Bantuan Air Bersih Diharapkan Tekan Penjualan Ternak di Gunungkidul
YOGYAKARTA — Adanya bantuan suplai air bersih dari anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi SE, Titiek Soeharto, melalui Gerakan Masyarakat Sehat Hijau Sejahtera (GEMARSHS), diharapkan dapat mengatasi kesulitan warga yang mengalami kekeringan di Kabupaten Gunungkidul.
Selain dapat membantu warga agar tak perlu lagi membeli air bersih, bantuan itu secara tidak langsung juga diharapkan dapat menekan penjualan ternak milik warga akibat tingginya biaya hidup saat musim kemarau.
“Kita harapkan ini juga dapat mengurangi tingginya angka penjualan ternak, untuk membeli air bersih dan pakan yang cukup mahal saat musim kemarau. Paling tidak hingga nanti datang musim hujan, dimana dedaunan mulai tumbuh dan air hujan bisa dimanfaatkan,” ujar Koordinator Lapangan penyaluran bantuan, Slamet, yang juga Amggota Fraksi Golkar DPRD DIY, Slamet.
Bekerjasama dengan Yayasan DAKAB, Rumah Aspirasi Titiek Soeharto, menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang mengalami musibah kekeringan di Kabupaten Gunungkidul. Bantuan air bersih diberikan pada 10 kecamatan dengan 66 Desa di 30 titik dusun. Setiap titik mendapatkan bantuan sebayak 10 tangki. Sehingga total pemberian bantuan air bersih mencapai sekitar 300 tanki.
“Bantuan air bersih ini kemarin bahkan bertambah, seperti di Kecamatan Tepus, Tanjungsari, dan Girisubo. Dari plafon yang semula 40 tanggki kita tambah jadi 65 tangki, karena memang masih membutuhkan. Untuk suplai bantuan air bersih paling banyak diterima kecamatan Girisubo, yakni sebanyak 25 tangki,” katanya di sela penyaluran tahap kudua.
Pada penyaluran tahap pertama Sabtu (14/10/2017),penyerahan air bersih dilakukan di kecamatan Saptosari, Panggang dan Purwosari, Gunungkidul. Tahap kedua Minggu (15/10/2017), bantuan diberikan untuk kecamatan Tanjungsari, Tepus Rongkop dan Girisubo. Sementara pada Senin (16/10/2017) bantuan diberikan untuk kecamatan Nglipar, Patuk, Gedangsari dan Ngawen.
“Tidak hanya tiga hari saja, selama seminggu ke depan kita terus mensuplai air bersih ke berbagai titik lokasi di Gunungkidul,” imbuhnya.
Sebagainana diketahui, meski mulai turun hujan, sebagian besar masyarakat di Kabupaten Gunungkidul masih kesulitan mendapatkan air bersih hingga saat ini. Hal itu disebabkan mengeringnya telaga-telaga sebagai tampungan air, serta tidak maksimalnya pemanfaatan aliran air PAM yang menjadi tumpuan warga setiap musim kemarau.
Wargapun tak jarang harus menjual ternak mereka dengan harga murah untuk membeli kebutuhan air bersih serta pakan ternak yang selalu naik saat musim kemarau.