BLITAR – Badan Urusan Logistik (Bulog) Jawa Timur menyebut harga beras yang tinggi menjadi salah satu kendala penyerapan beras yang hingga kini masih kurang optimal.
Kepala Divisi Regional Perum Bulog Jatim Muhammad Hasyim mengatakan, saat ini harga beras di pasar mencapai Rp9.000 perkilogram. “Memang masalah sekarang harga tinggi di lapangan. Di pasar, laporan harga rata-rata di atas Rp9 ribu per kilogram, itu kami agak kesulitan, karena harga relatif tinggi,” ujarnya saat ditemui di Desa Dandong, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jumat (24/11/2017).
Hasyim yang ditemui dalam acara penyerahan bantuan program kemitraan bina lingkungan di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Kabupaten Blitar, mengatakan, pemerintah telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP), beras Rp7.300 per kilogram. Namun, saat ini pemerintah juga telah membuat aturan fleksibilitas harga, sehingga HPP juga dimungkinkan naik meski hanya mencapai 10 persen.
Kebijakan fleksibilitas harga itu ditetapkan untuk pembelian beras petani, dengan harapan target pembelian bisa terpenuhi. Gabah petani bisa dibeli dengan harga yang lebih tinggi, lebih bisa bersaing dengan harga beras di pasar, sehingga penyerapan juga diharapkan bisa lebih optimal.
Terkait dengan pengaruh intensitas hujan yang tinggi pada penyerapan, Hasyim menambahkan hal tersebut juga mempengaruhi pembelian beras dari petani. Beberapa petani kesulitan untuk mengeringkan gabah, sehingga penyerapan juga kurang optimal. “Jatim ini sudah masuk penghujan, itu juga salah satu yang berpengaruh. Gabah agak sulit dikeringkan. Pengering juga terbatas,” ujarnya.
Walaupun panen sudah mulai berkurang, Bulog Jatim juga terus koordinasi dengan daerah untuk penyerapan. Dalam program tersebut, bulog kerjasama dengan mitra-mitra di daerah, sehingga diharapkan bisa lebih cepat untuk penyerapan.
Saat ini, tambah dia, hanya ada sejumlah wilayah yang masih panen gabah. Hal itu disebabkan, salah satunya banyak petani yang baru mulai tanam padi, ketimbang panen. Mayoritas petani baru tanam, dan puncak panen raya yang dimungkinkan baru terjadi pada Februari 2018.
Bulog Jatim hingga kini jumlah penyerapannya masih kurang lebih 670 ribu ton. Diharapkan, hingga akhir 2017 penyerapan bisa sampai 700 ribu ton. Untuk itu, Bulog Jatim berupaya mengoptimalkan penyerapan beras, sehingga target tersebut bisa terpenuhi.
Dengan penyerapan tersebut, dipastikan masih bisa memenuhi kebutuhan untuk rastra warga penerima di Jatim. Selain itu, pasokan yang ada juga siap untuk memenuhi persiapan operasi pasar yang dilakukan menjelang perayaan tahun baru 2018 dan Natal.
“Dari beberapa pantauan kami, memang panen tidak banyak. Hanya ada spot-spot kecil, tapi kami tetap jalan. Jika pasar butuh stok, bulog juga siap. Kami juga sudah perintahkan, jika di daerah butuh operasi pasar, kami jalan,” pungkasnya. (Ant)