Harga Jagung Lamsel Membaik, Meski Produksi Merosot
LAMPUNG — Sejumlah petani penanam komoditas jagung di beberapa kecamatan di Lampung Selatan mengakui membaiknya harga jagung dibandingkan masa tanam sebelumnya.
Harga jagung berkisar Rp3.500 hingga 3.600 per kilogram untuk jagung pipilan dan pada masa panen September hingga Oktober mencapai angka Rp4.000 per kilogram. Sementara jagung gelondongan per karung semula seharga Rp70 ribu kini mulai merangkak naik hingga Rp90 ribu per karung.
Sayangnya kata salah seorang petani, Sutiah, membaiknya harga jagung dibandingkan masa panen sebelumnya diakui terjadi justru berbanding terbalik dengan produksi jagung yang dihasilkan justru menurun oleh petani penanam jagung seperti dirinya.
Wanita yang menanam jagung pada lahan seluas setengah hektare tersebut bahkan mengaku pada masa tanam sebelumnya ia bisa memperoleh jagung gelondongan 150 karung pelet namun pada masa panen Oktober ia hanya memperoleh sekitar 100 karung.
“Saat masa pembuahan terjadi tanaman jagung yang kami tanam musim kemarau melanda imbasnya kualitas biji jagung tidak normal hasilnya menurun ditambah dengan hama lalat buah yang mengakibatkan produksi jagung menurun,” ungkap Sutiah salah satu petani penanam jagung di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pemanenan jagung miliknya, Senin (2/10/2017)

Sebagai upaya menyelamatkan tanaman jagung yang ia miliki bersama Jono sang suami ia bahkan terpaksa memanfaatkan air Sungai Way Muloh untuk memberikan pasokan air pada lahan pertanian jagung yang ditanamnya menghindari gagal panen.
Sutiah menyebut jika dibandingkan masa tanam sebelumnya buah jagung yang dihasilkan bahkan cukup berbeda dengan buah yang lebih rapat sementara pada masa tanam tahun ini lebih jarang pada bagian tongkol.
Merosotnya hasil tanaman jagung saat kemarau meski harga membaik namun Sutiah menyebut masih belum bisa menutupi biaya operasional pengolahan,pupuk,obat serta paska panen yang mengandalkan tenaga buruh petik. Sebagian besar petani bahkan menyebut melakukan pola tanam dengan sistem mandiri sebagian bergantung pada bos jagung dan sebagian melakukan pola kemitraan.
Ia menyebut idealnya harga jagung di level petani bisa mencapai di atas Rp4.000 namun dengan adanya rantai distribusi yang panjang hingga ke pabrik pengolahan jagung membuat harga jagung selalu naik turun menyesuaikan kebutuhan pakan. Saat pasokan jagung sumber pakan ternak unggas berlimpah ia menyebut harga jagung cenderung turun dan akan naik saat permintaan pakan unggas meningkat.
Joni, petani di Desa Sumbernadi Kecamatan Ketapang menyebut melakukan pola penanaman jagung menggunakan sistem kemitraan dengan perusahaan produsen pembuatan pakan ternak di Kecamatan Ketibung salah satunya PT Vasham. Kemitraan dengan perusahaan pakan ternak berbahan jagung di antaranya pakan unggas dan pakan ternak lain tersebut cukup menguntungkan bagi petani.
“Kami mendapatkan bantuan permodalan bibit dan kemudahan dalam proses pemanenan dengan adanya alat pemanen serta pemitil jagung dan jaminan harga yang lebih baik, ” papar Joni.
