Bocah TK ini Sebut Wali Kota Semarang Pahlawan

SEMARANG — Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi Selasa(7/11) memperingati Hari Pahlawan ke-72 bersama ratusan siswa di Labschool Unnes (Universitas Negeri Semarang) di Jalan Menoreh Tengah X, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Hendi, panggilan akrabnya berbaur hangat bersama siswa dari PAUD sampai SD berkostum seragam polisi dan seragam tentara serta pakaian adat.

“Selamat pagi adik-adik? Adik-adik gimana kabarnya hari ini? Sehat semua? Sudah gosok gigi? Ini sudah hadir ada Pak Rustono, Wakil Rektor Unnes. Pak Hendi juga ajak Bu Tia ini istrinya Pak Hendi. Ada Kepala Sekolah, ibu-ibu guru.Kemudian ada Pak Camat, Pak Danramil dan Perwakilan dari Polsek,” sambut Hendi membuka acara peringatan Hari Pahlawan ke-72 itu di Aula Lantai 2, Kawaan Labschool Unnes, Kota Semarang, Jateng Selasa (7/11).

Hendi pun dengan gaya layaknya  guru TK dan SD, bercerita tentang sejarah Hari Pahlawan yang muncul pada saat terjadi peperangan antara pejuang bangsa Indonesia dengan Belanda di Kota Surabaya.

“Ceritanya hari ini pakai baju-baju daerah dan baju pahlawan. Nah, adik-adik sekalian siapa yang tahu 10 November hari pahlawan? Kenapa disebut Hari Pahlawan? Waktu itu ada pertempuran di Kota Surabaya (pejuang kita) untuk mengusir penjajah,” tutur Hendi di hadapan ratusan anak yang duduk lesehan di bawah.

“Kalau pertempuran yang di Kota Semarang adalah pertempuran apa? Hayo? Pertempuran apa namanya? Siapa yang bisa jawab? Maju,? tanyak Hendi sambil menunjuk salah satu anak yang mengacungkan jarinya.

“Pertempuran Lima hari,! jawab seorang anak dengan baju tentaranya.

“Nah pinter kasih hadiah,” ucap Hendi.

Hendi lalu memberikan semangat kepahlawanan kepada anak-anak serta mengungkapkan jika anak-anak di jaman sekarang bisa menjadi pahlawan. Tentunya dengan berkarya dan berprestasi sesuai bidangnya masing-masing.

“Pak Hendi mau cerita gini, hari ini adik-adik bisa jadi pahlawan nggak? Yang namanya pahlawan yang ikhlas nggak minta bayaran, untuk memperjuangkan kemerdekaan. Nah hari ini adik-adik bisa jadi pahlawan. Pahlawan berprestasi saat ini sesuai pekerjaanya masing-masing. Tahu siapa yang menjajah,? tanya Hendi.

“Belanda! Jepang! Pak Wali,! teriak salah satu siswa TK bernama Deo.

“Siapa yang tahu apa dan siapa pahlawan jaman sekarang? Ayooo ada yang bisa jawab? Contoh pahlawan hari ini siapa? Siapa pahlawan hari ini? tanya Hendi kepada seorang anak yang merupakan siswi di SDN Labschool Unnes.

“Pak Wali Kota! Cia Pak Hendi…nama saya,” ungkap bocah yang memakai kostum perawat.

Hendi pun menyahut; “Eh Pak Wali Kota belum jadi pahlawan. Pak Wali masih menjalankan tugas. Cium yah sini. Ayo siapa yang bisa jawab pahlawan sekarang siapa? Sini Bu dokter. Nama siapa? Oh Alya,” ucap Hendi sembari memeluk hangat sang bocah.

“Bung Karno,! tegas Alya.

Hendi pun menjelaskan jika conroh pahlawan saat ini adalah pebulu tangkis Indonesia yang menjuarai dan membawa nama harum Indonesia di arena internasional seperti Olympiade. Dirinya juga berpesan selama proses belajar mengajar untuk tidak membiasakan diri dan membudayakan berebutan duduk di belakang. Melainkan, harus suka duduk di depan supaya bisa memperhatikan pelajaran dan menjadi juara kelas.

“Itu dulu. Kalau pahlawan sekarang namanya Tantowi Ahmad dan Liliana juara bulutangkis internasional. Titip pesen satu saja yah Pak Wali.

Ada budaya jelek, membiasakan duduk di belakang. Saya sering melihat, ada anak rebutan untuk duduk di belakang. Adik-adik harus berani duduk di depan. Pesannya cuman satu duduk di depan, selalu jadi juara, selalu jadi orang hebat,” tandas Hendi.

Di akhir acara, Hendi juga meminta kepada anak-anak untuk selalu giat belajar dan bersekolah supaya berprestasi dan menjadi anak yang pintar serta berbakat.

“Saya doakan 30 tahun 40 tahun ke depan ada yang bisa jadi Wali Kota, ada yang bisa jadi Gubernur, ada yang bisa jadi tentara, jadi polisi dan dokter,” harapnya.

Usai kegiatan, Hendi kepada awak media menjelaskan pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak yang mempunyai jiwa kepahlawanan sangatlah penting.

“Pasti (penting)! Karena lewat pembentukan karakter mereka bisa memahami bahwa apa yang harus dilakukan harus selalu benar. Mana yang salah harus tidak dilakukan. Ini yang harus ditanamkan sejak dini.

Termasuk membentuk jiwa kepahlawanan,” jelasnya.

Sebagai warga negara Indonesia, harus ikhlas dan rela menyerahkan diri menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kep[entingan pribadi.

“Sifat kepahlawanan ini penting. Bahwa kita tinggal di sebuah negara yang besar namanya Indonesia ya kita pasti harus mau dan ikhlas berkorban untuk bangsa kita. Karena setiap hari aktivitas kita di Indonesia,” terangnya.

Maka, Hendi menambahkan jika bangsa Indonesia memerlukan kita untuk berjuang baik menangkal hoaxs maupun korupsi yang merajalela, kita harus ikut melakukan dua hal tersebut.

“Jadi kalau Indonesia perlu peran kita menangkal hoaxs kita harus ikhlas lakukan itu. Kalau Indonesia perlu peran bersama-sama membersihkan birokrasi dari korupsi. Nah, kita harus ikhlas seperti itu. Jadi, itu namanya cinta dan bangga Indonesia. itu paling tepat
dilakukan dan diajarkan sejak usia dini,” pungkasnya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat acara peringatan Hari Pahlawan di PAUD, TK dan SD Labschool Unnes di Jalan Menoreh Tengah, Kota Semarang, Jateng/Foto: Parwito.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik Unnes Rustono menyatakan pihaknya sengaja mengundang Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sebagaisalah satu bagian pengembangan pendidikan dan karakter anak-anak siswa  Labschool Unnes.

“Kita menghadirkan Pak Wali Kota biar sekaligus berdialog dengan anak-anak dan orang tua siswa mengenai pengembangan sekolah lab yang ada di Semarang ini,” jelasnya.

Rustono berharap, dengan hadirnya Hendi memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak siswa akan tumbuh jiwa dan sifat kepemimpinan serta nasionalisme kepada siswa.

Alhamdulillah, Pak Wali sangat enjoy menanamkan sifat-sifat sifat kebangsaan berkenaan hari pahlawan. Ini juga untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme. Secara fisik tadi juga kita lakukan kepada anak-anak dengan mengenakan berbagai jenis pakian, termasuk pakaian adat,” pungkasnya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi/ Foto: Parwito.
Lihat juga...