DUBAI – Sepuluh orang tewas dalam unjuk aksi rasa di Iran yang terjadi pada Minggu (31/12/2017). Unjuk rasa puluhan ribu orang yang digelar di berbagai kota tersebut menunjukkan perlawanan terbesar warga terhadap kepemimpinan Iran sejak kerusuhan pro-reformasi pada 2009.
Demo besar dari masyarakat yang terus melontarkan seruan untuk meneruskan gerakan tersebut memunculkan kekhawatiran akan keguncangan politik. “Dalam beberapa kejadian tadi malam, sekitar 10 orang tewas di beberapa kota,” kata stasiun televisi pemerintah setempat tanpa penjelasan lebih lanjut, Senin (1/1/2018).
Iran adalah salah satu negara penghasil terbesar minyak dunia dan kekuatan utama kawasan. Namun negara tersebut terlibat dalam kemelut kawasan di Suriah dan Yaman untuk memperebutkan pengaruh dengan Arab Saudi. Keterlibatan Iran dalam sengketa kawasan itu membuat warga kecewa karena mereka ingin pemerintah lebih fokus menciptakan lapangan kerja daripada menghabiskan uang negara untuk perang di luar negeri.
Unjuk rasa pertama kali muncul di kota terbesar kedua Iran, Masshad, yang digelar untuk menentang kenaikan harga-harga. Unjuk rasa itu kemudian meluas ke berbagai kota lain dan berkembang menjadi demonstrasi politik anti-pemerintah.
Sejumlah pengunjuk rasa bahkan meminta pemimpin agung Ayatollah Ali Khamenei untuk mundur dan menuding pemerintah sebagai pencuri. Masyarakat mengaku marah atas korupsi dan krisis ekonomi di negara yang tingkat pengangguran anak mudanya pada tahun lalu mencapai 28,8 persen tersebut.
Unjuk rasa terus berlangsung sampai Minggu (31/12/2017) malam meskipun Presiden Hassan Rouhani meminta warga untuk kembali tenang. Dalam pidatonya, Rouhani mengatakan bahwa warga Iran memang berhak untuk mengkritik pemerintah, namun juga memperingatkan akan adanya pembubaran paksa terhadap aksi demontrasi.
“Pemerintah tidak akan membiarkan mereka yang merusak fasilitas umum, melanggar aturan, dan menciptakan kerusuhan,” kata Rouhani.
Hingga kini ratusan orang telah ditangkap. Dua orang tewas ditembak di kota Izeh dan sejumlah orang lain terluka. Hingga kini belum diketahui apakah dua orang yang ditembak tewas tersebut termasuk bagian dari 10 orang tewas yang diberitakan stasiun televisi negara.
“Saya tidak tahu apakah penembakan itu dilakukan oleh pengunjuk rasa atau polisi. Kasus ini tengah diselidiki,” kata anggota parlemen Hedayatollah Khademi.
Sementara itu, di kota Shahin Shahr, demontrasi berujung pada kerusuhan. Sejumlah video menunjukkan para pengunjuk rasa menyerang polisi dan menghancurkan sebuah mobil. Untuk menanggapi unjuk rasa di berbagai kota itu, pemerintah menyatakan akan membatasi akses terhadap aplikasi pengirim pesan Telegram dan Instagram. Selain itu, muncul sejumlah laporan tentang kehilangan akses Internet di sejumlah wilayah. (Ant)