Kolonel (Czi) Jamallulael: Situasi Hankam Era Orde Baru Lebih Kondusif

BOGOR — Udara sejuk masih menyelimuti kota Bogor pagi itu saat menjelang peringatan hari pahlawan. Saya menuju Pusat Pendidikan Zeni TNI-AD. Pagi itu saya dijadwalkan untuk wawancara dengan Komandan Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI AD Kolonel (Czi) Jamallulael, S.Sos, M.Si.

Ketika masuk markas militer itu tampak berjaga satu prajurit dengan senapan SS1 buatan PINDAD berdiri di pos kecil di pinggir pagar masuk. Setelah saya ungkapkan maksud dan tujuan untuk melakukan wawancara, saya disarankan untuk meminta izin kepada provoost yang letaknya tidak jauh dari pagar masuk itu.

Saya diminta menghadap Kepala Seksi Pengamanan dan Operasi, Mayor (Czi) Vipbrian. Setelah itu, baru saya bisa melakukan wawancara dengan komandan pusat pendidikan zeni.
Ada satu kenyataan unik yang menyadarkan saya bahwa sekeras apapun tentara, mereka tetap manusia yang punya sisi humanisme dalam diri mereka masing-masing.

Saya menemui Kolonel (Czi) Jamallulael seusai berolahraga bersama dengan perwira-perwira menengah yang berada dibawah jajarannya. Beliau cukup santai dengan pakaian olah raga yang berlambang Garuda Sakti ketika saya memulai wawancara. Tidak terkesan kaku ketika saya menemuinya dengan pakaian dinas.

Asli Sawangan, Bogor

Jamallulael dilahirkan di Bogor pada 10 September 1968. Dari riwayat hidupnya, prajurit ini memang besar di wilayah ini. “Pada waktu itu Sawangan masih masuk ke Kabupaten Bogor” ujarnya.

Setelah tamat Sekolah Dasar di Depok pada 1982, Jamall melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di Jakarta dan tamat pada 1985. Setelah itu dia masuk Sekolah Menengah Atas di Jakarta, dan lulus pada 1988. Lalu dirinya mendaftar sebagai taruna Akabri Darat pada saat itu. Boleh dibilang Kolonel Jamall pernah menjadi seorang perwira muda di era Orde Baru.

Panggilan menjadi seorang Tentara bermula saat dia duduk di Sekolah Menengah Atas di Jakarta. “Saat itu senior-senior saya di Akabri datang ke sekolah dan memperkenalkan tentang Akabri” ujarnya.

Jamal, demikian pangilan karibnya mengakui dukungan dari guru matematika di Sekolah Menengah Atas. Kebetulan gurunya adalah istri seorang Brigjen TNI. “Guru menyarankan saya untuk ikut test Akabri pada saat itu” selain dorongan dari gurunya. Dia juga mendapat dorongan dari orangtuanya untuk mengikuti tes Akabri.

Setelah lulus AKABRI pada 1991, dirinya ditugaskan di Makassar dan menjabat sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 8 (DANTON YONZIPUR). Seiring berjalannya waktu Jamal menerima tugas-tugas sebagai Kasi Log 4, Yonzipur 8, hingga komandan kompi bantuan di Batalyon Zeni Tempur 8.

Pengalaman selama sembilan tahun di lapangan membawanya kembali ke Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat yang berkedudukan di Bogor, Jawa Barat di penghujung 2000 pada kesempatan ini, Jamall yang pada waktu itu berpangkat Kapten menjabat sebagai Kepala Seksi Administrasi.

Setelah mendapat banyak pengalaman di lapangan dan di Pusat Pendidikan Zeni membuat dirinya menerima tugas dan tanggungjawab yang lebih. Pada penghujung 2002 Jamal mendapat tugas menjabat sebagai Komandan Detasemen Zeni Tempur 8 KODAM VI/Tanjung Pura.

Prestasi dan karier militer selama dua tahun di Denzipur, membuka kesempatan baginya untuk melanjutkan Sekolah Staff Komando Angkatan Darat pada 2005. Setelah menamatkan sesko, dirinya mendapat tugas sebagai Kepala Bagian Teknik Zeni Sub Direktorat Bin. Teknik Zeni.

““Saya di Direktorat Zeni selama tiga tahun terpotong dengan tugas luar negeri,”” ujarnya.

Jamal pernah menjadi komandan satuan tugas Kontingen Garuda XX/D pada tahun 2006 hingga 2007. Kembali ke Tanah Air, Jamal menempati beberapa posisi di Markas Besar TNI-AD, kemudian menjabat sebagai Assisten Logistik Kodam V/BW.

