Poltekpar NTB, Tulang Punggung Pembangunan Pariwisata
LOMBOK TENGAH – Keberadaan kampus dan sekolah Politeknik Pariwisata (Poltekpar) di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) diharapkan bisa menjadi tulang punggung pembangunan pariwisata NTB dengan menghasilkan SDM berkualitas.
Hal tersebut disampaikan Gubernur NTB, Zainul Majdi, saat meletakkan batu pertama pembangunan kampus Poltekpar bertaraf internasional di Kabupaten Lombok Tengah, Senin (2/10/2017).
“Pembangunan sektor pariwisata sekarang ini telah mengalami perkembangan dan kemajuan sangat pesat, termasuk di NTB sehingga untuk menunjang kemajuan tersebut dibutuhkan SDM berkualitas. Dengan keberadaan Poltekpar akan banyak lahir SDM berkualitas dan siap kerja dari putra putri NTB,” kata Majdi.
Karena itulah, demi mensukseskan pembangunan kampus Poltekpar tersebut, diperlukan kebersamaan, keterbukaan, kelapangan dada, mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, tidak boleh ada ego sektoral.
Harus ada komitmen yang tinggi, meletakkan kepentingan anak dan masyarakat NTB sebagai prioritas utama, melihat kemajuan NTB harus dengan pikiran yang bisa melihat jauh ke depan, jangan hanya berpikir hari ini dan esok.
“Dalam proses penerimaan mahasiswa nantinya, 80 persen harus diisi dari putra putri NTB, supaya ada terbuka ruang baru untuk anak-anak NTB sebagai insan pariwisata dan tidak lagi sekolah atau kuliah berorientasi menjadi PNS,” katanya.
Diakui Majdi, setiap proses pembangunan sudah barang tentu memiliki dampak sebagai konsekuensi sebuah pembangunan, tapi jangan sampai tidak terbuka terhadap semua kebaikan. Kalau ada tantangan jangan takut, tapi kita hadapi bersama, dengan demikian lulusan Politekpar nantinya selain menghasilkan SDM berkualitas, juga bisa menjadi penggerak perekonomian NTB.
Sementara itu, Deputi Pengembangan dan Kelembagaan Bidang Pariwisata, Kementerian Pariwisata, Almansyah mengatakan, untuk tahap awal pembangunan Politekpar, Kementerian Pariwisata menggelontorkan anggaran senilai Rp180 miliar dari total anggaran senilai Rp1,5 triliun dan ditargetkan selesai serta mulai digunakan pada 2019.
“Untuk sistem pembelajaran, sesuai arahan dari Pak Menteri, bahwa Poltekpar di bawah Kementerian Pariwisata, pembelajarannya harus menggunakan standar global, bahasa Inggris, penguasaan IT, dan kepemimpinan yang menjadi prioritas,” katanya.
Dikatakan pula, model pendidikan nantinya adalah sistem advokasi, dimana 70 persen praktik lapangan dan 30 persen teori ruangan, mahasiswa dan siswa Politekpar akan lebih banyak diterjunkan langsung.
Ada juga dibangun hotel praktikum yang akan diupayakan, termasuk menjalin kerjasama dengan perusahaan dan industri pariwisata yang ada di NTB, seperti PHRI, ASITA, HPI termasuk perusahaan pariwisata lain di NTB.
“Proyeksi lulusan Poltekpar tidak ada yang menganggur, semua lulusan diserap menjadi tenaga kerja di semua perusahaan yang ada,” katanya.
Ditambahkan, Poltekpar sendiri telah menerima mahasiswa sejak 2016, tahap pertama 112 orang, sekarang 400 orang dan tahun depan 500 orang. 2018 sudah 1000 orang dan siap terus meningkatkan mahasiswa dengan kapasitas daya tampung minimal 5 ribu.
Kementerian pariwisata mempersembahkan Poltekpar untuk NTB guna membangun SDM bidang pariwisata yang handal, siap kerja, sehingga akan berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.