Kelestarian Kawasan Konservasi, Perhatian Pemerintah NTB Rendah
MATARAM – Kelestarian kawasan hutan konservasi memiliki peranan penting, baik bagi kehidupan manusia maupun berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di dalamnya, tapi sayang perhatian pemerintah masih sangat minim.
“Perhatian pemerintah terhadap kelestarian kawasan konservasi masih minim dan cenderung diabaikan,” kata Dosen Ekologi dan Peneliti Universitas Mataram (Unram), l Wayan Suana, Rabu (1/11/2017).
Dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan maupun kawasan objek pariwisata, pemerintah cendrung lebih pragmatis dan kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Padahal kawasan konservasi dan TWA selain sebagai sumber kehidupan, dari sisi ekonomi juga bisa dikelola dengan mengembangkan menjadi kawasan ekowisata berbasis alam, tanpa harus melakukan pengerusakan.
“Di beberapa kawasan konservasi seperti Taman Wisata Alam (TWA) Kerandangan, rawa air asin Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara hidup berbagai spesies burung, mulai dari yang populasinya banyak hingga yang populasi langka, ada dan hidup di sana. Kalau kelestarian hutan tidak dijaga, maka burung tersebut akan punah,” ujarnya.
Ditambahkan, kelestarian kawasan hutan konservasi harus dipastikan bisa tetap terjaga dan terhindar dari praktik jahat manusia ketika melakukan aksi perambahan dan pembalakan liar.
Sebelumnya, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekowisata (BKSDAE) NTB, Widada mengatakan, dalam proses pengelolaan kawasan Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA) yang terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan dilakukan dengan melibatkan secara langsung masyarakat sekitar, supaya bisa mendapatkan kemanfaatan.
Model pelibatan tersebut antara lain dengan mengelola hutan menjadi kawasan ekowisata berbasis alam tanpa melakukan pengrusakan. Menurutnya, banyak hal bisa dikembangkan dan dijual di kawasan TN dan TWA yang ada, mulai pemandangan alam pegunungan dan pepohonan maupun berbagai macam binatang dan satwa yang hidup di kawasan hutan. Apalagi NTB dengan potensi wisata yang dimiliki dan masih alami, sangat potensial untuk dikembangkan wisata alamnya dan bisa mendatangkan wisatawan, baik sekadar datang liburan maupun melakukan penelitian.
“Dengan model pengelolaan yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan terutama TN dan TWA tersebut, selain bisa tetap menjaga kelestarian kawasan hutan, juga bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” katanya.
Selama ini pelibatan masyarakat sekitar kawasan hutan belum banyak dilakukan. Akibatnya pembalakan liar marak, disamping memang kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan kawasan hutan yang menguntungkan, tanpa harus melakukan pengrusakan.
