Ribuan KK di Lebak Menghuni Daerah Rawan Bencana

LEBAK – Ribuan kepala keluarga (KK) di Kabupaten Lebak tinggal di kawasan rawan bencana. Warga tersebut diminta mewaspadai datangnya musim penghujan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi mengatakan, kewaspadaan dibutuhkan saat intensitas curah hujan meningkat. “Kami mengingatkan masyarakat, aparat kecamatan dan desa agar waspada terhadap ancaman bencana alam,” kata Kaprawi, Senin (16/10/2017).

Masyarakat Kabupaten Lebak yang tinggal di daerah rawan bencana alam itu mencapai ribuan KK. Mereka tinggal di daerah aliran sungai, perbukitan, dan pegunungan. Selama ini, potensi bencana alam di Kabupaten Lebak yang dipetakan berupa banjir, longsor, kebakaran, dan angin kencang.

Potensi bencana tersebut sesuai dengan topografi wilayah tersebut. Sungai, pegunungan dan perbukitan merupakan kondisi geografis wilayah Lebak. Karena itu, BPBD setempat mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam tersebut agar meningkatkan kewaspadaan.

Bahkan, hampir setiap sore hujan lebat dan sedang juga disertai kilat, sehingga berpeluang menimbulkan bencana alam. “Apalagi, saat ini curah hujan meningkat disertai angin kencang. Kami empat hari terakhir ini menerima laporan sebanyak empat rumah dan satu masjid rusak berat akibat diterjang longsor,” tambahnya.

Ribuan KK warga yang tinggal di daerah rawan bencana alam itu, tersebar di Kecamatan Bojongmanik, Sobang, Rangkasbitung, Cimarga, Cibadak, Gunungkencana, Leuwidamar, Bayah, Banjarsari, Cirinten, Malingping, Lebak Gedong, Cilograng, Cijaku, Muncang, Cibeber, dan Wanasalam.

Kaprawi mengajak warga yang tinggal di daerah bantaran sungai maupun perbukitan tetap waspada menghadapi bencana alam tersebut. Sementara untuk mengantisipas kemungkinan  terburuk, BPBD hingga kini tetap berkoordinasi dengan TNI, Polri, PMI, Dinkes, kecamatan, dan desa untuk mengatasi kebencanaan itu.

Kewaspadaan itu untuk meminimalkan risiko kebencanaan agar tidak menimbulkan korban jiwa. “Kami berharap warga tetap waspada guna mencegah korban jiwa. Kami juga minta warga mengungsi ke tempat yang lebih aman jika terjadi hujan pada malam hari,” ujarnya.

Pihaknya kini mempersiapkan peralatan evakuasi di posko-posko untuk menolong korban jiwa, jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam susulan. Peralatan evakuasi itu, antara lain pakaian pelampung, perahu karet, logistik, obat-obatan, dan tenda serta dapur umum. Selain itu, juga kendaraan ambulans, dan angkutan operasional roda empat serta sepeda motor.

Pihaknya siaga selama 24 jam dengan piket bergantian sebanyak 10 orang di Posko Utama BPBD, guna melayani masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam. “Kami akan bertindak cepat melakukan evakuasi bila terjadi banjir dan longsor serta angin kencang,” katanya.

Sejumlah relawan tangguh Kabupaten Lebak mengaku seluruh anggotanya selalu siaga menghadapi cuaca buruk untuk mengantisipasi bencana alam. Relawan tangguh itu selalu memantau desa-desa rawan bencana alam agar meningkatkan kewaspadaan jika curah hujan meningkat.

“Kami bersama warga yang tinggal di daerah rawan bencana alam melakukan jaga malam,” kata Hendi (50), seorang relawan siaga Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak.

Berdasarkan pantauan, sejumlah permukiman di Kecamatan Rangkasbitung memberlakukan piket selama 24 jam karena wilayahnya masuk daerah bantaran Sungai Ciujung, Ciberang, dan Cisimeut.

Biasanya, daerah tersebut terkena luapan air sungai, sehingga menimbulkan banjir dan longsor. “Kami beberapa hari terakhir ini berjaga-jaga karena khawatir musim hujan menimbulkan banjir,” kata Saleh (50), warga Rangkasbitung yang rumahnya hanya tiga meter dari bibir Sungai Ciujung.(Ant)

Lihat juga...