Karedok, Menu Sehat dan Menyegarkan

LAMPUNG — Pecinta kuliner tradisional pastinya tidak asing dengan makanan tradisional khas Sunda yang dikenal dengan karedok atau kredok yang kerap disajikan oleh pedagang makanan tradisional bersama dengan pecel.

Berbeda dengan pecel yang menggunakan sayuran matang, sayuran yang disajikan dalam menu karedok berasal dari sayuran mentah yang masih segar. Pedagang kerap menyediakan sayuran segar tersebut di lemari pendingin dan baru disajikan ketika ada pelanggan yang memesan menu karedok.

Sumarni (45), salah satu pedagang kuliner tradisional pecel dan karedok menyebut, meski dirinya warga asli Jawa Tengah yang merantau ke Lampung, tepatnya di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, namun masyarakat yang mayoritas bersuku Sunda menjadikan dirinya mulai belajar membuat kuliner tradisional tersebut.

Sejak 2011, dirinya pun mantap berjualan karedok serta pecel, lengkap dengan makanan tradisional lain, di antaranya bakwan, tahu isi serta berbagai gorengan, melayani masyarakat terutama para pekerja Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) serta pengemudi yang menyempatkan diri mampir di warung miliknya.

“Awalnya saya tidak bisa membuat menu karedok, namun setelah banyak belajar menu tersebut banyak disajikan sebagai kuliner khas ketika ada hajatan resepsi pernikahan sebagai pelengkap menu hingga akhirnya semakin dikenal masyarakat dan cocok di lidah,” terang Sumarni, saat ditemui tengah meracik karedok di warung sederhana miliknya di Desa Sukabaru, Sabtu (14/10/2017).

Sumarni menyebut, sayuran karedok memiliki bahan-bahan segar, di antaranya kol putih, tauge, mentimun, kacang panjang, kerap ditambahi dengan irisan terong bulat, leunca atau sejenis tomat kecil serta bayam dan kemangi yang masih cukup segar.

Bahan-bahan tersebut diiris dalam ukuran kecil-kecil sebanyak satu porsi, sembari menyiapkan berbagai bumbu saus kacang layaknya bumbu pada pembuatan pecel yang akan diracik sebagai penyedap rasa karedok.

Untuk menjaga kesegarannya, sebagian besar sayuran tersebut merupakan hasil tanaman sang suami di kebun dan areal persawahan, di antaranya kacang panjang, kemangi, terong, sementara sayuran kol, terong serta bahan bumbu yang tidak ditanam sang suami dibelinya di pasar.

Setelah sayuran segar karedok selesai diiris tipis-tipis dan disiapkan pada piring tersendiri, Sumarni menyebut bumbu saus kacang sebagai penyedap rasa karedok akan disiapkan di atas cobek terbuat dari batu dan muntu atau gerusan dari batu untuk menghaluskan bumbu saus kacang.

Bumbu saus kacang untuk karedok sudah dipersiapkannya dalam wadah khusus, di antaranya kacang tanah yang sudah digoreng secukupnya, bawang putih dua siung, cabai rawit merah, kencur, terasi, garam, gula merah, air putih matang serta jeruk limau sebagai penyegar rasa.

“Semua bumbu diulek dengan cobek hingga halus, selanjutnya akan menjadi saus kacang dengan ditambah campuran perasan jeruk limau hingga bumbu merata dan semua sayuran yang diiris siap dimasukkan dalam bumbu,” terang Sumarni.

Sayuran yang disiapkan dalam piring khusus tersebut selanjutnya dimasukkan dalam cobek yang telah berisi saus kacang, lalu dicampurkan hingga merata dengan tambahan lontong atau nasi tergantung permintaan pelanggan.

Sebagai sentuhan akhir, karedok yang sudah siap disajikan dalam piring diberi taburan bawang goreng serta tambahan kerupuk sesuai selera konsumen dengan pilihan kerupuk emping melinjo, kerupuk udang atau kerupuk opak singkong. Beberapa pelanggan bahkan menambahkan menu bakwan jagung, tempe goreng serta tahu isi goreng yang cocok disantap dengan karedok.

Hendi, salah satu pecinta menu Karedok, mengaku lebih menyukai menu karedok karena bumbu yang langsung dibuat pada saat disajikan lengkap dengan sayuran segar yang disiapkan secara khusus saat akan dipesan.

Menu karedok diakuinya kerap menjadi menu sarapan dan makan siang sebelum melakukan aktivitas, karena bumbu rempah dari beras kencur bermanfaat untuk menghangatkan badan. “Kondisi cuaca dingin atau hujan seperti saat ini saya biasanya minta bumbu kencurnya ditambah, sehingga bisa menghangatkan badan. Selain mengenyangkan menu karedok juga berkhasiat”, beber Hendi.

Selain menyantap menu karedok dengan kerupuk opak singkong, Hendi menyukai menu karedok dengan makanan tradisional lain, di antaranya kerupuk udang, bakwan atau tempe goreng. Saat dirinya tak bisa menikmati menu karedok bersama teman-temannya yang bekerja di proyek Jalan Tol Trans Sumatera, Hendi kerap memesan karedok untuk dibungkus sebagai menu makan siang.

Cukup membayar Rp7.000 per porsi, ia mengaku menu karedok menjadi pilihan kuliner tradisional yang menggoyang lidah dan melepas kerinduannya akan Tasikmalaya, tanah kelahirannya.

Lihat juga...