BUJUMBURA – Rwanda dan Belgia disebut ada di balik pengungsi bersenjata yang diketahui akan melakukan kudeta di Burundi pada 2015. Kedua Negara disebut-sebut bekerjasama dalam program mempersenjatai pengungsi tersebut.
Asisten Menteri Urusan Dalam Negeri Burundi Therence Ntahiraja mengtakan, kedua Negara terebut melakukan kerjasama untuk mempersenjatai pengungsi. Pengungkapan tersebut dilakukan dalam satu aksi demontrasi yang dilancarkan oleh ribuan warga di jalan-jalan di Ibu Kota Burundi, Bujumbura.
Tujuan demonstrasi tersebut ialah mencela peran Rwanda dan Belgia dalam mendukung perancang kudeta dan mempersenjatai pengungsi yang tinggal di Tanzania dan Rwanda.
“Kedua negara itu bertanggung-jawab atas pembunuhan beberapa pemimpin Burundi seperti pahlawan kemerdekaan kita Pangeran Louis Rwagasore. Kami menyeru PBB agar memberitahu kedua negara tersebut agar berhenti memprovokasi kami,” kata Ntahiraja, Minggu (15/10/2017).
Kedua negara itu membagikan senjata kepada pengungsi Burundi yang tinggal di Tanzania dan Rwanda. Dan beberapa hari sebelum aksi demontrasi, telah berhasil diamankan sedikitnya 42 senjata dari salah satu kamp pengungsi.
“Tiga hari lalu, lebih dari 42 senjata disita di dalam kamp pengungsi Nduta di Tanzania dan kurang dari satu bulan lalu, sembilan orang ditangkap saat memberitahu pengungsi di dalam Kamp Pengungsi Nduta agar tidak pulang ke tempat tinggal mereka di Burundi,” kata Ntahiraya.
Hubungan antara Burundi dan kedua negara tersebut telah memburuk sejak April 2015. Yakni ketika Presiden Burundi Pierre Nkurunziza mengambil keputusan kontroversial mencalonkan diri lagi buat masa jabatan ketiga. Tindakan itu dipandang melanggar undang-undang dasar nasional Burundi dan Kesepakatan Arusha 2000 yang mengakhiri perang saudara selama satu dasawarsa.
Pada Desember 2016, Pemerintah Burundi menarik duta besar Burundi untuk Belgia sehubungan dengan memburuknya hubungan antara kedua negara. Belgia telah dituduh menampung beberapa warga negara Burundi yang melancarkan kudeta yang gagal pada 13 Mei 2015.
Pemerintah Burundi juga menuduh Pemerintah Belgia mempengaruhi semua keputusan yang diambil oleh Uni Eropat terhadap warga Burundi dan Pemerintah Burundi. Sementara itu, Burundi menuduh Rwanda menampung dan mendukung pelaku kudeta. (Ant)