Mengapa Brimob Dipersenjatai?

Bepikir sederhana tentang pengadaan dan belanja senjata untuk Brimob, Kekuatan Senjata dan kepercayaan pengaruh Keamanan Nasional.

Oleh Eko Ismadi

“Brimob itu bukan polisi. Dan Polisi Bukan Brimob” Kalau kumpul dengan anggota Brimob mereka selalu mengatakan itu. Yang berkata dari semua strata  hingga Jenderal. Kalau lingkungan anggota tingkat bawah mungkin kita maklumi ini sebagai “spirit de corps” saja. Tetapi kalau Jenderal juga berkata yang sama. Kemudian muncul tanda tanya dalam benak saya, “Siapa sebenarnya Brimob itu?”

Orang memegang senjata kalau tidak bisa dipercaya akan menjadi pengkhianat demikian kata seorang ahli strategi. Minimal pengkhianat keluarga atau teman dekatnya, dari kedua lingkup inilah pengkhianatan itu biasanya terjadi. Pengkhianatan muncul diawali dari ketidak konsisten dalam berbicara dan tidak bisa dipercaya.

Saya menulis bukan untuk mendeskreditkan Brimob Dan Organisasi atau pejabatnya namun saya menulis hanya untuk mendapatkan kejelasan sebagai warga negara Indonesia. Karena beritanya kami dapatkan melalui Medsos maka pernyataan dan pendapat ini juga kami sampaikan melalui Medsos. Terlepas dari Profesi saya tidak menjadi tolok ukur untuk pencapaian kata sepakat tetapi yang saya harapkan adalah adanya informasi yang dapat dipercaya dan diterima oleh akal sehat di Medsos.

Latar Belakang Pemikiran

Banyak di antara masyarakat selama ini salah menilai dan salah memperlakukan Brimob, mengapa? Karena selama ini masyarakat menilai bahwa Brimob itu bagian dari Polisi, identitas, serta jati dirinya seperti polisi yang sekarang disebut POLRI tersebut.

Namun dengan berbagai pernyataan dari anggota Brimob yang mengatakan Brimob memiliki tugas berbeda dengan Polisi. Corps Brimob beda dengan Polisi ini yang perlu disosialisasikan kembali, agar status dan keberadaan Brimob menjadi jelas.

Dihadapkan dengan keberadaan Brimob dan pengadaan senjata yang tidak sesuai dengan peruntukan Brimob sangat dimungkinkan akan terbentuknya faksi bersenjata dalam partai politik.

Kalau ternyata hingga sekarang ini Brimob dan keberadaan serta persenjataan tidak dipahami oleh masyarakat, maka kelompok masyarakat lain diam diam akan mempersenjatai diri juga. Ini yang perlu diwaspadai.

Dihadapkan dengan tugas pokok Brimob apakah senjata itu diperlukan? Kalau memang diperlukan apa alasannya. Polemik ini akan berlanjut sampai dengan terbukti apa yang menjadi permasalahan Brimob.

Kalau Menkopolkam mengatakan tidak usah khawatir indikasinya apa ? Dasar untuk tidak khawatir apa? Sebelum ini menjadi jelas TNI selayaknya melakukan antisispasi sebagai tindakan bagi pengembangan Brimob, dihadapkan dengan pertahanan dan tugas pokok TNI, sebagai kekuatan pertahanan.

Konspirasi Central Intelligence Agency atau yang disingkat CIA, disebut akan menggulingkan Soekarno, melalui berbagai pemberontakan di rentang 1955-1958 terbongkar, dan Amerika Serikat juga menawarkan pelatihan militer. Hal ini melengkapi berbagai bantuan sebagai kompensasi yang diminta Soekarno. Yang diberangkatkan Soekarno bukannya tentara, melainkan kepolisian ke pelatihan pada 1959 itu.

