RAQQA – Pasukan Demokratik Suriah (SDF) diperkirakan merebut Raqqa, kota besar terakhir milik IS di Suriah pada Senin (16/10/2017) malam.
Kendati demikian, sekutu pimpinan Amerika Serikat, yang mendukung kelompok tersebut, mengaku masih tidak dapat memberikan tenggat untuk pertempuran tersebut. Dalam aksi serangan tersebut komandan lapangan mengatakan SDF sedang melakukan pembersihan terhadap IS.
Pemimpin politik di SDF Ilham Ahmed mengatakan, berharap akhir perang melawan IS di Raqqa diumumkan dalam jam atau hari.
Juru bicara sekutu pimpinan AS Ryan Dillon mengatakan tidak dapat memberikan jadwal pada gerakan tersebut. Persekutuan tersebut mendukung SDF di lapangan dengan intelijen, serangan udara dan penasehat tempur.
Serangan SDF, yang diluncurkan pada Minggu (15/10/2017), menarget sekira 200-300 militan asing yang tersisa di kota tersebut. “Kami telah melakukan beberapa serangan dalam 24 jam terakhir, tapi saya menduga hal itu akan segera menyusul di sini segera setelah SDF maju ke wilayah akhir kota,” kata Dillon.
Raqqa adalah kota Suriah besar pertama yang direbut IS saat mengamuk melalui Suriah dan Irak dan mengumumkan kekhalifahan pada 2014. Raqqa menjadi pusat operasi untuk serangan ke luar negeri dan panggung untuk beberapa serangan paling berdarah.
SDF telah mencoba untuk merebut kota tersebut dari IS sejak Juni. Dillon mengatakan sekitar 3.500 warga sipil telah meninggalkan bagian-bagian kota yang dipegang oleh IS dalam seminggu terakhir.
Iringa petempur IS dan keluarga mereka meninggalkan kota tersebut pada Minggu dalam sebuah kesepakatan evakuasi yang diperantarai oleh para tetua suku. Gerilyawan IS sebagai gantinya mengizinkan membuka jalan keluar yang aman keluar kota untuk warga sipil yang terjebak dalam Raqqa.
Ketika ditanya apakah sekutu pimpinan AS akan membidik iringan pejuang dan keluarga IS, Dillon mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menyerang iringan berisi banyak anggota keluarga atau warga.(Ant)