LEBAK – Petani jagung di Kabupaten Lebak, Banten, siap memenuhi permintaan pasar Jakarta, menyusul program upaya khusus (upsus) jagung yang digulirkan Kementerian Pertanian.
“Kita tahun ini program upsus jagung menerima bantuan seluas 30.000 hektare dengan target 21.000 ton dari rata-rata 7 ton per hektare,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Dede Supriatna.
Penyaluran bantuan program upsus jagung itu guna mendongkrak produksi pangan juga peningkatan ekonomi petani,m sehingga bisa mengatasi kemiskinan dan pengangguran.
Pemerintah kini menutup pasar impor jagung dari luar negeri dan kesempatan bagi petani lokal untuk meningkatkan produksi sehingga mampu mengatasi kemiskinan dan pengangguran.
Penutupan jagung impor itu, karena produksi lokal bisa berswasembada jagung melalui penyaluran bantuan benih unggul, saprodi dan alat pertanian (alsintan). Selain itu, juga melibatkan stakeholderd, di antaranya Kelompok Tani Nelayan dan Andalan (KTNA), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Kamar Dagang Industri (Kadin).
Kabupaten Lebak berpeluang dijadikan sentra jagung, karena didukung lahan luas, baik daratan maupun persawahan. Karena itu, Kementerian Pertanian menggulirkan program upsus jagung di Kabupaten Lebak seluas 30.000 hektare sehingga bisa memenuhi permintaan pasar Jakarta dan perusahaan peternakan unggas. “Kami siap memasok produksi jagung ke Jakarta hingga ribuan ton,” katanya.
Ia mengatakan, saat ini, produksi jagung di Kabupaten Lebak sampai September 2017 mencapai 4.188 ton dengan areal seluas 7.595 hektare. Produksi jagung sebanyak 4.188 ton diantaranya memasok kebutuhan pasar Jakarta. Mereka petani mengembangkan tanaman jagung di lahan darat dengan pola tanam tumpang sari.
Selama ini, tanaman jagung tumbuh subur juga tidak ada serangan hama dan penyakit tanaman. Kebanyakan petani menanam jagung dengan benih unggul jenis varietas metro karena produktivitasnya cukup tinggi. “Kami berharap petani juga bisa memasok jagung hibrida ke perusahaan pakan unggas yang ada di Tangerang,” katanya.
Menurut dia, program upsus pertanian jagung dipastikan menyumbangkan produksi pangan nasional juga pendapatan ekonomi petani meningkat sehingga kehidupan keluarga menjadi lebih baik.
Produksi jagung itu, selain untuk memenuhi permintaan pasar Jakarta juga ditampung oleh Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Provinsi Banten. “Saya yakin pendapatan ekonomi petani menjadi lebih sejahtera dengan pendapatan di atas Rp10 juta per hektare jika harga pipilan jagung sebesar Rp4.000 per kilogram,” ujar dia menjelaskan.
Seorang petani di Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak Maman (55), mengakui kini mengembangkan tanaman jagung di lahan darat seluas 1,5 hektare untuk memenuhi permintaan pasar.
“Kami tahun ini menanam jagung mendapat bantuan program upsus seluas 1,5 hektare,” katanya.
Sejumlah petani Kecamatan Gunungkencana Kabupaten Lebak mengatakan pengembangan budidaya tanaman jagung hibrida dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal yang selama ini masih didatangkan dari luar daerah.
Tanaman jagung jenis varietas NK 212 tersebut dengan memanfaatkan lahan milik Perum Perhutani seluas 20 hektare. Pengembangan tanaman jagung diharapkan ke depan dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun nasional.
“Kami saat ini telah mengembangkan tanaman jagung seluas dua hektare bantuan program Upsus,” kata Yanto (50), seorang anggota Kelompok Tani di Kecamatan Gunungkencana. (Ant)