Kemarau, Harga Jual Ternak di Gunungkidul, Anjlok

YOGYAKARTA – Harga jual ternak di wilayah pelosok Gunungkidul anjlok selama musim kemarau ini. Hal itu disebabkan banyaknya warga menjual ternak mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini seperti yang terjadi di kecamatan Saptosari, yang berada di sisi selatan Gunungkidul. Tak sedikit warga di wilayah yang hampir selalu dilanda kekeringan setiap tahun ini, menjual ternak mereka untuk membeli air bersih dan pakan ternak.  Sayangnya, harga jual ternak warga dihargai sangat rendah oleh pedagang.

Salah seorang warga dusun Pringwulung, Desa Krambilsawit, Saptosari, Gunungkidul, Saryono membenarkan hal tersebut. Menurutnya, tak sedikit warga di desanya memilih menjual sebagian hewan ternak mereka agar bisa memenuhi kebutuhan hidup selama musim kemarau. Tak sedikit pula warga yang memilih untuk tidak memelihara hewan ternak selama pakan sulit didapatkan.

“Harga jual ternak setiap kemarau seperti ini selalu turun. Saya saja kemarin menjual kambing hanya dihargai Rp300 ribu untuk anakan dan Rp700 ribu untuk indukan. Padahal, normalnya anakan bisa sampai Rp700 ribu dan indukan Rp1,5 juta,” keluhnya.

Selain untuk membeli air bersih untuk keperluan sehari-hari, tak sedikit warga menjual kambing untuk membeli pakan ternak lainnya seperti sapi. Pasalnya, saat musim kemarau, pakan ternak sulit didapatkan. Mereka pun harus membeli rumput seperti daun jagung atau daun kacang dari pedagang yang mendatangkan barang dari luar daerah.

“Di sini rendeng (daun kacang) atau jagungan (daun jagung) dijual Rp20 ribu per ikat. Padahal, satu ekor sapi itu sekali makan paling tidak butuh 2-3 ikat agar kenyang. Sehari bisa makan 2 kali. Jadi, biayanya sangat besar,” katanya.

Mahalnya harga air bersih serta pakan ternak ini dikatakan hampir selalu terjadi setiap tahunnya. Sehingga anjloknya harga ternak tak bisa dihindarkan. Saryono hanya bisa berharap, pemerintah dapat mengontrol harga ternak tersebut agar tidak mudah dipermainkan para pedagang.

Lihat juga...