Potensi Besar, Perajin Sampan Marbo Butuh Dukungan Modal
MAKASSAR — Hari masih pagi. Sekelompok orang di pesisir Pantai Marbo, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo begitu tekun merakit sebuah perahu sampan (katinting). Katinting ialah perahu kecil yang digunakan oleh para nelayan kecil untuk mencari ikan.
Di antara para perajin sampan itu Amir. Awalnya dia hanya membantu salah satu nelayan di Marbo. Nelayan tersebut meminta Amir membuatkan kapal baru untuk tranportasinya. Dari itu, Amire melihat ada peluang. Hingga kini Amir tetap menekunni usahanya membuat sampan (Katinting). Bahkan sampan produksi Amir terjual sampai ke luar Sulawesi Selatan.
“Hingga tiba-tiba saya mempromosikan diri saya dalam hal jasa membuat sampan (katinting) bahkan sampan yang dibuat sampai keluar pulau Sulawesi Selatan,” ungkap Amir pada Cendana News selasa (17/10/2017)
Amir sudah menekuni usaha pembuatan sampan ini sejak 1990. Pada 2006 seorang pengusaha dari Kendari memesan sampan pada Amir sebanyak 10 unit sampan. Dalam setahun Amir dapat menjual puluhan sampan ke berbagai daerah.
Amir bahkan memasarkan sampannya tidak hanya di Sulawesi Selatan tapi sampai keluar Sulawesi Selatan. Untuk pengerjaan satu unit sampan ini dibutuhkan waktu selama sepuluh hari. Hal ini karena proses pembuatan sampan yang masih manual.
Amir menambahkan pula ada untuk pembuatan satu unit sampan bisa dikerjakan hanya untuk satu orang saja.
“Warga di sini rasa gotong royongnya tinggi sehingga yang membantu saya dalam proses pengerjaan sampan hanya dua orang saja”. tambahnya.
Untuk masalah penjuallan sampan biasa Amir memodallinya terlebih dahulu atau juga meminta uang muka. Proses pemesanannya pun Amir melakukan pertemuan dengan calon pembeli. Biasanya pembeli memiliki ukuran panjang, tinggi dan juga lebar dari sampan tergantung dari selera dari calon pembeli tersebut.
Dari satu unit sampan Amir hanya mendapat keuntungan bersih sebesar Rp1.000.000 hingga Rp2.000.000. Harga sampan yang dijual Amir bervariasi mulai dari lima juta rupiah. Dari jumlah itu lebih dari lima puluh persen habis untuk bahan baku dan upah. Agar bisa bersaing dari itu Amir harus pintar menggunakan bahan seperti fiber, minyak, kayu dan juga paku.
Amir menceritakan kalau tidak pandai dan teliti dalam meminallisir dalam menggunakan bahan biasa bisa merugi.
“Untuk bahan kami beli di daerah Cendrawasih. kami harus teliti betul dalam penggunaan minyak campuran fiber kalau tidak biasannya sampan tidak jadi dan akan merugi”. tutup Amir.
Untuk saat ini Amir sangat berharap bantuan pemerintah berupa modal. Karena terkadang Amir menolak beberapa calon pembeli akibat tidak adanya modal yang mencukupi dalam membuat sampan.