Rusia Veto Penyelidikan Penggunaan Senjata Kimia di Suriah

PBB – Rusia menggunakan hak veto-nya di Dewan Keamanan PBB untuk mencegah rencana perpanjangan penyelidikan penggunaan senjata kimia di Suriah.

Veto tersebut dilakukan pada proses pemungutan suara yang berlangsung Selasa (24/10/2017). China dilaporkan memilih abstain, sementara Bolivia bergabung dengan Rusia dalam pemungutan suara dengan memilih tidak. Sementara sebelas negara lain memilih mendukung usulan tersebut.

PBB melakukan investigasi terhadap penggunaan senjata kimia di Suriah. Upaya oleh PBB dan Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia yang dikenal sebagai Mekanisme Investigasi Bersama (JIM)  tersebut dilakukan setelah 15 anggota Dewan Keamanan PBB menyetujui untuk melakukannya di 2015 lalu.

Pada 2016 lalu, JIM kembali mendapatkan kesepakatan bersama sehingga prosesnya diterukan kembali. Laporan terakhir dari penyelidikan akan disampaikan pada Kamis (26/10/2017) mendatng. Sementara mandat dari misi tersebut akan berakhir pada pertengahan November mendatang.

Sementara itu kondisi di Suriah, pada pekan lalu terjadi serangan selama empat bulan oleh Pasukan Demokratis Suriah (SDF) yang didukung AS. IS menghadapi tekanan kuat dan kehilangan ibu kota de faktonya di Provinsi Ar-Raqqah di Suriah Utara.

Personel SDF dalam hal ini aliansi gerilyawan Kurdi, Arab dan Assyiria dan dipimpin oleh YPG Kurdi dan didukung oleh koalisi pimpinan AS disebut telah sepenuhnya merebut Ar-Raqqah pada Selasa (17/10/2017).

Kota tersebut juga menghadapi penyisiran untuk mencari ranjau, sementara situasi di Ar-Raqqah telah sepenuhnya dikuasai oleh SDF. Kemenangan itu menandai kelahakan besar pertama IS di Suriah. Ar-Raqqah adalah Ibu Kota de Fakto kelompok fanatik tersebut.

Dalam satu pekan belakangan, satu kesepakatan dicapai antara SDF dan IS dengan penengahan suku setempat di Ar-Raqqah bagi penyerahan diri mereka. Sebanyak 3.500 warga sipil mengungsi dari kota itu selama satu pekan belakangan, selain 275 petempur lokal IS, sementara sebanyak 300 lagi orang asing masih berada di kota tersebut untuk menghadapi nasib suram mereka.

Pegiat suku Kurdi mengatakan petempur IS yang menyerahkan diri dibawa ke penjara di Kota Tabqa di pinggir Ar-Raqqah, sementara pegiat lain, terutama yang pro-Pemerintah Suriah, mengatakan koalisi pimpinan AS dan SDF mengizinkan mereka dipindahkan ke pinggir Provinsi Deir Az-Zour di Suriah Timur. Di sana militer Suriah bergerak maju dalam pertempuran melawan IS di daerah yang kaya akan minyak di dekat Irak.

Buat petempur asing IS, koalisi dukungan AS tidak menerima kepergian mereka, sementara Paris menentang pemindahan mereka sebab salah satu dari mereka adalah otak di balik serangan teror di Paris.

Orang asing tersebut adalah orang yang melawan sampai ajal sebelum SDF merebut kembali semua posisi mereka. Termasuk stadion lokal di kota itu yang menjadi posisi terakhir IS di Ar-Raqqah.

Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia mengatakan, sebanyak 3.250 orang termasuk 1.130 warga sipil, telah tewas selama pertempuran empat-bulan di Ar-Raqqah. (Ant)

Lihat juga...