Kerusakan Hutan NTB Memprihatinkan, Ancam Bencana Longsor
MATARAM – Dalam dua minggu terakhir hujan dengan intensitas sedang hingga besar mulai melanda sebagian wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Mengantisipasi hal tidak diinginkan seperti bencana banjir, tanah longsor dan gelombang air laut tinggi, masyarakat diminta senantiasa tetap waspada. Khususnya bagi yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan pesisir pantai.
“Memasuki musim hujan, bencana alam seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang maupun gelombang tinggi bisa terjadi, karena itu masyarakat diminta senantiasa waspada bencana,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Muhammad Rum di Mataram, Rabu (11/10/2017).
Mengingat bencana yang diakibatkan oleh peristiwa alam tidak bisa dicegah dan ditebak kapan akan terjadi, karena itu kewaspadaan adalah salah satu cara sebisa mungkin terhindar dari semua bencana tersebut.
Kewaspadaan penting dilakukan, supaya ketika ada potensi bencana masyarakat bisa siap mengamankan diri ke tempat lebih aman.
“Apalagi dengan kondisi kerusakan hutan NTB sekarang yang cukup memprihatinkan, bencana longsor penting diwaspadai,” katanya.
Berdasarkan data BPBD NTB, sejumlah titik rawan bencana antara lain, Pulau Lombok jalur Mataram Senggigi yang merupakan jalur pariwisata, kemudian Mataram Rembige, Tanjung dan Pusuk, serta Sambelie dan Sembalun.
Sementara di Pulau Sumbawa, daerah yang rawan bencana longsor berada di DAS Berambeh, Moyo, Lendang Guar Lunyuk, dan Seteluk Taliwang. Kemudian di Kabupaten Dompu ada di Madapangga, Madatumpu dan Kabupaten Bima ada di Paradu.
“Daerah rawan longsor itu disebabkan karena alih fungsi lahan hutan dan perbukitan secara sembarangan, khususnya di kawasan daerah wisata di Pulau Lombok. Alih fungsi lahan hutan termasuk perbukitan di kawasan Senggigi Lombok Barat untuk pembangunan hotel dan villa,” katanya.
Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mulai melanda sebagian wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), baik wilayah Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa.
Selain hujan, masyarakat juga diminta mewaspadai terjadinya gelombang tinggi, khususnya bagi masyarakat pesisir pantai dan nelayan. Tinggi gelombang di beberapa titik bervariasi, Selat Lombok tinggi gelombang 0,5 – 2,0 meter, Selat Alas tinggi gelombang 0,5 – 2,0 meter, Selat Sape tinggi gelombang 0,25 – 2,0 meter, perairan Utara NTB tinggi gelombang 0,25 – 1,0 meter, dan perairan selatan NTB tinggi gelombang 0,5 – 2,5 meter.
“Sebagai peringatan, untuk tinggi gelombang dengan ketinggian 1,25 – 2,0 meter sangat berbahaya bagi perahu nelayan. Untuk gelombang dengan ketinggian 2,0 – 3,0 berbahaya bagi perahu nelayan dan tongkang, untuk tinggi gelombang 3,0 – 4,0 berbahaya bagi perahu nelayan, tongkang dan fery. Di atas 4,0 sangat berbahaya bagi semua kapal,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Aprilia Mustika Dewi.
Sementara angin permukaan bertiup dengan variasi arah dominan dari Tenggara hingga Barat Daya, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 30 km/jam, di mana suhu udara berkisar antara 21 hingga 34 derajat celsius.