Belut Sawah Lebak Lenyap, Diduga Terpapar Pupuk Kimia

LEBAK — Populasi belut sawah (Monopterus Albus) pada musim tanam padi di Kabupaten Lebak, Banten, menghilang sehingga berdampak terhadap konsumsi masyarakat di daerah.

“Kami menduga menghilangnya populasi biota belut sawah itu akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan,” kata Samian (50) seorang petani di Blok Cibungur Pasir Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Jumat (20/10).

Pada era 1980-an belut menjadikan andalan konsumsi masyarakat untuk bahan makanan lauk pauk juga kerajinan makanan camilan.

Populasi belut juga dijadikan sumber ekonomi petani, karena hasil tangkapannya bisa dijual ke pasar.

Bahkan, harga belut bisa mencapai Rp50.000/Kg karena memiliki protein cukup tinggi.

Namun, saat ini peredaran populasi belut semakin punah hingga menghilang akibat banyak petani menggunakan bahan kimia.

Saat ini, dirinya sudah tidak pernah lagi menemukan belut di dalam pematang sawah maupun aliran irigasi.

“Petani dan warga jika musim tanam padi biasanya melakukan perburuan belut, namun kini menghilang,” katanya menjelaskan.

Menurut Samian, menghilangnya populasi belut itu akibat prekuensi serangan hama cenderung meningkat, terlebih cuaca lembab akibat curah hujan tinggi.

Cuaca lembab itu biasanya berkembang biak hama wereng batang coklat (WBC),sehingga petani melakukan pembasmian hama melalui pestisida kimia.

Disamping itu juga untuk menyuburkan lahan pertanian menggunakan pupuk non-organik.

Penggunaan pupuk non-organik dan pestisida kimia itu tentu berdampak buruk terhadap kelangsungan ekosistem populasi belut.

“Kami berharap petani kedepan bisa menggunakan pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan dengan menggunakan organik dari kotoran ternak maupun pepohonan,” katanya.

Begitu juga Armadi (55) seorang petani Desa Sidomanik Kabupaten Lebak mengatakan dirinya kini sudah tidak menemukan lagi populasi belut sawah maupun jenis ikan sungai lain yang biasa masuk ke areal persawahan.

Sebelumnya, kata dia, populasi belut dan ikan sungai, seperti betik, sepat, paray,l ele dan ranca melimpah.

Namun, saat ini areal persawahan tidak pernah lagi muncul bioata belut dan ikan sungai itu.

Kemungkinan menghilangnya ikan sungai itu akibat perburuan menggunakan bahan kimia, seperti cangkaleng juga penggunaan aliran setrom (listrik).

Mereka warga masih melakukan perburuan dengan cara itu sehingga banyak anak-anak ikan mati.

“Kami berharap warga bisa menjaga ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia maupun penggunaan aliran listik,” katanya.

Kepala Bidang Komunikasi Dinas Lingkungan dan Kebersihan Kabupaten Lebak Iwan Sutikno mengatakan menghilangnya populasi belut akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebih sehingga mengancam menghilangnya ekosistem populasi belut sawah.

Selain itu juga menghilangnya populasi belut sawah dipicu akibat kondisi keasaman tanah yang jauh berkurang dampak pupuk kimia dan pestisida pembasmi hama.

Apalagi, saat ini lumpur sawah cenderung lebih basa dengan suhu tinggi yang tidak cocok dengan populasi habitat belut.

“Kami berharap petani juga bisa menjaga ramah lingkungan dengan tidak mengandalkan terhadap pupuk dan pestisida yang menggunakan bahan kimia,” katanya (Ant).

 

Lihat juga...