Kerja Sama Pegiat TB dan HIV Mutlak Dilakukan
MAUMERE – Kerjasama antara pegiat penyakit TB (Tuberculosis) dan HIV di Kabupaten Sikka perlu dilakukan. Berdasarkan temuan di lapangan, orang dengan TB ternyata beresiko tinggi terinfeksi HIV. Sebaliknya orang yang hidup dengan HIV beresiko terkena TB serta kebanyakan meninggal akibat mengidap TB.
Demikian disampaikan Yohanes Siga saat ditemui Cendana News di sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka Jumat (6/10/2017) siang terkait penanggulangan penyakit HIV.
“Pada sisi lain TB masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global dimana Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai beban TB yang besar di antara 5 negara lain yaitu India, China, Nigeria dan Pakistan,” ungkap Yan sapaannya.
Untuk itu, tambah Yan, KPA Sikka mencoba merangkul para pegiat penyakit TB dan HIV seperti Dinas Kesehatan, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta berbagai rumah sakit dan LSM dengan membahas masalah ini di kantor Dinas Kesehatan, belum lama ini.
“Kami ingin memberikan pemahaman pada peserta bahwa HIV merupakan ancaman serius bagi kemanusiaan. Penyakit TB pengidapnya akan berbahaya apabila tidak ditangani secara serius,” tegasnya.
Selain itu dengan kegiatan ini, tandas Yan, KPA Sikka ingin meningkatkan kerja sama dengan aliansi dari pegiat atau komunitas TB-HIV dalam melaksanakan advokasi peningkatan pelaksanaan program dan keberlangsungan upaya penanggulangan TB-HIV di daerah.
“Kami ingin agar adanya komitmen bersama penanggulangan TB dan HIV di daerah sehingga semua elemen bisa bekerja dengan lebih terarah dalam menangulangi dan menurunkan tingkat penyakit TB dan HIV,” terangnya.
Selain itu lanjut Yan, diharapkan, agar meningkat koordinasi dan kerjasama serta aliansi dari pegiat atau komunitas TB-HIV dalam melaksanakan advokasi peningkatan pelaksanaan program dan keberlangsungan upaya penanggulangan TB-HIV di daerah. Serta adanya komitmen bersama penanggulangan TB HIV di daerah.
Yuyun Darti Baetal, bagian program KPA Sikka menjelaskan, tantangan yang perlu menjadi perhatian yaitu meningkatnya kasus TB-MDR, TB-HIV, TB dengan DM, TB pada anak serta masyarakat rentan lainnya.
Hal ini, sebut Yuyun, memacu pengendalian TB nasional terus melakukan intensifikasi, akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi program dimana situasi penanggulangan TB Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang cukup besar dengan beban prevalensi 660 per 100.000 penduduk.
“Pemerintah Indonesia telah mencanangkan target ambisius yang dikenal dengan 90:90:90 untuk pengendalian epidemi AIDS di Indonesia yang mengandung makna bahwa 90 persen orang yang terinfefksi HIV bisa mengetahui statusnya,” jelasnya.
Selain itu, 90 persen dari mereka yang mengetahui status HIV positif bisa mendapatkan pengobatan serta 90 persen dari ODHA yang sedang dalam pengobatan ARV bisa berhasil dalam terapi sehingga HIV dalam tubuh ditekan sampai tingkat tidak terdeteksi.
Prevalensi HIV secara nasional diestimasikan sebesar 0.41 persen (2013) pada kelompok usia 15 sampai 49 tahun. Namun, khusus untuk provinsi Papua dan Papua Barat menunjukkan epidemi general tingkat rendah dengan prevalensi stabil 2.3 persen (2013).
“Di Kabupaten Sikka HIV dan AIDS ditemukan 3 kasus pada tahun 2003 kini meningkat secara kumulatif menjadi 651 kasus pada akhir bulan Juni 2017 yang terdapat pada semua jenis pekerjaan. Pengidap HIV dan AIDS terbanyak menurut pekerjaan adalah ibu rumah tangga, wiraswasta, petani, sopir bahkan yang patut disesalkan adalah temuan kasus pada bayi sementara yang meninggal karena AIDS juga cukup banyak. Kurang lebih sudah mencapai 180-an kasus,” paparnya.
Hal ini, tegas Yuyun, menunjukkan bahwa case holding dan treatment holding belum sesuai dengan harapan, masih banyak kasus yang hilang tidak dicari untuk dilanjutkan pengobatan sehingga tercatat bahwa yang loss follow up paling tinggi di NTT.
