KAHMI Harus Angkat Kaum Marjinal dan Rawat Kebhinekaan
JAKARTA – Satu dari sembilan anggota Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) terpilih pada Musyawarah Nasional (Munas) ke 10 KAHMI di Medan, Sumatera Utara, pada 17-19 November, seorang perempuan. Ia adalah Siti Zuhro.
Bagi Siti Zuhro, masuk dalam sembilan tim anggota Presidium KAHMI masa bakti 2017-2022 ini merupakan amanah dan sekaligus tanggung jawab moral tersendiri untuk mengimplementasikan prinsip 5 insan cita HMI.
Alumni FISIP jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, itu mengatakan, KAHMI adalah rumah para alumni HMI, wadah alumni yang berdiaspora meniti karir di bidang-bidang yang variatif, baik di birokrat/eksekutif, legislatif, yudikatif maupun ekonomi (pengusaha/wiraswasta) dan intelektual/akademisi.

Visi KAHMI, sebut Siti Zuhro, adalah sebagai organisasi yang berpihak pada golongan masyarakat lemah, baik secara sosial, ekonomi, politik maupun hukum dengan misi besar KAHMI berperan konkrit dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
“Ide-ide cerdas, kreatif, inovatif, dan solutif sangat diperlukan untuk menyongsong satu abad Indonesia, 2045. KAHMI perlu menawarkan gagasan-gagasan yang solutif dan aplikatif atas permasalahan yang dihadapi bangsa guna keberlangsungan dan kemajuan Indonesia,” kata Siti Zuhro yang juga peneliti LIPI, kepada Cendana News, Senin (20/11/2017).
Namun, hemat Siti Zuhro, gagasan penting dan mendesak bagi KAHMI ke depan adalah melakukan konsolidasi secara substansif dan membangun soliditas internal KAHMI.
Disebutkan Siti Zuhro, ada beberapa program lima tahun ke depan yang krusial dilaksanakan. Pertama, KAHMI, harus memiliki komitmen tinggi dan sikap keberpihakan pada rakyat (dhuafa) yang termarjinalkan.
Selain itu, menurut Siti Zuhro, juga perlu penguatan sinergi antaranggota KAHMI yang berada dalam lembaga-lembaga yang berbeda (pemerintah dan swasta) guna memperjuangkan kepentingan rakyat yang marjinal sebagai upaya dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana tersurat dalam insan cita kelima HMI.
KAHMI harus mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan pemersatu (unifying force), perekat kemajemukan, memiliki empati kemanusiaan dan penggerak kebersamaan. Di samping itu, KAHMI harus mampu menjadi perawat umat, perawat kebhinekaan dan perawat NKRI.
“KAHMI juga membantu dan mendorong peningkatan kaderisasi di internal HMI sesuai dengan filosofi, teks dan konteks kekinian yang dihadapi,” pungkasnya.