar, karena ia mengaku memiliki pengalaman, sebanyak 500 batu bata siap bakar terkena hujan akibat tidak ada penutup dengan asumsi per seribu batu bata dijual seharga Rp2 juta, ia sudah merugi sebesar Rp1 juta akibat hujan.
Sebelum ada plastik, ia bahkan masih memanfaatkan ‘getepe’ atau anyaman daun kelapa sebagai penutup. “Biaya pembelian penutup dan bahkan membangun tobong menjadi modal pokok antisipasi saat hujan sekaligus gudang batu bata yang sudah kering, agar tidak terimbas hujan”, terang Somad.
Meski demikian Somad mengaku kesabaran dan tidak mengeluh akan tibanya musim hujan, menjadi kunci agar usahanya tetap berjalan. Proses menganginkan tanpa menggunakan sinar matahari diakui hanya akan berimbas lamanya proses pengeringan hingga satu pekan lebih, karena meski musim hujan dalam satu hari tertentu bisa digunakan sebagai kesempatan mengeringkan batu bata.
Emi (30), warga desa Tanjungsari, yang menjadi pemilik usaha kecil pembuatan genteng, bahkan memiliki cara tersendiri menghadapi musim hujan. Bangunan besar dengan rak-rak disusun bertingkat dipergunakan dalam proses pengeringan genteng jenis mantili, yang dicetak menggunakan alat press besi, meski saat kemarau atau panas proses penjemuran tetap dilakukan di halaman mengandalkan sinar matahari.
“Modal membuat tobong genteng sekaligus lokasi pengeringan memang besar. Namun, jangka panjang bisa menjadi sebuah upaya penghematan saat hujan tak ada genteng yang hancur”, terang Emi.
Emi juga menyebut, dibandingkan dengan usaha pembuatan batu bata, proses pembakaran genteng tanpa adanya tobong lebih sulit, karena tobong ditempatkan di area terbuka dengan ketinggian mencapai enam meter, sehingga saat hujan harus ditutupi asbes.
Akibat hujan, proses penjemuran kayu sebagai bahan bakar pun ikut terganggu. Sebanyak 7.000 genteng siap bakar diakuinya terpaksa ditutup menunggu hujan reda.
Keterbatasan dana untuk membuat tobong pembakaran dengan konstruksi bangunan bisa mencapai ketinggian delapan meter bahkan lebih sebagai atap, membuatnya masih menggunakan sistem manual buka tutup dengan terpal.
Saat hujan deras, penutup asbes bahkan diperlukan untuk menunda proses pembakaran. Harga genteng per seribu buah yang kini mencapai Rp800 ribu diakuinya masih menjadi tumpuan dengan tetap bersabar selama musim penghujan.
Solusi mengatasi kondisi hujan yang dominan terjadi pada bulan November hingga Desember, juga membuat dirinya kerap membakar genteng sebelum musim hujan dan selanjutnya bisa dijual pada saat musim penghujan, ketika dirinya tak bisa membakar genteng.
Keterbatasan tobong dengan maksimal pembakaran hanya sekitar 7.000 buah, membuat proses pembakaran lebih lama dari total genteng kering siap bakar yang diproduksi berkisar 10.000 buah hasil akumulasi pembuatan selama beberapa bulan.
Kebutuhan akan genteng yang masih dipergunakan untuk atap bangunan diakui Emi masih dominan diminta masyarakat, meski atap metal baja mulai banyak digunakan. Namun, datangnya musim hujan menjadi ujian kesabaran akan proses pengeringan hingga pembakaran usaha kecil batu bata dan genteng di wilayah tersebut.