Irigasi Memadai, Panen Padi Organik Melimpah

LAMPUNG – Pengembangan padi organik yang selanjutnya menjadi beras organik terus dilakukan oleh kelompok petani di desa Pasuruan kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan.

Salah satunya oleh kelompok tani Minang Jaya, kelompok tani yang ikut mengembangkan padi organik disamping petani di wilayah desa Kelau serta beberapa desa lain sebagai demonstrasi farming kelompok pengembang padi organik.

Jumilah, salah satu petani penanam padi organik di desa Pasuruan kecamatan Penengahan menyebut, pengembangan padi organik terus dilakukan di wilayah tersebut semenjak tahun 2014 dengan penggunaan varietas padi Ciherang dengan pola perawatan lahan, tanaman, pasca panen dilakukan dengan sistematis tanpa penggunaan zat kimia. Pengembangan padi organik di wilayah tersebut diakuinya cukup terdukung oleh sumber irigasi dari gunung Rajabasa yang tetap mengalirkan air pada musim kemarau sekalipun.

Proses perontokan padi organik menggunakan alat perontok tradisional meski jerami tidak boleh diambil sebagai pakan ternak. [Foto: Henk Widi]
“Sudah beberapa kali lahan di sawah yang ditetapkan sebagai area budidaya padi organik terus dijaga mulai pengolahan tanah tanpa menggunakan zat kimia baik pupuk maupun berbagai jenis obat lain yang berfungsi agar padi yang ditanam bebas dari bahan kimia. Bahkan penyiangan rumput menggunakan alat tanpa herbisida,” terang Jumilah salah satu petani anggota kelompok tani Minang Jaya di desa Pasuruan kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News tengah melakukan panen padi organik yang ditanamnya, Kamis (23/11/2017).

Penanganan saat pengolahan tanah, diakui Jumilah, sebelum dilakukan proses pembajakan lahan terlebih dahulu diberi taburan pupuk kompos dari kotoran ternak kambing, cacahan batang pisang serta daun-daunan tertentu yang telah dibusukkan sehingga unsur hara tanah bisa dikembalikan. Selain dari pupuk tersebut, pasca proses perontokan padi secara manual menggunakan alat perontok padi, sesuai anjuran jerami yang ada tidak diperbolehkan untuk dijadikan pakan ternak. Melainkan dicacah dalam ukuran kecil serta ditaburkan pada lahan pasca panen sehingga bisa cepat membusuk saat proses pembajakan lahan.

Selain penggunaan pupuk organik tersebut, pola penanganan hama saat serangan hama jenis walang sangit, Jumilah menyebut digunakan campuran daun mindi serta dedaunan tertentu untuk mengusir atau memusnahkan hama sehingga penggunaan pestisida serta herbisida untuk memusnahkan rumput terus dilakukan. Hasilnya ia memperlihatkan beberapa jenis rumput ikut tumbuh subur menjelang padi menguning dan akan dipilih pada saat proses perontokan padi.

Hasilnya pada saat panen sebelumnya ia memastikan bisa memperoleh hasil panen sekitar 4 ton per hektar dengan hasil beras organik yang dihasilkan mencapai 3,5 ton beras organik yang sudah dipesan oleh distributor untuk dipasarkan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Harga dari petani berkisar Rp12.000 per kilogram dan harga jual sekitar Rp15.000 per kilogram lebih tinggi dari beras non organik yang dijual dengan kisaran harga Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Sistem pertanian padi organik dengan hasil beras organik tersebut diakui Jumilah tanpa menggunakan bahan-bahan kimia dalam proses penanaman sehingga beras organik yang ditanamnya bisa dipergunakan sebagai beras kesehatan. Meski demikian beras yang ditanam oleh kelompok tani tersebut sedang dalam proses untuk sertifikasi. Sebagai beras organik bisa dijual dengan label sendiri. Sementara saat ini penjualan beras organik dilakukan dengan sistem langganan pada konsumen yang sudah langsung melihat proses penanaman padi organik tersebut agar terhindar dari pemalsuan.

Salah satu petani yang melakukan penanaman padi non organik,Trubus, mengungkapkan pada saat masa panen pada bulan November ini, ia menyebut, sebagian pemilik ternak pencari jerami banyak mencari jerami pada lahan miliknya. Sebab pemilik padi jenis organik tidak memperkenankan jeraminya diambil dan akan digunakan sebagai bahan pupuk. Trubus yang menanam padi varietas IR 64 jumbo mengaku, belum berencana melakukan penanaman dengan padi jenis organik karena dirinya sudah memiliki kelompok tani dengan penyusunan Rencana Dasar Kebutuhan Kelompok (RDKK) pupuk bersubdisi jenis phonska, urea dan SP36.

Jumilah (kiri) tengah melakukan proses pemanenan padi organik varietas Ciherang di Penengahan Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi]
“Saya memang sudah menjadi anggota kelompok tani khusus untuk padi non organik. Meski berdasarkan pengalaman saat ini harga beras organik mahal, namun proses penanganan pada lahan hingga pasca panen masih begitu lama dan kurang menguntungkan,” beber Trubus.

Ia menyebut, tetap menanam padi non organik dengan alasan dirinya tetap bisa menjual gabah kering, musim panen saat ini dengan harga Rp5.000 per kilogram atau Rp500.000 per kuintal. Proses penjualan bisa dilakukan dengan cepat dibandingkan dengan padi jenis organik yang harus dijual dalam bentuk beras. Meski demikian dengan memiliki lahan yang berdekatan dengan kelompok tani penanam padi organik, dirinya menyebut, ketersediaan air untuk irigasi membuat petani di wilayah tersebut bisa melakukan proses penanaman sepanjang tahun tanpa khawatir musim kemarau.

Lihat juga...