Pemkab Lebak Dorong Petani Tingkatkan Produksi Kopi

LEBAK — Petani di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten diminta mengembangkan tanaman kopi robusta guna meningkatkan produksi karena permintaan pasar cenderung meningkat.

“Produksi kopi di Lebak baru mencapai 560 ton per tahun dari tanam seluas 1.685 hektare. Karena itu, kami berharap petani bisa mengembangkan perkebunan kopi robusta itu,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, Jumat (6/10).

Pengembangan perkebunan kopi robusta dipastikan dapat mendongkrak pendapatan ekonomi petani sehubungan permintaan pasar cenderung meningkat, katanya.

Selain itu juga wilayah Kabupaten Lebak ditargetkan sentra kopi robusta di Provinsi Banten, karena didukung lahan begitu luas.

Pemerintah daerah mendorong petani terus meningkatkan produksi kopi robusta dengan melakukan peremajaan.

Mereka petani menanam perkebunan kopi robusta di lahan-lahan darat dengan ketinggian di atas 500 meter dari pemukaan laut.

Sebab, wilayah Kabupaten Lebak relatif cocok untuk dijadikan pengembangan tanaman kopi robusta.

Namun, hingga kini komoditas kopi robusta belum dijadikan andalan ekonomi masyarakat, padahal permintaan pasaran cukup tinggi dan dapat menjanjikan kesejahteraan petani.

“Kami yakin melalui pengembangan perkebunan komoditas kopi itu maka dipastikan empat sampai lima tahun bisa meningkatkan pendapatan ekonomi petani,” katanya menjelaskan.

Dede menyebutkan jumlah lahan perkebunan kopi milik masyarakat di Lebak tercatat 1.685 hektare dengan produksi 520 ton/tahun belum menjadikan andalan ekonomi petani.

Selama ini para petani Lebak menganggap perkebunan kopi hanya dijadikan usaha sampingan dan belum mengarah ke arah bisnis.

Karena itu, pihaknya terus mendorong agar petani mengembangkan perkebunan komoditas kopi robusta.

Saat ini harga biji kopi kering di pasar lokal antara Rp19 ribu sampai Rp22 ribu per kilogram.

“Kami optimistis kedepan komoditas kopi dapat mejadikan andalan ekonomi masyarakat Lebak,” katanya.

Sementara itu, sejumlah petani di Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak mengaku mereka kini mengembangkan perkebunan kopi robusta karena bisa menjanjikan pendapatan ekonomi.

Selama ini, ujar mereka, komoditas kopi cukup membantu pendapatan keluarga karena harganya cukup lumayan.

Bahkan, dirinya jika memanen kopi dijual ke Pasar Rangkasbitung hingga mencapai satu ton dengan pendapatan Rp2 juta.

Saat ini, harga kopi robusta ditampung harga Rp20.000/Kg.

“Kami saat ini menanam kopi robusta diintegrasikan dengan tanaman lain seluas dua hektare,” kata Ujang (50), seorang petani warga Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak (Ant).

Lihat juga...