Padang Rumput Kaki Gunung Rajabasa jadi Objek Swafoto

LAMPUNG — Padang rumput nan hijau tepat di kaki bukit Beriang di kaki Gunung Rajabasa terlihat menghampar dengan view areal persawahan yang juga menghijau dengan gubuk-gubuk milik petani, berpadu dengan bukit-bukit bersemi pascahujan mulai mengguyur wilayah Lampung Selatan.

Areal yang dikenal anak remaja kekinian dengan istilah padang savana mini, rumput menghijau kaki Gunung Rajabasa tersebut menjadi pilihan singgah untuk sejenak berswafoto menggunakan gawai telepon pintar atau kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR).

Nanang bersama kekasih dan keponakannya betswafoto dengan latar belakang padang rumput hijau dan Gunung Rajabasa. [Foto: Henk Widi]
Salah satu remaja asal Kalianda Lampung Selatan (Lamsel), Nanang (25), mengungkapkan, dirinya sengaja datang bersama pacar dan keponakannya untuk menikmati suasana alam pesisir Rajabasa yang unik, dengan kontur perbukitan menghadap ke Selat Sunda dan tidak jauh dari garis pantai.

Salah satu objek yang dikunjungi adalah padang rumput menghijau di kaki Bukit Beriang kaki Gunung Rajabasa, karena menurutnya spot tersebut cukup ‘hits’ atau tenar saat ini bagi remaja dan cukup ‘Instagramable’ untuk diunggah.

“Baru kali ini saya datang ke sini karena kesibukan saya kerja, dan sekarang sempat ke sini sekaligus keliling pesisir Rajabasa dan pemandangannya cukup menyejukkan mata. Sehabis hujan terlihat menghijau cocok buat rekreasi setelah sepekan bekerja”, terang Nanang, saat ditemui Cendana News tengah berswafoto bersama kekasih dan keponakannya di lokasi padang rumput hijau Dusun Pangkul, Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa,Minggu (22/10/2017).

Nanang menyebut, meski sejatinya bukan destinasi wisata seperti beberapa spot pantai dan tempat wisata lain di Lamsel, namun keberadaan padang rumput hijau diapit areal persawahan yang tengah memasuki masa padi berisi terasa indah saat dipandang. Sisa-sisa batuan gunung yang kokoh berdiri ditumbuhi rumput serta bekas-bekas lokasi pembenuran budidaya udang windu bahkan masih terlihat berdiri di kawasan yang mencapai puluhan hektare tersebut.

Menggunakan kamera telepon pintarnya, Nanang dan sang kekasih mengabadikan beberapa sudut padang rumput menghijau tersebut dan berswafoto dengan latar belakang bukit Beriang, dan bukit-bukit lain yang berada di jajaran Gunung Rajabasa.

Sodik, warga Sukaraja yang tinggal di sekitar padang rumput hijau Rajabasa. [Foto: Henk Widi]
Waktu tepat diakui Nanang sesuai rekomendasi dari sang kekasih lokasi tersebut cocok digunakan untuk objek foto pada bulan Oktober hingga Desember, setelah hujan, karena kondisi sebelumnya rumput kering dan sebagian bukit meranggas saat kemarau. Sebaliknya, sesudah hujan padang rumput hijau dan perbukitan terlihat lebih segar.

Hesti (17), salah satu remaja asal Kalianda, Lampung Selatan, yang berkali kali mendatangi lokasi tersebut mengaku bisa membedakan kondisi saat musim kemarau dan saat musim penghujan. Remaja yang menyukai traveling dan mengabadikan objek wisata menggunakan kamera DSLR tersebut mengaku pemandangan lebih indah ketika rumput menghijau pascahujan, bahkan dirinya pernah mengantar salah satu kerabatnya menuju lokasi tersebut untuk objek foto sebelum menikah (prewedding).

