Status Gunung Agung Pengaruhi Suplai Bahan Bangunan
DENPASAR – Stok bahan material bangunan seperti pasir, batu kerikil dan batu besar di beberapa wilayah di Pulau Bali belakangan ini menjadi langka. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya pengiriman bahan material dari penambang dari Karangasem akibat peningkatan status Gunung Agung.
Seperti yang dirasakan oleh Ketut Tony, salah seorang penjual bahan material di Kota Denpasar Bali, ini. Menurutnya saat ini pengiriman bahan material bangun di tempatnya bukan hanya berkurang, bahkan bisa dikatakan kosong. “Ya mungkin aktivitas penambangan di Karangasem terhenti akibat status Gunung ini, Mas”, icapnya kepada Cendana News, Sabtu Sore (21/10/2017) sore.

Tony, sapaan akrabnya, menyebut jika di hari biasa setidaknya ada 15 truk bahan material yang mengirim ke tempatnya, saat ini hanya satu truk saja yang mengirim bahan material ke tempatnya dan itupun kalau ada.
Akibatnya, harga material bagunan ini mengalami kenaikan hingga 100 persen lebih. Jika sebelumnya harga jual pasir hanya Rp1-1,2 juta per truk, saat ini harganya mencapai Rp2 juta per truk, bahkan lebih. Sementara untuk harga batu krikil yang semula Rp1,5 per truk, saat ini menjadi Rp2,5 juta. Sedangkan untuk harga batu besar yang semula hanya Rp2,5 juta saat ini naik menjadi Rp3,5 bahkan mendekati Rp4 juta.
“Meski begitu, ya tetap percuma, kan pengiriman tidak ada dari penambang”, tutur pria dengan dua anak ini.
Tidak hanya berdampak bagi para penjual bahan material, hal tersebut juga dirasakan oleh beberapa kontraktor yang menggarap gedung perkantoran, maupun perumahan.
Asmo, salah seorang kontraktor bagunan yang menggarap sebuah kos-kosan di kawasan Denpasar Barat mengaku terpaksa menghentikan garapannya akibat tidak adanya bahan material yang digunakan untuk mengecor. Menurutnya, hal tersebut berakibat molornya jadwal pengerjaan bangunan yang sedang digarapnya.
Jika kondisi normal, bangunan dua lantai dengan 10 kamar bisa dikerjakan 3 – 4 bulan, maka akibat penghentian proyek pembangunan ini molor hingga 8 bulan. “Ya, mau gimana lagi, bahannya tidak ada”, kata Asmo, yang asli Jember ini.
Seperti yang diketahui, aktivitas penambangan yang ada di Karangasem terpaksa dihentikan oleh pemerintah setempat. Hal tersebut dilakukan menyusul adanya peningkatan status Gunung Agung. Dan, tepat pada hari ini Sabtu (21/10) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pemantau Rendang meningkatkan status Gunung Agung dari level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).