Komunitas Ontel Jakarta Beberkan Sejarah PKI

JAKARTA – Komunitas Ontel Jakarta memberikan edukasi kepada pengunjung Monumen Pancasila tentang sejarah kelam bangsa Indonesia, yaitu peristiwa PengKhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30 S PKI).

Pendiri Komunitas Ontel Jakarta, Andre Pranaza. -Foto: Sri Sugiarti.

Pendiri Komunitas Ontel Jakarta, Andre Pranaza, mengajak pengunjung untuk bersama-sama membacakan sebuah tulisan Jenderal Abdul Haris Nasution yang ada di batu dalam sumur tempat tujuh jenderal saat peristiwa G30S PKI tahun 1965.

Secara serentak pengunjung membaca tulisan tersebut dipimpin Andre. “Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila, tidak mungkin dipatahkan dengan hanya mengubur kami di sumur ini”. Begitulah yang terucap dari bibir mereka, Sabtu (1/10/2017).

Mereka membaca  itu berbaris rapi mengelilingI sumur tersebut, terlihat hikmah. “Pedih perih TNI disakiti oleh darah dagingnya sendiri. Saya merinding membacanya. Kita wajib meminta pertolongan Allah SWT, jangan sampai peristiwa ini terulang lagi,” kata Andre.

Di hadapan ratusan pengunjung itu, Andre pun menyampaikan, nama Lubang Buaya sudah ada sebelum peristiwa G30S-PKI. Nama Lubang Buaya juga bukan identik dengan sumur ini. Lubang Buaya adalah sebuah desa atau kelurahan yang terdapat di wilayah Jakarta Timur.

Menurutnya, area Lubang Buaya yang sekarang menjadi Monumen Pancasila ini adalah perkebunan karet yang dikuasai Belanda. Area ini hingga akhirnya dijadikan markas para pengkhianat bangsa.

Para pengkhianat bangsa yang tak lain adalah PKI itu menyampaikan kepada Presiden Bung Karno, bahwa ada dewan jenderal yang terdiri dari 7 orang jenderal yang hendak menggulingkan Bung Karno. Padahal, jelas Andre, itu tidak benar, hanya pemutarbalikan siasat mereka dalam mengacaukan negara demi tujuan kekuasaan.

“Hingga akhirnya, tujuh jenderal itu diculik pada malam tanggal 30 September 1965 menjelang 1 Oktober 1965,” kata Andre.

Andre pun mengajak pengunjung mengingat siapa saja ketujuh jenderal itu. Sontak pengunjung menjawab, “Jenderal Ahmad Yani yang pertama dibunuh langsung ditembak di rumahnya”.

Andre pun membenarkan, Jenderal Ahmad Yani yang pertama disasar. Kemudian Letjen DI Panjaitan yang ditembak dari kepala sampai leher, lalu tubuhnya diseret dan dimasukkan ke dalam mobil. “Tadi malam bapak-ibu dan adik-adik pasti nobar film G30S-PKI, ya? Itu anaknya yang nangis manggil-manggil papi. Itu putrinya Jenderal DI Panjaitan,” ujar Andre.

Selanjutnya adalah Mayjen MT. Haryono yang ditembak mati di kamarnya, lalu diseret hingga ke luar rumah. “Jadi, tiga jenderal ditembak di tempat, dan 4 orangnya diculik dan dibawa ke Lubang Buaya,” ucapnya.

Namun, kata Andre, di antara 4 orang itu ada seorang Kapten Anumerta Anyaitu Piere Tendean, ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Sedangkan tiga orang lainnya adalah Mayjen Soetojo Siswomiharjo, Letjen R. Soeprato, Letjen S.Parman.

“Saat malam peristiwa itu, Jenderal Nasution bisa lolos, dengan taruhan putri bungsungnya Ade Irma tertembak. Dan, Kapten Tendean mengaku  kepada pemberontak itu kalau dirinya adalah Nasution,” jelas Andre, di hadapan pengunjung.

Saat di Lubang Buaya, lanjut Andre, 4 orang itu pun disuruh tanda tangan dan mengaku sebagai dewan jenderal, tapi mereka tidak mau hingga akhirnya disiksa dan wafat.

Jenazah kesemuanya itu pun diseret satu per satu dan dimasukkan ke dalam sumur dengan posisi kepala terlebih dahulu. “Bayangkan, biadab tidak mereka itu? Setelah jenazah dimasukkan dalam sumur pun, masih diberondong tembakan dari atas sumur,” tukas Andre, yang mengaku mendapat didikan tegas TNI, meskipun bukan anak TNI.

Kemudian, lanjut dia lagi, sumur itu ditutup sampah dan di tengahnya ditanami pohon pisang. “Kalau melihat warna merah ini bukan darah. Tapi,  ini adalah sekedar imajinasi bahwa dulu darahnya 7 pahlawan itu seperti itu,” kata Andre sambil menunjuk ke liang sumur.

Menurutnya, saat generasi emas TNI itu dihabisi pengkhianat bangsa, Presiden Soekarno merekomendasikan pasukan 01, yaitu Kostrad untuk mengambil alih mengamankan negara, dan mencari para pahlawan yang diculik oleh PKI.

Konstrad dengan meminta bantuan RPKAD, yang sekarang KOPASSUS, dan Angkatan Udara bersatu mencari tempat penculikan para Jenderal. Atas Maha Kuasa Allah SWT, kata Andre, akhirnya para tentara itu menemukan suatu desa di wilayah selatan pangkalan militer Halim Perdanakusuma, yaitu Lubang Buaya, ini markas PKI , dan tempat penyiksaan para jenderal juga sumur.

“Allah SWT tidak pernah tidur, dengan kekuatan doa para tentara yang mencari fakta atas pengkhianatan itu. Akhirnya, Allah SWT memudahkan langkah mereka menemukan lokasi ini,” ujar Andre.

Andre menegaskan,  semua bentuk pengkhianatan dan ancaman terhadap Pancasila dan NKRI di masa lalu harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia.

Dirinya berpesan, jangan mau diadu domba, tetap waspada, dan  terus jalin persatuan dan kesatuan dengan sesama komponen bangsa. Generasi muda juga  harus belajar sejarah melalui pemahaman atas peristiwa kelam sejarah bangsa. “Bangsa ini dibangun dengan pengorbanan para pahlawan,” tegas Andre.

Pamungkas, ditutup dengan doa oleh seorang wanita berusia 40 tahun, yaitu Yati. Dalam doanya, dipanjatkan, agar para pahlawan ditempatkan di Surga oleh Allah SWT.

“Keluarga yang ditinggalkan diberikan keiklasan dan ketabahan, juga selalu sehat. Terpenting lagi para generasi muda bisa  menauladani perjuangan para pahlawan bangsa,” pungkas Yati, warga Lubang Buaya ini.

Lihat juga...