Delapan Desa Nelayan di Bangka Barat Tolak Operasional Kapal Isap di Rambat
MUNTOK — Perwakilan nelayan dari delapan desa menemui Bupati Bangka Barat Parhan Ali untuk meminta dukungan atas aksi mereka menolak aktivitas tambang bijih timah yang akan dilakukan kapal isap di perairan laut Desa Rambat, Kecamatan Simpangteritip.
“Lebih dari 80 persen warga Desa Airnyatoh berprofesi sebagai nelayan yang menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan di perairan tersebut. Aktivitas kapal isap akan merusak lokasi tangkap nelayan,” kata perwakilan nelayan Desa Airnyatoh, Alibaba, di Muntok, Jumat (6/10/2017).
Alibaba bersama perwakilan nelayan delapan desa menemui Bupati Parhan Ali di ruang operasional Kompleks Perkantoran Pemkab Bangka Barat. Hadir juga Kapolres AKBP Hendro Kusmayadi, Sekda Yunan Helmi, Kasi Intel Kajari Yuni Hariaman, Asisten M Soleh, dan Camat Simpangteritip.
Perwakilan nelayan itu berasal dari Desa Airnyatoh, Pangek, Pelanggas, Simpanggong, Peradong, Rambat, Pebuar, dan Airlimau.
Alibaba mengatakan operasional kapal isap di laut itu akan mencemari lingkungan karena limbah berupa lumpur tidak diolah dan menyebar menutup dasar perairan.
“Limbah berupa sedimen lumpur bercampur pasir itu akan menutup permukaan dasar laut dan merusak terumbu karang sehingga membunuh ekosistem dan biota laut lainnya,” kata dia.
Dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, menurut dia, tentunya akan semakin menyulitkan nelayan mendapat ikan dan menimbulkan kerugian bagi sebagian besar warga di daerah itu.
Menurut dia, laut adalah sumber rezeki untuk menghidupi keluarga, bahkan dari hasil mencari ikan banyak nelayan yang mampu menyekolahkan anak-anaknya ke luar daerah dan luar negeri.
“Kami berharap pemkab mendukung penolakan operasional kapal isap di perairan tersebut dan memberikan jaminan nyata sehingga nelayan bisa beraktivitas dengan tenang dan aman,” katanya.
Direktur Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Suhaidir Kojek mendukung komitmen warga nelayan dalam upaya menjaga kelestarian laut.
“Gerakan swadaya warga nelayan ini patut diapresiasi dan didukung karena mereka secara sadar ingin menjaga kelestarian lingkungan yang selama ini telah memberikan kehidupan bagi nelayan,” kata Suhaidir usai mengikuti audiensi tersebut.[Ant]