Luapan Sungai Way Andeng Rusak Lahan Pertanian Warga

LAMPUNG — Petani di desa Totoharjo, kecamatan Bakauheni, kabupaten Lampung Selatan, mengalami kerugian akibat kerusakan lahan pertanian yang disebabkan meluapnya Sungai Way Andeng yang berada di perbatasan desa Totoharjo dan desa Hargopancuran di Kecamatan Rajabasa.

Subandi, petani pemilik tanaman mentimun bibit yang terimbas banjir luapan Sungai Way Andeng. [Foto: Henk Widi]
Salah satu petani padi di lahan sawah yang ada di dekat Sungai Way Andeng, Rujito (45), mengatakan, meluapnya sungai akibat hujan yang sangat deras melanda wilayah tersebut sehingga debit sungai meningkat hingga ke areal lahan pertanian warga.

Rujito menyebut, satu tahun sebelumnya lahan pertanian sawah yang ditanami padi, jagung dan mentimun di wilayah tersebut tidak pernah mengalami kebanjiran akibat luapan Sungai Way Andeng. Namun pascakeberadaan bendungan yang menghentikan aliran air sungai berimbas air kerap meluap.

Menurutnya, bendungan itu dibangun oleh pemerintah tanpa berkonsultasi dengan petani yang ada di wilayah tersebut. Bahkan dibuat lebih tinggi dari aliran air sungai berimbas air tidak bisa mengalir dengan lancar.

“Saya selaku pemilik lahan di dekat bendungan justru tidak mengetahui peruntukan bendungan yang dibuat saluran pada dua sisi, bahkan dibuat semacam jembatan yang justru menjadi tempat sampah tertahan di mulut bendungan, imbasnya air justru meluap”, tegas Rujito, Minggu (1/10/2017).

Ia juga menyebut, tidak seperti bendungan pada umumnya, pada beberapa bagian bendungan mengalami kebocoran akibat konstruksi bangunan yang tidak kuat, serta terjangan banjir yang melanda bangunan bendungan yang berjarak hanya ratusan meter dari jembatan Way Andeng yang dibangun sejak 2012.

Selain kebocoran pada saluran irigasi yang mengalir melalui bendungan Way Andeng, beberapa pondasi pada saluran irigasi bahkan sudah ambrol ditambah dengan tumpukan material sampah berbagai jenis akibat banjir pascahujan melanda wilayah tersebut. Parahnya banjir berimbas meluapnya Sungai Way Andeng, juga mengakibatkan pintu air terbuat dari besi hanyut terbawa arus sungai.

Tidak seperti pada umumnya bendungan dibangun dengan plang nama atau penamaan lokasi serta instansi pembangunnya, pada bagian bendungan selebar lebih dari empat meter tersebut tidak ada penanda nama. Ia menyayangkan keberadaan bendungan tersebut sama sekali tidak berfungsi bahkan justru merugikan petani yang ada di wilayah tersebut.

“Kalau sebagai saluran irigasi justru pada salurannya banyak yang bocor, sementara sebagai bendungan airnya bahkan mengalir melalui celah-celah pondasi yang pecah, bukan melalui saluran yang dibuat”, tegasnya.

Subandi (50), petani pemilik lahan pertanian mentimun menyebut kondisi bendungan yang rusak dan mengakibatkan sampah menumpuk di beberapa bagian bendungan mengakibatkan ia kehilangan beberapa petak mentimun bibit. Ia menyebut saat ini harga per kilogram mentimun bibit yang dibudidayakannya seharga Rp375 ribu, sehingga kerugiannya pernah mencapai jutaan rupiah akibat diterjang banjir.

“Kami justru tidak pernah mengalami luapan Sungai Way Andeng sebelum ada bangunan bendungan. Namun, kini justru sering kebanjiran terutama pada bagian lahan yang saya tanami mentimun bibit,” terang Subandi.

Saat hujan deras, ia bahkan selalu was-was menjaga kemungkinan sampah menyumbat pintu air dan bendungan yang berimbas air bisa meluap ke lahan pertanian miliknya, sementara saluran irigasi yang dibuat sebagian tidak mengalirkan air ke lahan pertanian milik petani di dekat bendungan tersebut.

Hujan yang masih kerap melanda wilayah tersebut membuat petani was-was. Selain rawan luapan Sungai Way Andeng, banjir juga menggerus sebagian tanggul penahan yang berhadapan langsung dengan sungai, meski sebagian dibuat sistem bronjong diisi dengan batu.

Lihat juga...