Lampung Rehabilitasi Tanaman Rempah Seluas 800 Hektare

BANDARLAMPUNG — Provinsi Lampung mengusulkan kepada Kementerian Pertanian untuk rehabiltasi seluas 800 hektare tanaman rempah, yakni lada dan pala.

“Pada momentum Hari Rempah Internasional 2018, kami mengusulkan kepada Kementerian Pertanian untuk merehabilitasi 600 hektare tanaman lada hitam dan meremajakan 200 hektare tanaman pala,” kata Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, di Bandarlampung, Rabu (25/10).

Ia menyebutkan, di pasar rempah internasional selain lada hitam, Lampung kini juga dikenal sebagai penghasil buah pala. Bahkan di Jepang, pala Lampung lebih disukai karena memiliki kandungan minyak atsiri paling tinggi.

Lampung, lanjutnya, kembali mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Hari Rempah Internasional 2018. Lampung ditunjuk oleh Dewan Rempah Nasional karena punya rempah terbaik di dunia yakni lada hitam (black papper). Sebelumnya Lampung menjadi tuan rumah Hari Kopi Internasional.

Menurutnya, sejak berabad lalu Lampung termasuk jalur rempah nusantara dan pernah berjaya sebagai pusat rempah terutama lada.

Rehabilitasi dan peremajaan itu, kata Ridho, untuk mendukung rencana pemerintah mewujudkan kembali kejayaan rempah-rempah Indonesia di dunia internasional.

“Alhamdulillah, mulai November ini kita akan rehabilitasi 800 hektare tanaman lada dan pala,” kata Gubernur Ridho.

Rehabilitasi tanaman lada ini tersebar di berbagai kecamatan di Lampung Utara, Way Kanan, dan Lampung Timur masing-masing 200 hektare. Sedangkan tanaman pala difokuskan di Kabupaten Tanggamus. Selain itu, intensifikasi tanaman lada seluas 100 hektare di Lampung Utara, 100 hektare di Way Kanan, dan 150 hektare di Lampung Timur.

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Lanpung Dessy Desmaniar Romas, mengatakan rehabilitasi tanaman lada hitam merupakan yang terbesar. Luas tanaman lada di Lampung pada 2016 mencapai 46.054 ha dengan produksi 14.854 ton per tahun dan melibatkan 63.675 kepala keluarga petani.

“Setiap petani mendapat rehabilitasi tanaman lada maksimal dua hektare, namun rata-rata satu hektare,” kata Dessy.

Pengakuan dunia atas tanaman pala Lampung, kata Dessy, dibuktikan dengan makin tingginya permintaan. Pembibitan tanaman pala kini dapat dilakukan di Lampung Selatan, sehingga perluasan dan peremajaan cepat dilakukan.

“Permintaan pala sangat tinggi, namun produksinya belum banyak. Pala yang diproduksi di Lampung lebih disukai untuk bahan kosmetik karena tinggi kandungan atsirinya,” kata Dessy.

Terkait Hari Rempah Internasional, kata Dessy, Pemerintah Provinsi Lampung berencana terus meningkatkan luasan peremajaan dan rehabilitasi. Untuk lada, pada 2018 diusulkan rehabilitasi seluas 1.000 hektare dan pala 200 hektare.

Sejumlah acara bakal digelar dalam menyambut momen tersebut, seperti kampanye minum susu lada gratis. “Kami akan sosialisasikan susu dicampur lada juga nikmat diminum,” tambahnya (Ant).

Lihat juga...