Pada awal 2017 dirinya ditugaskan menjadi Komandan Pusat Pendidikan Zeni dibawah jajaran Komando Pengembangan Doktrin dan Latihan TNI-AD. Ada beberapa kisah menarik sepanjang perjalanan karier militernya di dalam dan luar negeri.

Berpangkat Letnan Dua “Memimpin tentara senior”

Lebih lanjut lagi, ayah dua anak ini menjelaskan kisah yang paling mengesankan saat penugasan pertama di Batalyon Zeni Tempur 8. “”Saat itu saya baru dua hari menjadi danton” ujarnya lagi seraya menjelaskan bahwa pada saat itu sedang ada huru-hara di Makassar, lalu turun perintah untuk mengamankan huru-hara tersebut,” tuturnya.

Jamall menjelaskan bahwa pada saat itu dirinya memiliki seorang Bintara Peleton (Baton) berpangkat Sersan Kepala, lulusan Sekolah Calon Tamtama 1968.

““Itu yang paling berkesan bagi saya”. Sewaktu sayalahir, Bintara Peleton yang menjadi wakilnya pada saat itu sudah memegang senjata. “Dari situ saya belajar bagaimana memimpin. Ternyata faktor-faktor kesulitan dalam memimpin di kenyataan, tidak semudah dengan yang ada di teori,” jelasnya.

Pengalaman mengesankan lain, ketika ia melakukan pembangunan jalan di Komando Daerah Militer (KODAM) VII Wirabuana. “”Saya membawa kopral-kopral dan sersan-sersan senior” saat itu dirinya kekurangan uang untuk membeli makan, dan hanya mampu membeli ketan untuk logistik,” kenangnya.

Dirinya sangat mengapresiasi dedikasi dan totalitas yang dimiliki oleh kopral dan sersan senior yang menjadi personelnya. Alangkah luar biasanya apabila semangat dan totalitas mereka itu masih terwujud hingga saat ini, mengingat keberadaan oknum TNI yang lupa akan jatidiri sebagai prajurit pengawal kedaulatan bangsa.

Di Tengah Pertempuran Kongo

Sewaktu berpangkat Letkol, Jamal ditugaskan ke Kongo. Kehadiran pasukan zeni dalam pasukan perdamaian PBB untuk memberikan bantuan kepada pasukan kawan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Sebelum pasukan kawan menjalankan tugas ke suatu tempat, zeni bertugas untuk memastikan bahwa jalan yang akan dilalui tidak akan membahayakan pasukan kawan yang akan lewat.

““Pernah satu ketika saya menemukan jembatan yang membahayakan pasukan kawan apabila dilewati,”” ujarnya.

Dia dan pasukannya membantu menguatkan jembatan itu agar dapat dilewati oleh pasukan kawan yang akan menjalankan tugas.

Pengalaman lainnya cukup menegangkan ketika posisi markas satgas yang berada di antara FDRC atau Force Democratic Republic Congo. “ Pernah terjadi pertempuran” dandirinya tidak mengetahui penyebab pertempuran yang terjadi saat itu. Pertempuran itu akan selalu teringat olehnya karena pada saat itu peluru terus beterbangan diatas markasnya.

“Tidak hanya peluru kaliber kecil, bahkan RPG dan senapan kaliber berat turut serta ber kiprah dalam pertempuran itu,” paparrnya.

Saat itu Jamall yang bertugas sebagai komandan satuan dan membawahi sekitar 120 prajurit, melakukan langkah-langkah pengamanan yaitu dengan memerintahkan pasukannya untuk berlindung di bunker perlindungan dan berkonsolidasi dengan Headquarters mengenai kejadian yang terjadi saat itu.

““Waktu itu Ada perintah dari headquarters untuk mengamankan pasukan,”” jelasnya lagi.

Seraya mengatakan bahwa mereka menanti dukungan dari pasukan PBB, namun dirinya maklum bahwa tidak ada yang berani melewati pertempuran yang begitu dahsyat itu. Hingga ada beberapa kerusakan ringan di beberapa aset satuan.

Situasi Kondusif Pra Reformasi

Ada perbedaan mendasar yang dirasakan oleh orang nomor satu di pusdikzi ini mengenai situasi orde baru dan orde reformasi. “Pada masa orde baru, situasi pertahanan dan keamanan cenderung lebih kondusif. ” Jamal mengatakan bahwa saat itu bahkan tidak tahu apakah ada perang yang dihadapi. ““Saya pernah di Timor, tapi mereka itu kan terisolir di satu tempat,”” ujarnya.

Tugas-tugas yang pernah dilakukan adalah pengamanan demonstrasi mahasiswa mengenai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Orde Baru. Sekarang ini, ancaman yang dihadapi oleh tentara adalah ancaman yang nyata dan jelas terlihat, seperti ISIS, gerombolan Santoso dan tantangan lain yang mengganggu stabilitas nasional.

