MANILA – Filipina mewaspadai kemungkinan terjadinya terror oleh pelaku tunggal di wilayahnya. Kewaspadaan tersebut menjadi respon pasca klaim keberhasilan merebut Kota Marawi dari tangan kelompok bersenjata pendukung IS.
Sepekan pasca klaim keberhasilan merebut Marawi, tentara Filipina masih terlibat kontak senjata dengan kelompok pendukung IS. Terakhir pertempuran dengan kelompok bersenjata yang masih bertahan terjadi di kota yang berada di tepi sebuah danau yang berada di Pulai Selatan Mindanao.
“Satu kekhawatiran sesudah Marawi adalah kemungkinan ancaman dari pelaku tunggal,” kata Juru Bicara Departemen Pertahanan Arsenio Andolong, Jumat (3/11/2017).
Menanggapi pernyataan Presiden Rodrigo Duterte yang menyebut keberadaan lima kota yang akan menjadi sasaran gerilya dari kelompok bersenjata pendukung IS. Andolong menyebut, saat ini tentara dalam kondisi siaga tinggi. Kemungkinan aksi gerilya terhadap lima kota di Mindanao tersebut di prediksi sebagai ekses dari kekalahan atas Marawi.
Sementara itu Kedutaan Australia memberikan peringatan keras kemungkinan adanya aksi serangan terror di Filipina, pada Jumat (3/11/2017). Ancaman terror tersebut dapat terjadi di semua wilayah, termasuk di Manila Ibu Kota Filipina. Tempat-tempat yang disebut memiliki tingkat keamanan dan perlindungan rendah disebut-sebut rawan menjadi sasaran serangan terror.
Kedutaan itu meminta warga Australia mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke Mindanao timur dan hindari daerah tengah dan baratnya. “Waspadalah terhadap kemungkinan ancaman di sekitar berbagai tempat, yang memiliki tingkat perlindungan keamanan rendah dan yang diketahui kemungkinan menjadi sasaran ‘teroris’,” ujar peringatan Kedutaan Australia.
Menanggapi peringatan dari Australia, Juru Bicara Tentara Mayor Jenderal Restituto Padila menyebut, peringatan tersebut hanya pengulangan. Hal tersebut mempertimbangkan peringatan yang sama telah disampaikan pada awal tahun lalu. “Itu hanya pengulangan, tidak ada ancaman nyata,” tambahnya.
Pada pertemupran perebutan Marawai, Tentara Filipina berhasil membunuh tangan kanan pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon. Amir petempur IS di Asia Tenggara tersebut ditembak mati pada bulan lalu.
Kematiannya mempercepat keruntuhan kelompok keras berkubu di Marawi itu, yang menyebabkan kekalahannya. Selama lima bulan pertempuran antara tentara Filipina dengan kelompok bersenjata, tercatat lebih dari 1.100 orang, termasuk 165 tentara tewas. (Ant)