Tarian Tua Dolo, Gambaran Proses Mengiris Tuak
MAUMERE – Tiga orang laki-laki dengan mengenakan kain tenun Sikka, bertelanjang dada serta memakai kalung dari tulang hewan dan gading berikat kepala daun Gebang atau Lontar, berlenggak-lenggok mengibaskan Ikun, kayu kecil yang diikat dengan potongan kain, tali atau ekor kuda.
Di belakangnya menyusul dua orang perempuan mengenakan kain tenun ikat dengan baju berwarna merah, serta selendang berwarna hijau di pinggang yang dikibaskan seraya trerus menggerakkan badan dengan gemulai mengiringi ketiga laki-laki.
Gerak tari yang ditampikan memperlihatkan tentang kebiasaan kaum lelaki, masyarakat tradisional di kabupaten Sikka melakukan rutinitas keseharian mereka, berangkat dari rumah dengan memegang pisau serta bambu bulat yang diikat di pinggang (Teren).
Saat ditemui Cendana News usai pentas di acara launching Pilkada di kantor KPUD kabupaten Sikka, Rabu (4/10/2017) pagi, Lensi Sintu, guru SMPK Yapenton II Maumere, menjelaskan, tarian yang ditampilkan kelima pelajar tersebut bernama Tua Dolo.
“Tarian ini memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional, warga desa melakukan kegiatan mengiris Tuak, memasaknya menjadi Moke atau Arak, lalu diminum bersama saat bersantai maupun dalam upacara adat,” ungkapnya.
Tarian Tua Dolo, tutur Lensi, memperlihatkan tentang bagaimana orang mengiris Tuak dari pohon Gebang atau Enau, di mana saat memanjat pohon, mengiris bakal buah serta mengganti Teren (bambu bulat) yang kosong lalu membawa turun teren yang sudah berisi Nira.
Teren yang berisi Tuak atau Nira tersebut, paparnya, dibawa pulang ke rumah dan dimasak atau disuling menggunakan bambu untuk dijadikan Moke (Arak) untuk dijual atau dibarter dengan kebutuhan hidup lainnya saat hari pasar.
“Moke atau Arak ini juga diminum bersama saat bersanta bersama anggota keluarga, kerabat atau para tetangga serta dihidangkan saat pesta atau ritual adat untuk diminum bersama,” jelasnya.
Fin Kabaresi, guru pendamping lainnya menambahkan, untuk menggambarkan proses mengiris Tuak, seorang penari menaiki sebatang bambu sambil membawa pisau dan menggerakkan tangan persis seperti saat proses mengiris tuak.
Di bawahnya terlihat dua orang laki-laki memegang bambu tersebut, sementara para perempuan tetap berlenggak-lenggok di sekelilingnya, menanti penari lelaki turun dengan membawa Teren berisi Tuak hasil sadapan dan mengantar ke rumah untuk dimasak.
“Tarian ini diakhiri dengan gerakan menuangkan Moke atau Arak dari Teren atau bambu kepada dua penari lelaki yang duduk di lantai, dan setelahnya membuat gerakan orang meminum Moke,” bebernya.
Sementara seorang lelaki lainnya, sambung Fin, bersama dua penari perempuan tetap berdiri dengan memegang Teren, di mana di saat bersamaan juga membuat gerakan orang meminum Moke atau Arak.
“Minum bersama ini dalam adat dan budaya masyarakat Sikka melambangkan kebersamaan, rasa persaudaraan di mana hal ini selalu dilaksanakan dalam keseharian kehidupan masyarakat Nian Tana Sikka,” paparnya.
Selama membawakan tarian, kata Fin, para penari diiringi tabuhan musik Gong Waning yang menggunakan alat musik Gong dan Gendang yang juga dimainkan oleh pelajar dari SMPK Yapentom II Maumere.
Lewat tarian Tua Dolo SMPK Yapentom II, meraih penghargaan dalam lomba yang dilaksanakan Dinas Pariwisata kabupaten Sikka tahun 2016 dan meraih juara pertama dan menyabet juara kedua dalam lomba yang diadakan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka.