Kebijakan ini sesuai dengan rencana Mobile Brigade (Mobrig) untuk membentuk pasukan Ranger dengan kemampuan light infantery. Mereka baru saja membentuk Sekolah Pendidikan Mobile Brigade (SPMB) di Watukosek, Porong, Jawa Timur pada 10 Juni 1955. Seluruh instruktur SPMB dikirim ke Filipina untuk mempelajari pembentukan pasukan ranger. Pada 16 Agustus 1961, Presiden Soekarno mengubah sebutan Mobrig menjadi Brigade Mobil atau Brimob.

Kemudian pada pertengahan 1959 beberapa calon instruktur yang lolos seleksi dikirim ke Okinawa sebuah pangkalan militer AS di Asia. Hal ini diungkapkan oleh Anton Agus Setiawan dan Andi Darlis dalam buku “Resimen Pelopor: Pasukan Elite yang Terlupakan”. Pelatihan lanjutan dilakukan pada 1959 dan 1960. Pemerintah AS menugaskan US Army First Special Group Airborne dengan komandan Kapten Wilson untuk melatih.

Terbentuknya Kompi 5994 Ranger Mobile Brigade dengan kekuatan 80 personil. Jumlah ini terus bertambah, hingga pada 1960 nama kompi ini diubah menjadi Resimen Pelopor. Senjata modern bikinan AS kala itu menjadi senjata operasional resimen ini. Awalnya mereka mendapatkan senapan serbu US Carabine, dan pada 1961 diganti dengan AR 15, cikal bakal senapan M16A1.

Persenjataan Brimob, Siapa yang Dipercaya?

Sebagaimana pernyataan yang disampaikan dalam berbagai media oleh instansi yang terkait maka satu dengan yang lain tidak menujukkan adanya kerjasama namun menunjukkan korelasi di antara mereka, seperti Kemenkopokam, Kemenhan, BIN, dan Polisi.

Setelah terdesak baru bicara dengan tepat walau belum tentu benar, karena antara yang terjadi di lapangan dan disampaikan terlalu jauh berbeda. Pertama untuk BIN, kemudian untuk Polantas, selanjutnya untuk Brimob, tidak mematikan. Coba diuji dengan anggota Polisi berani nggak?

Kalau orang bersenjata tidak bisa dipercaya omongannya maka akan berkhianat, karena ketika seseorang diketahui bohongnya maka akan membela diri dengan kekerasan atau dengan kebohongan yang lebih besar. Peristiwa politik G 30 S/PKI d itahun 1965 diawali dengan ketidakkonsistenan sikap politik dan pemimpin bangsa pada masa itu terutama masalah senjata. Apakah pemerintah sekarang dan polisi akan mengulangi hal yang sama ?

Sikap TNI dan Implementasinya

Berdasarkan catatan sejarah nasionalisme Indonesia sikap kementerian dan BIN seperti ini pernah terjadi pada 1965. Kepala BIN dijabat oleh Jenderal Polisi, Kepala Pemerintahan Indonesia saat itu Soekarno Berkawan dengan PKI Dan Komunis, membentuk kekuatan bersenjata di luar TNI yang disebut dengan Angkatan ke V yang anggotanya terdiri dari buruh tani bersenjata. Bagaimana bila pemahaman sejarah tersebut dikorelasikan dengan sikap pemerintah BIN dan polisi apakah identik? Nanti waktu yang bias menjawab.

Soekarno mengeluarkan kebijaksanaan secara diam diam untuk mendatangkan senjata dari China. Kemudian digagalkan oleh Jenderal DI Panjaitan, yang kemudian dimusuhi Soekarno dan PKI, dianggap sebagai penghalang dengan fitnah kejj dengan sebutan jenderal pemberontak, sehingga menjadi korban pada G 30 S/PKI 1965.

Demikian pula panglima TNI pada masa itu pada 1965 oleh Presiden Soekarno menonjobkkan Jenderal AH Nasution atas saran PKI dan pendukungnya. Kita patut bersyukur dalam klemahan bangsa Indonesia selama ini campur tangan Tuhan masih ada sehingga ambisi politik berdarah itu tidak terulang lagi.

