Pengunjuk Rasa Tuntut Keadilan Setelah Tewasnya Wartawan

VALLETTA – Ribuan warga Malta menggelar demontrasi menuntut keadilan pada Minggu (22/10/2017). Aksi yang dimotori sebuah organisasi non-pemerintah tersebut menjadi respon setelah terbunuhnya seorang wartawan Senin pekan lalu.

Para pengunjuk rasa di ibu kota Malta, Valletta, diorganisir oleh kelompok Jaringan Masyarakat Sipil (CSN), setelah meledaknya sebuah mobil yang menewaskan Daphne Caruana Galizia (53), seorang blogger anti korupsi. Ledakan bom tersebut diyakini sebagai sebuah perkara pembunuhan yang menggemparkan negara di pulau Mediterania itu.

Beberapa dari mereka yang hadir dalam unjuk rasa membawa spanduk atau mengenakan kaos dengan kata-kata terakhir yang ditulis oleh Caruana Galizia, beberapa menit sebelum dia terbunuh. Tulisan tersebut adalah  “Ada penjahat di mana pun anda berada lihatlah sekarang. Situasinya sangat menyedihkan”.

“Anda ingat, kami berkumpul, hampir tiga tahun yang lalu, di Paris, setelah Charlie Hebdo. Kami berkumpul hari ini di Valletta untuk Daphne dan semua orang mengatakan: “Akulah Daphne,” kata Sekretaris Jenderal Wartawan Tanpa Batas.
Christophe Deloire.

Pemimpin Jaringan Masyarakat Sipil Michael Briguglio mengatakan, bahwa komisaris polisi dan jaksa agung seharusnya dicopot karena mengabaikan perkara Panama Papers.

Caruana Galizia menulis laporan pada April lalu yang menyatakan bahwa istri Perdana Menteri Joseph Muscat adalah penerima keuntungan dari sebuah perusahaan rahasia di Panama. Disebutkan bahwa Istri Perdana Menteri menerima dana senilai satu juta dolar AS dari Azerbaijan. Pernyataan tersebut dibantah dengan keras oleh perdana menteri dan istrinya.

Pemerintah Malta pada Sabtu (21/10/2017) mengumumkan pemberian imbalan sebesar satu juta euro dan perlindungan bagi siapa saja yang datang dan memberikan informasi terkait dalang di balik pembunuhan wartawan tersebut. “Ini adalah perkara yang sangat penting dan membutuhkan penanganan luar biasa,” kata pemerintah setempat dalam sebuah pernyataan resmi.

Presiden Marie-Louise Coleiro Preca hadir saat terjadinya unjuk rasa itu. Ia berjalan di bagian belakang kerumunan massa dengan suaminya, kemudian bertemu dengan wakil dari Jaringan Masyarakat Sipil. (Ant)

Lihat juga...