Perajin Batu-bata di Palas Keluhkan Turunnya Harga
LAMPUNG – Produsen batu-bata di wilayah Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, mulai merasakan membaiknya harga batu bata sejak awal 2017 ini, sebagai dampak adanya proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) serta program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
Suminto (40), mengatakan, kenaikan harga batu-bata sudah terjadi sejak awal tahun dengan harga awal sebesar Rp200.000 per seribunya, merangkak naik sejak Februari hingga Agustus hingga Rp320.000 per seribu bata di tobong (lokasi pembakaran batu bata) hingga ke lokasi pemesan bisa mencapai Rp400.000.

Selama harga cukup baik, Suminto rata-rata mencetak dan membakar batu-bata dengan sistem cetak manual sebanyak 15.000 hingga Rp20.000 batu-bata, sebagian merupakan pesanan pelaksana proyek pembangunan rumah.
“Produsen batu-bata masih menikmati harga yang lumayan, namun menjelang akhir tahun harga kembali turun dengan selesainya proyek pembangunan rumah dampak proyek jalan tol dan bedah rumah”, ungkap Suminto, salah satu warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pembakaran batu-bata, Sabtu (21/10/2017).
Suminto menjelaskan, proses pembuatan batu-bata di wilayah Palas sebagian masih menggunakan sistem manual dengan jenis tanah putih dan proses pembakaran menggunakan sekam padi dan kayu. Semakin berkurangnya bahan baku tanah di wilayah Desa Tanjungsari, membuat produsen batu-bata membeli tanah di wilayah lain seharga Rp120.000, dalam kendaraan L300 dan selanjutnya diolah menjadi tanah bahan batu-bata menggunakan mesin, lalu dicetak secara manual.
Tingginya biaya operasional batu-bata dari mulai tanah, bahan baku kayu serta sekam padi, diakui Suminto belum sebanding dengan harga batu-bata yang cenderung menurun, dan kerap membuat produsen batu-bata jauh dari upaya untuk menghasilkan untung. Ia mengkalkulasikan, produsen batu-bata baru akan mengalami keuntungan jika harga batu-bata per seribu bata mencapai Rp300.000.
“Kami sebagai produsen batu-bata skala rumahan, masih bertahan karena tidak ada pilihan pekerjaan lain dan sekaligus menciptakan pekerjaan sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain”, beber Suminto.
Selain dikerjakan sendiri, Suminto juga kerap menggunakan jasa tukang dengan sistem upahan untuk per 1000 bata mulai dari ngluluh atau mengolah tanah, mencetak batu-bata, ngagir atau menata batu-bata diupah sekitar Rp80.000 per orang, sementara upah untuk mencetak batu saja Rp35.000 per seribu batu-bata.
Penurunan harga batu-bata dari kisaran Rp320.000 hingga Rp290.000 bahkan hingga Rp270.000 per seribu batu batu, juga diakui oleh produsen batu-bata lain di Desa Blora, Damiati (50).
“Awalnya, saya memang menjual batu bata dengan harga yang masih tinggi, tapi kini harga sedang turun dan sedang dalam proses pembakaran dengan kayu”, terang Damiati.
Menurut Damiati, turunnya harga batu-bata itu disebabkan menurunnya permintaan batu-bata menjelang akhir tahun, faktor akhir tahun di mana sebagian warga menggunakan uangnya untuk modal bertani dan keperluan lain. Pembelian batu-bata bahkan diakuinya sebagian dilakukan dengan cara mencicil dengan sistem menitipkan uang terlebih dahulu dan batu-bata dikirim saat akan dibutuhkan.
Selain itu, juga dipengaruhi daya beli masyarakat, terutama dengan semakin mahalnya harga bahan bangunan, sehingga sebagian warga menunda membangun rumah dan sebagian memilih membangun rumah saat harga bahan bangunan turun. Produsen batu-bata seperti dirinya berharap, harga batu-bata bisa kembali normal berkisar Rp300.000 per seribu bata, sehingga bisa menutupi biaya operasional pembuatan batu bata.