Nelayan Lamsel Kekurangan Modal Bangun Bagan Apung
LAMPUNG — Pascalarangan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam penangkapan ikan mempergunakan alat tangkap yang merusak dan tidak ramah lingkungan, sebagian warga di wilayah pesisir Lampung Selatan kembali beralih ke proses pembuatan alat tangkap jenis bagan apung.

Kondisi wilayah perairan yang berada di dalam teluk dengan Pulau Sekepol dan Pulau Mengkudu, kata Supadi, ikut mendukung keberadaan bagan di wilayah tersebut yang terlindung dari hempasan angin dan gelombang Selat Sunda. Tercatat sejak 2000 ada sekitar 20 bagan berada di wilayah tersebut, dengan ukuran mulai dari 8 x 4 meter hingga 10 x 15 meter, meski sebagian sudah berkurang. Kini, hanya ada belasan bagan apung karena faktor usia dan sebagian dipinggirkan oleh pemilik dalam kondisi cuaca buruk. Selain di wilayah tersebut nelayan pesisir Ketapang dan Kalianda juga masih mempergunakan bagan apung sebagai alat tangkap ikan ramah lingkungan.
“Jumlah bagan awalnya lebih dari 20 buah, bahkan dahulu sempat lebih, karena cuaca buruk ada yang rusak, terbawa arus bahkan tenggelam. Namun sebagian mulai membangun kembali bagan apung, meski dilakukan secara bertahap karena mahalnya biaya pembuatan bagan apung,” terang Supadi, saat ditemui Cendana News di tempat pendaratan ikan Minang Rua sekaligus lokasi sandar perahu nelayan setempat, Minggu (8/10/2017).
Supadi juga tidak memungkiri, sebagian nelayan di wilayah tersebut pernah mempergunakan alat tangkap ikan jenis pukat harimau serta alat tangkap tidak ramah lingkungan yang mulai dilarang, sehingga nelayan harus kembali mempergunakan sistem tangkap ikan secara tradisional, salah satunya bagan apung.
Bagan apung yang dibuat untuk menjebak ikan dengan pemasangan jaring pada bagian bawah bagan tersebut dilengkapi lampu bertenaga genset sebagai penarik serangga yang selanjutnya akan jatuh ke dalam jaring perangkap dan memicu datangnya ikan-ikan ke dalam jaring. Setelah ikan terjebak di jaring proses pengangkatan dilakukan menggunakan katrol manual, selanjutnya ikan ditangguk dengan serokan untuk dikumpulkan serta disortir sesuai dengan jenisnya.
“Ikan jenis teri dan ikan kecil lain dibuat menjadi ikan teri dan ikan asin, sementara ikan jenis tongkol, kacangan, cumi-cumi, kembung dijual terpisah sebagai ikan segar”, beber Supadi.
Namun, kata Supadi, kondisi tersebut bisa terjadi saat kondisi cuaca membaik dan ikan yang bermigrasi dari perairan terbuka ke dalam teluk Minang Rua Bakauheni, dan sebagian terjebak ke dalam jaring bagan apung yang berjarak sekitar 100 meter hingga 200 meter antar bagan di wilayah tersebut. Kepemilikan bagan banyak dimiliki nelayan pemilik modal besar, karena biaya yang cukup mahal.
Supadi juga menyebut, bagan yang dimiliki salah seorang warganya bernama Saleh belum selesai dibuat sejak bulan Juli lalu, akibat proses pembuatan bertahap dan kekurangan dana. Biaya pembuatan bagan apung menggunakan kayu berkualitas bagus, di antaranya kayu mahoni, bambu petung, kawat anti karat, pipa pvc besar, waring serta tambahan pembuatan rumah berbahan geribik atau papan beratapkan asbes.
Biaya pembuatan bagan apung yang mahal mencapai kisaran Rp30 juta hingga Rp50 juta tersebut, juga diakui oleh Samsul Maarif, selaku Kepala Dusun Kayu Tabu, yang menyebut bangunan bagan yang sudah jadi tersebut masih harus dilengkapi alat lain. Di antaranya tali jangkar, jangkar besi, lampu bohlam sebanyak 24 buah dengan harga rata-rata Rp300 ribu per buah hingga penyediaan genset besar termasuk perahu kecil untuk transportasi.
“Sebagian nelayan di sini membuat bagan secara bertahap, beberapa di antaranya mempergunakan modal mandiri dan modal pinjaman dalam bentuk alat dan dikembalikan saat bagan beroperasi”, terang Samsul Maarif.
Kendala permodalan tersebut, kata Samsul, bukan menjadi halangan, karena sebagian nelayan memiliki profesi ganda sebagai petani dan nelayan, sehingga menunggu proses penyelesaian pembuatan bagan saat panen jagung, kelapa sehingga hasil penjualan bisa dipergunakan untuk penyelesaian bagan apung.
Biaya pembuatan bagan apung tersebut terbilang lebih murah dibandingkan bagan congkel atau kapal bagan yang bisa mencapai ratusan juta dengan wilayah tangkapan lebih luas dan berfungsi sebagai alat tangkap aktif dibandingkan bagan apung yang merupakan alat tangkap ikan pasif.
Meski kekurangan modal, sebagian nelayan yang membuat bagan secara bertahap rata-rata bisa menyelesaikan pembuatan bagan paling cepat 3-4 bulan, bahkan bisa mencapai 6 bulan tergantung ukuran bagan. Samsul yang juga sebagai nelayan di wilayah tersebut mengaku penghasilan nelayan bagan kerap tidak menentu menyesuaikan musim angin dan musim ikan, sehingga kerap mendapatkan ikan dalam jumlah banyak hasilnya untuk biaya operasional dan membayar hutang sebagian digunakan untuk kebutuhan sehari hari. Meski demikian, bagan apung di wilayah tersebut masih menjadi alternatif di tengah ketatnya larangan penangkapan ikan mempergunakan alat yang tidak ramah lingkungan perairan.