Bagi Hesti, lokasi yang dituju pada spot padang rumput hijau tersebut sangat mudah dengan akses jalan lingkar pesisir bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda dua, tepat di sebelah kiri jalan dari arah kota Kalianda yang berjarak sekitar 40 kilometer atau di sebelah kanan dari arah Bakauheni dengan jarak sekitar 60 kilometer.

Linimasa media sosial Instagram miliknya bahkan sebagian dipenuhi dengan aktivitas swafoto serta foto bersama kawan kawannya. “Lokasinya masih terbuka dan gratis, bahkan kendaraan roda dua bisa masuk ke area, tapi harus bisa memilih jalan yang keras, karena sebagian penuh lumpur saat musim penghujan”, beber Hesti.

Pantauan Cendana News, sejumlah pengunjung yang menyempatkan singgah di padang rumput hijau Dusun Pangkul tersebut merupakan remaja kekinian yang datang secara rombongan, di antaranya menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Meski hanya mengambil objek foto dan sejenak mengabadikan momen berada di lokasi tersebut, sebagian bahkan membuat video untuk dimasukkan dalam Vlog atau videoblog yang dimiliki.

Salah satu remaja asal Kabupaten Way Kanan, Iskandar (18), mengaku diajak sang kawan untuk berkeliling ke wilayah tersebut yang kaya akan wisata pantai, namun karena dirinya menganggap wisata pantai sudah terlalu mainstream, dirinya diajak ke padang rumput hijau atau savana mini Desa Sukaraja tersebut.

Pertamakali datang, ia mengaku sangat takjub dengan adanya
pemandangan bagus pohon-pohon yang menghijau di area perbukitan di kaki Gunung Rajabasa, dipadukan dengan persawahan yang cukup menghijau juga. Bersama dua kawannya, ia pun sengaja membuat Vlog perjalanannya ke destinasi wisata yang dikunjunginya sebagai kenangan telah mengunjungi lokasi tersebut dan sebagian diabadikan dalam bentuk foto untuk diunggah di jejaring sosial Facebook agar lebih hits.

“Anak remaja kekinian memang belum lengkap kalau datang di wilayah ini belum mampir dan jeprat-jepret biar eksis dan kekinian setelah ada bukti pernah foto di sini”, terang Iskandar.

Sodik (40), warga Desa Sukaraja, mengaku cukup senang dengan tren remaja masa kini yang kerap cepat dalam mempopulerkan sebuah destinasi wisata seperti sebelumnya destinasi wisata Pulau Mengkudu dan Batu Lapis yang juga ada di Kecamatan Rajabasa.

Destinasi wisata yang oleh remaja kerap dibilang hits diakuinya ramai dikunjungi pada 2015 hingga 2016, namun mulai redup dan jarang dikunjungi memasuki tahun 2017 dan kini lokasi padang rumput hijau tersebut justru tengah digandrungi.

Ia menyebut, demikian juga dengan lokasi padang rumput hijau di Desa Sukaraja tersebut sejak pertengahan tahun memang sudah dikenal, meski awalnya dipagar oleh pemilik yang merupakan salah satu perusahaan penyedia energi listrik yang akan melakukan eksplorasi di Gunung Rajabasa.

Lokasi padang rumput tersebut awalnya merupakan lahan persawahan milik warga yang dibebaskan untuk akses jalan. Namun, kini masih menunggu proses pembangunan yang sejak 2014 belum dilanjutkan.

“Ya, saya sebagai warga senang semakin banyak remaja yang singgah sekedar berfoto dan bagi pemilik warung di dekat lokasi menjadi sumber penghasilan dari membeli makanan dan minuman ringan”, ungkap Sodik.

Meski gratis, Sodik berpesan agar pengunjung bisa menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, sehingga lingkungan di wilayah tersebut cukup terjaga, mengingat Bukit Beriang yang menjadi latar belakang pemandangan tersebut sesuai kearifan masyarakat lokal Rajabasa merupakan tempat yang disucikan, karena menjadi peninggalan leluhur mereka.

Lihat juga...