Mudahkan Salurkan Bantuan, Dinas PKO Sikka Data Potensi Sekolah
MAUMERE — Memudahkan dalam membuat program dan menyalurkan bantuan, Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka melakukan pendataan potensi pendidikan yang ada di 21 kecamatan.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) kabupaten Sikka, Simon Subsidi, S.Sos menyebutkan, langkah tersebut diambil sebagai cara untuk mendapatkan data yang valid agar bantuan yang akan diberikan tepat sasaran, terutama untuk sekolah yang rusak.
“Kami akan bekerja sama dengan pihak kecamatan dan desa agar data yang diambil benar-benar valid termasuk dengan jumlah tenaga pendidikan di sekolah beserta sarana dan pra sarana serta gaji guru,” ungkapnya.
Dengan adanya validasi data tersebut, terang Simon, pihaknya bisa mengetahui apakah sekolah tersebut perlu mendapatkan bantuan sarana dan prasarana atau rehab gedung sekolah serta berapa guru yang mengajar dan berapa guru honor daerah dan komite.
“Data ini sangat penting, apalagi kepala dinas serta sekertaris dinas dan kepala bidang sering dimutasi sehingga dengan adanya data siapapun kepala dinasnya dia bisa mengetahui pasti kondisi pendidikan di kabupaten Sikka,” ungkapnya.

Hal senada juga diserukan anggota DPRD Sikka, Siflan Angi. Ia meminta agar pendataan segera dilakukan oleh dinas PKO agar kebijakan yang diambil memang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di sekolah tersebut.
Menurutnya, selama ini masyarakat selalu mengusulkan penambahan sarana dan prasarana atau bantuan pendidikan lainnya lewat jalur Musyawarah Rembug Pembangunan (Musrembang) baik tingkat desa maupun tingkat kecamatan agar diperjuangkan di Musrembang kabupaten.
“Kalau dinas PKO Sikka miliki data tentang kondisi pendidikan maka bila dana untuk pendidikan kurang maka bisa diusulkan ke provinsi atau ke pusat untuk dibantu apalagi sektor pendidikan sangat penting dan jadi prioritas pembangunan,” tegasnya.
Selama ini kata Siflan banyak bantuan dari pusat di sektor pendidikan seperti pembagian buku yang tidak tepat sasaran sebab banyak sekolah yang tidak memiliki sarana perpustakaan sehingga bantuan buku banyak mubazir.