Panglima TNI dengan Sikapnya seharusnya ditampilkan sebagai seorang negarawan militer yang berpikir militer dan berjiawa Prajurit Sapta Marga, Sumpah Prajuirt, Dan 8 Wajib TNI. Agar sikap ini relevan dengan permasalahan sesungguhnya yang terjadi, bukan menjadi prasangka buruk dan fitnah keji yang hanya memperuncing masalah dengan menyebut sikap Panglima TNI sebagai manuver PILPRES 2019. Karena sekarang ini beliau masih Panglima TNI yang menyatu bersama prajurit Dan integritasnya, bukan Gatot Nurmantyo pribadi, bukan Jenderal Nurmantyo seorang diri, tetapi Panglima TNI sebagai “Kekuatan Negara dan pertahanan”.

Kondisi yang Diharapkan?

Sikap POLRI bisa menjelaskan siapa Brimob sebenarnya? Tugasnya Apa? Organisasi Dan Persenjataannya apa ? Siapa yang mengendalikannya? Agar memiliki garis komando dan kedudukan organisasi.

Suatu kebijakan publik yang sangat aneh bagi ketiga instansi yang terkait seperti BIN, Kemenkopolkam, dan Polisi, sepengetahuan Kemenhan. Karena dalam doktrin pertahan dan militer sebuah negara yang dirahasiakan hanyalah persenjataan pertahanan dan kekuatan militer, bukan kekuatan dan persenjataan Briomob atau Polisi. Lain bila diproyeksikan sebagai kekuatan politik.

TNI memiliki pemahaman dan orientasi tugas serta tanggung jawab terhadap kebangsaan Indonesia. TNI, Jenderal, Prajurit, Dan pemimpinnya bukan dididik untuk menjadi pengkhianat atau pemberontak.

Dalam catatan sejarah Nasionalisme Indonesia TNI tidak pernah memberontak apa lagi berkhianat. Yang terjadi justru ada orang berpolitik yang memberontak dan berlhianat. Kalau sekarang ini ada orang yang takut atau khawatir terhadap Sikap TNI, itu karena ditakuti oleh bayang bayangnya sendiri karena cara berpikirnya yang tidak sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945. Dan juga takut akan tebaran fitnah yang akan menghujam pada tubuhnya sendiri. Untuk itu terjemahkanlah sikap Panglima TNI tersebut dalam pengertian sikap militer bukan sikap politikus dalam pengertian militer bukan pengertian politikus. Karena kalau diterjemahkan dengan pengertian masyarakat tidak ketemu.

Konsisten belajar dari sejarah. Masak sih pemimpin bangsa kalah dengan sikap Anak PKI dan Komunis? Dari tahun ke tahun dari masa ke masa mereka memiliki sikap sama terhadap sejarah PKI yaitu pelurusan sejarah dan tidak mengaku salah.

Sementara sikap pemimpin bangsa yang selama ini mengaku Pancasila mengaku beragama, dan mengaku nasionalis tapi berpikir PKI dan Komunis, tidak konsisten. Itu namanya Pejabat dan pemimpin bangsa diperalat oleh PKI, Anak.PKI, Dan Komunis.

Oleh karena itu bila pemimpin bangsa konsisten belajar dan memahami sejarah nasionalisme Indonesia maka tidak gaduh dan sikap serta status organisasi Brimob akan jelas.
Peranan TNI Dan PKI. Dari sejak 1948 TNI selalu mengalami goncangan dan cobaan mulai perubahan peran, dan pelemahan Organisasi hingga dijadikan Departemen.

Prajurit TNI boleh terbunuh atau dihabisi tetapi tidak akan bias mengubah pemahaman sejarah dan rasa setianya kepada bangsa dan Negara Indonesia. TNI boleh dihancurkan tapi peranannya jangan dihancurkan karena bila pernanan TNi dihancurkan itu pengkhianatan kepada bangsa Dan Negara. Apakah TNI, POLRI, anggota DPR, dan Presiden beserta menterinya disumpah untuk diberi tanggung jawab sebagai Pemberontak ? Tentu tidak, maka dari itu berpikirlah yang terhadap bangsa dan Negara Indonesia.