Situasi dan kondisi kemanan negara belakangan ini cenderung tidak menentu. “Tentara saat ini harus benar-benar siap untuk menghadapi itu.” Kesiagaan tentara saat ini berbeda dengan era Orde Baru. Kondisi yang terjadi saat ini berbeda dengan 1996-1997 di Timor Timur. “Saat ini ancaman menyebar” ujar pria asli Sawangan, Depok ini seraya mengatakan bahwa kapanpun, tentara harus siap untuk menghadapi ancaman-ancaman itu.

Secara pribadi, dirinya memandang bahwa TNI tidak seharusnya melakukan politik praktis, “Tapi alutsista TNI semakin diperkuat” ujarnya.

Memandang Terorisme

Kejadian pengeboman di pusat perbelanjaan Sarinah pada awal 2016 merupakan satu kenyataan pahit yang harus diterima bahwa negara sudah disusupi oleh terorisme. Pasalnya, jarak tempuh Sarinah ke Istana Negara, tidak lebih dari setengah jam perjalanan.

Terkait hal ini, pria yang pernah tergabung dalam Operasi Tatoli II Timtim mengatakan bahwa dalam Undang Undang No.34 tahun 2004, Tentara Nasional Indonesia sudah sudah dilibatkan dalam penanganan teroris. Yang menjadi masalah adalah teroris dimasukan dalam kejahatan pidana. ““Jadi bukan ranah TNI untuk menangani itu,”” jelasnya.

Terkait terorisme dirinya mengatakan bahwa harus ada satu pandangan mengenai terorisme. Apabila terorisme tidak masuk dalam kejahatan pidana, maka tentara harus bergerak. “Intinya, TNI sudah siap.

“Kita sudah punya Detasemen Gultor, Denjaka dan Denbravo sebagai pasukan antiteror,”” ujarnya.

Seraya mengatakan bahwa jika ada perintah dari panglima, maka TNI akan bergerak. Yang menjadi masalah mengapa TNI tidak dilibatkan yaitu peraturan undang-undangan yang menyatakan bahwa TNI hanya membantu POLRI. Lebih lanjut lagi, Jamall menjelaskan pesan-pesan Panglima TNI mengenai politik negara “Artinya kita melakukan perang itu berdasarkan tujuan negara”.

Minat dan Bakat.

Ada banyak korps dalam jajaran TNI-AD mulai dari Infanteri, Kavaleri, Artileri, dan Zeni. Masing-masing korps memiliki ciri khas dan tugas unik dalam menjaga kedaulatan bangsa. Cendana News mencoba menggali lebih dalam mengapa ayah dari Khalisahsh dan Latisha ini bergabung di Korps Zeni.

Pada waktu itu setiap taruna diberi hak memilih hendak bergabung dalam korps apa. Namun, ada satu test psikologis yang lebih menentukan seseorang lebih cocok bergabung di Korps mana. Kavaleri adalah pilihan pertamanya, untuk pilihan kedua Jamall memilih korps Infanteri.

“Zeni menjadi pilihan ketiga dalam peminatan,” ujarnya. Seraya mengatakan bahwa pada saat itu sangat kurang informasi mengenai korps-korps di jajaran Angkatan Darat, dirinya hanya mengetahui bahwa tugas tentara hanyalah perang.

“Namun test Psikologis saya lebih memiliki bakat di Zeni,” ucapnya.

Jika ada perbedaan antara minat dan bakat, maka test psikologis menjadi acuan ke mana taruna tersebut akan bergabung karena menurutnya test psikologis lebih mengerti seseorang.

Masuk Habitat Militer

Ketika ditanya mengenai suka dan duka menjadi seorang abdi negara, dirinya menceritakan bahwa saat ini dirinya sudah menyukai habitat militer yang dijalani. Lebih lanjut, suami dari Indah Mulyaningsih menceritakan bahwa rasa duka lebih sering dialami oleh keluarganya.
Istri, dan dua anaknya begitupun dengan orang tua dan saudara-saudaranya

“Kalau saya diperintah untuk berangkat kemanapun saya sudah enjoy” imbuhnya. Seraya mengatakan bahwa terkadang dirinya baru bisa bertemu dengan anak-anaknya satu kali dalam satu atau dua bulan.

“Saya sadar, bahwa ini sudah menjadi tugas dan kewajiban saya yang harus dijalankan dengan ikhlas” pungkasnya.

Dedikasi dan totalitas komandan Pusdikzi ini merupakan satu hal yang patut menjadi contoh bagi prajurit TNI dimana pun berada. Mengutamakan kepentingan negara daripada keuntungan pribadi merupakan satu hal yang harus ditanamkan dalam hati setiap prajurit TNI.

 

Lihat juga...