Pengamat: Ekonomi itu Bukan Cuma Infrastruktur

JAKARTA — Pengamat Ekonomi Rihan Handaulah mengatakan, strategi pertumbuhan pemerintahan era Jokowi adalah fokus pada pembangunan infrastruktur.

“Sebagai ekonom, saya sepakat bahwa infrastuktur itu hal yang penting,” kata Rihan pada diskusi bertajuk “APBN 2018 Buat Siapa?” di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta, Selasa (31/10/2017).

Bahkan kata dia, lembaga ekonomi forum dalam laporannya menyebutkan salah satu yang menjadi kunci pertumbuhan adalah tersedianya infrastruktur.

“Tapi ingat ekonomi itu bukan cuma infrastruktur. Ekonomi itu sebuah sistem yang integratif yang semua hal masuk. Ekonomi itu di dua sisi yaitu suplai dan demand,” jelas dia.

Menurutnya, sekarang ini yang jadi orientasi program-program Jokowi itu pada ekonomi sisi suplai. Pertama bertumbuh, Jokowi menciptakan infrastruktur yang dimaksudkan agar pencapaian ekonomi lebih tinggi. Dengan tujuannya untuk mempermudah logistik.

“Politik anggarannya sebagian besar diarahkan ke infrastruktur untuk mencapai uang jangka panjang,” katanya.

Dirasakan jangka panjang, jelas Rihan, misalkan bangun tol butuh waktu 4 tahun. Nah, 1 tahun itu untuk bikin perencanaan, perizinan dan sebagainya. Kemudian tahun kedua pembebasan lahan. Baru dua tahun kemudian belanja modal atau bahan-bahan.

Namun ditegaskan dosen Universitas Telkom ini, bahwa dua tahun pertama itu tidak ada uangnya. Belum lagi ada tren perbedaan proyek yang bisa menghambat

Infrastruktur ini menurutnya, jangka panjang yang dimodali oleh pengelola jangka pendek yang akhirnya memotong semua anggaran di sisi ‘demand size’-nya.

“Jokowi memindahkan anggaran dari asalnya menjaga daya beli, yaitu BLT, subsidi dan sebagainya,” ujarnya.

Namun kata dia, di sisi subsidi uangnya juga sudah kering, lalu pindah ke sisi suplai. Pun demikian uangnya tidak mutar tersendat. Ibarat tubuh kurang darah, anemia jadi lemas tidak bisa produktif lagi, daya beli turun.

Beberapa pengamat ada yang mengatakan, ini adalah masa transisi ekonomi dampak teknologi dan pindah semua ke online. “Memang lari ke online. Tapi online itu pendapatan bagi pertumbuhan ekonomi itu cuma 1 persen dari ekonomi nasional,” ungkap Rihan.

Di sektoral ritek khususnya, menurut dia, baik pasar tradisonal mini market itu rata dan konsisten ada sinyal pelemahan daya beli.

Ini karena transisi dari era SBY yang mencegah daya beli sekarang ini jaman Jokowi berpindah ke ekonomi menjaga sisi suplai.

Rihan pun menganalogikan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu, ibarat naik mobil jalan nanjak gigi dua. Kemudian ingin pindah ke gigi tiga agar ngebut. Tapi begitu naik ke gigi tiga, tarikan giginya tidak bisa masuk. Inilah menurutnya, gambaran mesin ekonomi nggak berjalan.

“Jadi, pertumbuhan ekonomi yang melambat ini adalah kontribusi dari ambisi terlalu tinggi untuk mengejar level yang tinggi lewat infrastruktur tapi tidak disesuaikan dengan situasi lapangan yang normal,” ungkapnya.

Transisi dari demand ekonomi ke suplai ekonomi tersebut tidak mulus akibatnya pertumbuhan ekonomi melambat, pengangguran bertambah, dan angka penurunan kemiskinan juga melambat.

“Secara nominal kemiskinan memang turun, tapi angka penurunannya itu jauh lebih lambat di zaman pemerintahan sebelumnya,” pungkas Rihan.

Lihat juga...