ICCTF Klaim SRI Tingkatkan Produksi Padi Dua Kali Lipat

KUPANG — Direktur Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Tonny Wagey mengklaim, metode SRI (Systern of Rice Intensification) dapat meningkatkan produktivitas menjadi 12 ton per hektar pada satu musim tanam.

“SRI merupakan metode berkelanjutan untuk pertumbuhan tanaman dengan menggunakan bibit berumur muda (7 hari setelah pembenihan), jarak tanam lebar, pupuk organik, irigasi terputus-putus dan beberapa penyiangan, yang memiliki produktivitas padi lebih tinggi dibandingkan dengan pengelolaan sistem konvensional,” jelasnya di Kupang, Rabu (25/10/2017).

Baca juga: Tanam Padi SRI Cocok di NTT

Penanaman padi dengan sistem konvensional kata Tonny, menggunakan bibit berumur lebih panjang yakni 25 hari setelah pembenihan, penggenangan air secara terus-menerus, jarak tanam rapat dan pemakaian pupuk kimia dan rata-rata menghasilkan.

Direktur Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Tonny Wagey. Foto : Ebed de Rosary

Budidaya padi SRI memiliki kelebihan yaitu hemat air, hemat bibit, hemat biaya, hemat waktu, dan organik sehingga rendah emisi dan ramah lingkungan sehingga upaya budidaya padi SRI ini merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.

“Budidaya padi SRI cocok diterapkan di Nusa Tenggara Timur yang beriklim kering, dipengaruhi angin musim yang sering mengalami kesulitan dalam mendapatkan hasil panen yang konsisten,” terangnya.

Metode SRI lanjut Tonny, menjawab tantangan petani terutama di daerah kering dan rentan, sebagai strategi adaptasi perubahan iklim yang paling tepat guna.

“Program di NTT ini merupakan salah satu dari 42 project yang dikembangkan di Indonesia dan satu-satunya dan pertama di luar Jawa dan teknologi ini bisa memberikan hasil nyata. Tantangan terbesarnya bagaimana memasukan program ini dalam kegiatan pemerintah dan di NTT kondisi fisik biologisnya berbeda dimana alamnya kering dan curah hujan juga rendah,” ungkapnya.

Tantangan lain yang dihadapi dlaam pengembangan metode SRI ini di daerah beber Tonny yaitu masalah regulasi dan pendanaan sementara untuk teknologi pihaknya selalu menantang peneliti dalam hal ini UGM agar bisa menghasilkan inovasi yang lebih baik dan bisa diterapkan bukan sekedar ada di laboratorium.

Sementara itu, Johan Boli sekertaris desa Baumata kecamatan Taebenu yang ditemui di kantor desa Baumata menambahkan, teknologi yang diterapkan ini memang sangat bagus namun daerahnya sendiri memiliki air yang melimpah.

“Memang perlu dipikirkan apakah penggunaan metode ini saat musim kering ataukah juga saat musim hujan,” sebutnya.

Baca juga: Petani NTT Diimbau Waspadai ‘Hujan Tipuan’

Metode ini kata Johan, memang hasilnya dua kali lipat tapi para petani juga harus terus didampingi dan diarahkan agar bisa familiar dan menerapkannya sebab banyak yang masih menggunakan cara tanam tradisional atau konvensional.

“Metodenya bagus tapi perlu didampingi terus menerus agar petani bisa menggunakannya dan kalau bisa dalam setahun harus tiga atau empat kali tanam agar bisa mendatangkan kesejahteraan bagi petani,” pintanya.

Lihat juga...