Wapres: BAZNAS Harus Bangkitkan Kembali Jiwa Wirausaha Umat
JAKARTA — Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) mengatakan, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dapat meningkatkan muzaki (pembayar zakat) dengan mendorong jiwa wirausaha (enterpreneur) di sekolah maupun perguruan tinggi.
“Solusinya adalah meningkatkan orang Islam yang mampu. Tentu bagaimana BAZNAS selalu mendorong untuk menjadi pengusaha,” kata JK dalam sambutannya saat membuka Rapat Koordinasi Zakat Nasional (Rakornas) BAZNAS 2017 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Rabu (4/10/2017).
JK menyampaikan, Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi rasul juga adalah seorang pedagang. Maka penting saat ini untuk membangkitkan kembali jiwa wirausaha umat.
Dalam sejumlah angka statistik, jelas JK, satu persen orang Indonesia menguasai 50 persen aset nasional. Namun, sebagian besar dari satu persen tersebut tidak membayar zakat.
“Jadi bagaimana kita disini disamping mengumpulkan zakat juga berusaha meningkatkan jumlah pembayar zakat, bukan hanya dengan membacakan ayat,” tegasnya.
Apalagi lanjut dia, perkembangan zaman telah mengubah cara-cara berzakat. Zakat harus dicari formula dan cara karena orang tidak cukup waktu lagi untuk mengantre dan lain sebagainya. BAZNAS sudah melakukan itu, seperti bayar zakat di Istana, kita dapat kartu. Sehingga kita bisa bertransaksi dengan teknologi.
Pada kesempatan ini, JK juga menganalogikan, jika seorang peternak ayam ingin menghasilkan telur ayam yang banyak, maka peternak tersebut harus memelihara ayamnya dengan baik. Jangan hanya sekadar menginginkan hasil yang banyak saja, namun tidak ada upaya untuk mencapai hasil tersebut.
“Jadi menurut saya, kita berjuang bersama-sama, jangan berburu hewan di kebun binatang, ya pasti dapatnya itu-itu saja tidak bertambah,” tukas JK.
Untuk mendorong penerimaan zakat, infaq dan sedekah, menurutnya, juga diperlukan keterbukaan dan kepercayaan. Sehingga apa yang dilaksanakan dan dikumpulkan BAZNAS diketahui oleh masyarakat, dan kalau perlu juga diminta pilihan kepada yang berzakat akan diberikan ke siapa supaya mereka tahu zakatnya disalurkan kemana saja.
Dirinya juga meminta agar BAZNAS efisien dalam mengelola zakat. Menurut JK, semakin kecil saldo BAZNAS, maka pengelolaannya semakin efektif. “Kalau saldo Baznas besar berarti tidak efektif karena tidak cepat disalurkan dan harus ada perencanaan,” ucapnya.
Untuk itu, tegas JK, BAZNAS harus memetakan program yang tepat sehingga lebih banyak orang yang merasakan dan cepat menyalurkan zakat kepada para mustahik atau penerima zakat.
Pada kesempatan ini, JK juga mengingatkan bahwa apapun yang dilakukan seyogyanya diniatkan untuk ibadah.
JK juga mengapresiasikan salah satu tema dalam Rakornas BAZNAS ini, yakni mengenai peran zakat dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurutnya, peran zakat dalam SDGs memang bagus, namun harus dipelajari bahwa 17 program dalam SDGs tidak semuanya sesuai dengan 8 golongan mustahik. Adapun yang harus diprioritaskan adalah bagaimana BAZNAS bisa mendorong pengentaskan kemiskinan dengan penyebaran zakat yang tepat sasaran. Programnya pun bisa berbentuk pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan jumlah wirausaha dan juga pengembangan pembangunan.
Pada kesempatan ini juga, JK mengatakan, bahwa dalam Sidang Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBN) beberapa waktu lalu, Gubernur Jambi diundang untuk memaparkan mengenai pemanfaatan zakat untuk pembangunan pembangkit listrik yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan merupakan upaya bagi pengentasa kemiskinan.
“Namun demkian yang paling penting adalah mendorong anak-anak bangsa ini untuk berwirausaha, sehingga dapat meningkatkan muzakki-nya,” tegas JK.