Undang Undang Dan Peraturan. TNI sudah tahu bagaimana mengatur hadirnya Undang Undang di DPR oleh wakil rakyat terhormat. Aturan tentang TNI janganlah meperlemah TNI dan membatasi persenjatan, mengingat TNI yang kuat diperlukan. Yang tidak ingin TNi kuat itu hanya PKI dan Komunis, dan yang tidak ingin TNI memiliki kekuatan dsan kemampuan pertahanan adalah PKI Dan Komunis.

Dengan penjelasan Menkopolhukam bawa ada masalah dengan pengadaan persenjataan TNI, berarti yang dikatakan Panglima TNI adalah sebuah hal benar. Beliau Prajurit Bintang Empat dan disebut orang terbaik di TNI. Apakah beliau ditunjuk Panglima karena kebodohannya atau kekurangannya?

Saya yakin pasti segala kelebihan dan kehebatannya untuk itu perlakukan Panglima TNI sebagaimana seharusnya demi kelangsungan hidup bangsa, kelestarian kehidupan keprajuritan, dan tegak kokohnya TNI Dan peranannya berdasarkan sejarah perjuangan TNI dan sejarah nasionalisme Indonesia yang tercinta.

KESIMPULAN

Akhirnya kita akhiri tulisan ini karena keterbatasan halaman, namun sekalipun memiliki keterbatasan dan batasan saya yakin tulisan dan ulasannya memiliki manfaat untuk membangun kehidupan bangsa Indonesia yang Aman, Tentram, Tenang, Damai, dan Sejahtera. Karena itulah tujuan dibentuknya organisasi Polisi dan TNI bukan untuk membuat gaduh dan bersikap ingkar terhadap Pancasila dan UUD 1945.

Sebagai Pejabat kita harus bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan, apa lagi yang diharap dari orang yang tidak bias dipercaya. Kata senior kalau tidak bias dibina yang dibinasakan saja, masalah pembinaan ini arahnya ke mana ?

Jangan main binasakan tetapi tetapi tidak memiliki konsep pembinaan yang jelas. Prajurit bisa dipercaya, masa Jenderal tidak bisa dipercaya? Kecuali karena sebab faktor umur dan kesehatan bicaranya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

“No Choice”, tidak ada pilihan bagi kita TNI untuk mempertahan Integritas dan peranannya bagi bangsa Indonesia. Dalam Konsep TNI adalah Kekuatan Negara dan kekuatan Pertahanan, kalau berpikir Presiden sebagai Panglima tertinggi atas TNI kita mohonkan Presiden berpikir sejalan dengan TNI, Tugas, Tanggung, Jawabnya, serta keberadaannya yang sejalan dengan Pancasila Dan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945, bukan berpikir lain yang tidak sesuai. Ketika siapa pun pemimpin TNI berpikir di luar Konsep Kebangsaan AKAN BERMASALAH. Ini harga mati !!!

Kita tidak membutuhkan klarifikasi namun yang kita butuhkan adalah perubahan kebijaksanaan terhadap Brimob dan persenjataan serta kedudukan organisasinya. Agar kita TNI di lapangan tidak bingung dalam memperlakukan polisi. Kalau bilang jelas, maka kita mempersilahkan masuk polisi atau duduk saja di luar Brimob. Semoga ini dapat dihindar dan dipahami bersama.

“Tak ada Gading Yang Tak retak”, demikian juga saya sebagai penulis merasa masih banyak kekuarang dalam tulisan ini. Penulis bukan seorang ahli politik tetapi hanya seorang yang sedikit paham sejarah dan pernah berpengalaman di Kamboja berbulan bulan tinggal makan dan tidur bersama Komunis Kamboja. Jadi bila sedikit mengutarakan analisa ini berdasarkan sejarah dan perkembangan faksi bersenjata itu bukan asumsi tapi fakta.

NKRI HARGA MATI !!!

Eko Ismadi adalah pemerhati masalah sosial-politik dan seorang anti komunis

Lihat juga...